Analisis Kepuasan Pengguna Terhadap Penerapan Sistem Informasi Manajemen Puskesmas Di Puskesmas Sibabangun Menggunakan Metode EUCS Tahun 2023

DOWNLOAD FILE

Deby Natalia Simatupang1*, Theofilus Zagoto2
1*,2Program Studi MIK, STIKes Santa Elisabeth Medan, Kota Medan, Indonesia
Email: 1* debbynathalia759@gmail.com , 2Zagototeo@gmail.com

Abstract

Puskesmas services are progressing day by day, making them increasingly complex, therefore a puskesmas management information system is needed that is able to guarantee the availability of data quickly, accurately, up to date, continuously and responsibly. The community health center management information system (SIMPUS) is a community health center management application whose main function is as a tool for recording, processing and presenting information on all patient data from initial registration to reporting. Every Community Health Center is obliged to implement (SIMPUS) both electronic and non-electronic which is part of the health information system. One method used to evaluate the success of a system as seen from user satisfaction is End User Computing Statistics (EUCS). The EUCS definition of an information system itself is an overall evaluation of information system users with more emphasis on end user satisfaction (statisfaction) with 5 satisfaction assessment variables including content, format, accuracy, timeliness, ease of use. This research was conducted at the Sibabangun Health Center, Sibabangun sub-district, Central Tapanuli district in 2023, involving 30 respondents actively using SIMPUS with the EUCS method by sending questionnaires using Google Form to the respondents with the research results obtained being that on average respondents were satisfied with the implementation of SIMPUS but not closes the possibility that there are still many problems experienced by users, especially in the dimensions of accuracy and ease of use, with problems with system errors and ease of use which needs to be considered by providing training to all SIMPUS users.

Keywords: SIMPUS, User Statisfaction, EUCS

Abstrak

Pelayanan Puskesmas semakin hari mengalami kemajuan sehingga semakin kompleks, maka dari itu diperlukan sistem informasi manajemen puskesmas yang mampu menjamin ketersediaan data secara cepat, akurat, terkini, berkelanjutan dan dapat dipertanggung jawabkan. Sistem informasi manajemen puskesmas (SIMPUS) adalah suatu aplikasi manajemen puskesmas yang fungsi utamanya sebagi alat dalam pencatatan, pengolahan dan penyajian informasi semua data pasien dari awal melakukan pendaftaran hingga pelaporan. Setiap Puskesmas wajib melaksanakaan (SIMPUS) baik elektronik maupun non elektronik yang merupakan bagian dari sistem informasi kesehatan. Salah satu metode yang digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan suatu sistem yang dilihat dari kepuasan pengguna yaitu End User Computing Statisfaction (EUCS). Definisi EUCS dari sebuah sistem informasi sendiri merupakan evaluasi secara keseluruhan dari para pengguna sisitem informasi dengan lebih menekankan pada kepuasan (statisfaction) pengguna akhir dengan 5 variabel penilaian kepuasan diantaranya yaitu content, format, accuracy, timeliness, ease of use. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Sibabangun kecamatan sibabangun kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2023 yang melibatkan 30 responden aktif menggunakan SIMPUS dengan metode EUCS dengan mengirimkan kuisioner menggunakan google form kepada para responden dengan hasil penelitian yang didapat adalah bahwa rata- rata responden puas dalam penerapan SIMPUS tersebut namun tidak menutup kemungkinan masih banyak kendala yang dirasakan oleh pengguna terutama dalam dimensi accuracy dan easy of use, dengan kendala system yang erorr serta kemudahan pengguna yang terbilang perlu diperhatikan dengan memberikan pelatihan kepada seluruh pengguna SIMPUS tersebut.

Kata Kunci: SIMPUS, Kepuasan pengguna, EUCS

PENDAHULUAN

Strategi e-kesehatan nasional adalah suatu pendekatan secara menyeluruh untuk perencanaan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di bidang kesehatan secara nasional (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Penggunaan teknologi informasi di bidang kesehatan yang menjadi tren dalam pelayanan kesehatan secara global adalah rekam kesehatan elektronik / Electronik Health Record (EHR) (Hikmah and Farlinda, 2014).

EHR bergantung pada electronic medical record (EMR) yang berada pada tempat pelayanan kesehatan, dan EMR tidak akan optimal untuk dapat dimanfaatkan bila tidak terintegrasi dengan EHR (Hikmah and Farlinda, 2014). EMR memiliki sifat yang membedakan mereka dari sistem informasi klinis lainnya. EMR dirancang untuk menangkap dan menyajikan kembali data keadaan klinis pasien secara akurat. EMR sudah banyak dipakai di berbagai rumah sakit di dunia sebagai alternatif pengganti atau tambahan rekam medik kesehatan berbentuk kertas.

Saat ini di Indonesia EMR dikenal dengan Rekam Medik Elektronik (RME) (Hikmah and Farlinda, 2014). Dalam penjelasan Pasal 46 ayat (1) UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, yang dimaksud dengan rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien dan Rekam Medis Elektronik (RME) merupakan catatan rekam medis pasien seumur hidup pasien dalam format elektronik tentang informasi kesehatan seseorang yang dituliskan oleh satu atau lebih petugas kesehatan secara terpadu dalam tiap kali pertemuan antara petugas kesehatan dengan klien.

Rekam medis elektronik bisa diakses dengan komputer dari suatu jaringan dengan tujuan utama menyediakan atau meningkatkan perawatan serta pelayanan kesehatan yang efisien dan terpadu (Potter & Perry, 2009). Rekam medis eletronik memiliki berbagai macam bentuk, salah satu bentuk rekam medis elektronik adalah Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) (Agustine and Pratiwi, 2017).

Peningkatan kualitas sistem informasi kesehatan dimulai dari membangun sistem informasi di Puskesmas, sebagai unit pelayanan dasar menghasilkan data kesehatan. Puskesmas menjadi sumber data primer dari sistem informasi kesehatan yang memegang peranan penting dalam sistem informasi kesehatan daerah (Kemenkes, 2012).

Pelayanan Puskesmas semakin hari mengalami kemajuan sehingga semakin kompleks, maka dari itu diperlukan sistem informasi manajemen puskesmas yang mampu menjamin ketersediaan data secara cepat, akurat, terkini, berkelanjutan dan dapat dipertanggung jawabkan (Linda tiara, 2019). Sistem informasi manajemen puskesmas (SIMPUS) adalah suatu aplikasi manajemen puskesmas yang fungsi utamanya sebagi alat dalam pencatatan, pengolahan dan penyajian informasi semua data pasien dari awal melakukan pendaftaran hingga pelporan.

Setiap Puskesmas wajib melaksanakaan (SIMPUS) baik elektronik maupun non elektronik yang merupakan bagian dari sistem informasi kesehatan. (Kemenkes RI, 2014). Salah satu bentuk penerapan (SIMPUS) adalah dengan mengukur tingkat kepuasan pengguna yang nantinya dapat dijadikan sebagai tolak ukur seberapa layak suatu sistem untuk dijalankan dan penting untuk mengetahui sejauh mana harapan serta kemudahan suatu sistem dalam mengukur kesempurnan sistem informasi.

Penggunaan SIMPUS saat ini masih belum berjalan dengan baik. Penggunaan SIMPUS di puskesmas Adimulyo kabupaten Kebumen masih belum berjalan dengan baik (Christanti and Pratiwi, 2016). Hal ini karena ada faktor penyebab tidak digunakannya SIMPUS yaitu kurang mendukungnya sarana dan prasarana dalam pengoperasian SIMPUS, kurangnya dukungan kepala puskesmas untuk tetap mengoperasikan SIMPUS, serta kurangnya pemahaman petugas mengenai pentingnya menggunakan SIMPUS. Selain itu, penggunaan SIMPUS di puskesmas Mulyorejo Surabaya belum berjalan secara optimal karena belum berjalannya secara tetap dan berkesinambungan (Aulia, 2017).

Menurut Wahyu (2018) penggunaan SIMPUS di puskesmas Sukowono masih belum bisa berjalan dengan baik dikarenakan jaringan internet yang kurang stabil, jaringan yang kurang stabil membuat terhambatnya petugas pendaftaran dan poli dalam memasukkan data pasien karena SIMPUS di puskesmas Sukowono berbasis web.

Salah satu metode yang digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan suatu sistem yang dilihat dari kepuasan pengguna yaitu End User Computing Statisfaction (EUCS). Definisi EUCS dari sebuah sistem informasi sendiri merupakan evaluasi secara keseluruhan dari para pengguna sisitem informasi dengan lebih menekankan pada kepuasan (statisfaction) pengguna akhir dengan 5 variabel penilaian kepuasan diantaranya yaitu content, format, accuracy, timeliness, ease of use (Doll et al., 1998).

Kepuasan Pengguna sistem (User satisfaction) merupakan respon dan umpan balik yang dimunculkan pengguna setelah memakai sistem informasi. Sikap pengguna terhadap sistem informasi merupakan kriteria subjektif mengenai seberapa suka pengguna terhadap sistem yang digunakan. dikutip Sumarno (2003).

Hasil penelitian yang dilakukan Sedyo dkk tahun 2020 bahwa tingkat penerimaan dan penggunaan system informasi manajemen puskesmas kabupaten jember adalah petugas cukup percaya akan mendapatkan kemudahaan saat bekerja dengan menggunakan SIMPUS (presentase 55,9%), pekerjaan menjadi mudah saat petugas menggunakan SIMPUS (presentase 69,5%), kepala puskesmas dan dinas kesehatan mendukung penggunaan SIMPUS (presentase 73,7%), sarana dan prasarana yang diberikan dapat mendukung penggunaan SIMPUS (presentase 58,5%), petugas berkeinginan menggunakan SIMPUS dalam waktu dekat (presentase 70,3%), dan petugas menggunakan SIMPUS saat bekerja (presentase 65,3%) sedangkan Penggunaan Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) di Kota Bogor pada tahun 2016 terdapat 6 Puskesmas, tahun 2017 terdapat 10 Puskesmas dan tahun 2018 terdapat 9 Puskesmas. Persentase penggunaan SIMPUS di Kota Bogor pada tahun 2016 mencapai 24 %, tahun 2017 mencapai 40 %, dan tahun 2018 mencapai 36 % (Data SIK Dinkes Kota Bogor, 2017).

Penelitian yang dilakukan Adrianti tentang pengaruh faktor EUCS terhadap manfaat nyata pengguna sistem elekronik Puskesmas di Sawah Besar Jakarta. Tri Wahyu (2016) dalam penelitiannya tentang faktor yang mempengaruhi suksesnya implemetasi SIMRS menunjukkan bahwa faktor change management, top management support, technical support, kualitas sistem, dan kualitas informasi merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan SIMRS.

Dari pembahasan diatas dikaitan dengan tingkat kepuasan pengguna terhadap pelaksanan SIMPUS tersebut dengan salah satu metode yaitu EUCS. Faktor EUCS mempengaruhi manfaat nyata pengguna sistem sebesar 80,4% (Adrianti, 2019). Penelitian yang dilakukan Adrianti tentang pengaruh faktor EUCS terhadap manfaat nyata pengguna sistem elekronik Puskesmas di Sawah Besar Jakarta. Hasil penelitian menunjukan dari ke 5 komponen EUCS semua mempengaruhi kepuasan pengguna sistem di lihat dengan presentase petugas puas lebih banyak, Faktor EUCS mempengaruhi manfaat nyata pengguna sistem sebesar 80,4% (Adrianti, 2019).

Hasil dari penelitian terdahulu, Di dapati tingkat kepuasan pengguna sistem informasi manajemen puskesmas (SIMPUS) menggunakan metode EUCS di puskesmas Karangtengah masih terdapat (26,6%) petugas puas terhadap SIMPUS, (36,7%) petugas tidak puas terhadapa SIMPUS, (36,7%) petugas tidak merasa puas tapi tidak kecewa juga terhadap SIMPUS. Kesimpulanya petugas belum sepenuhnya puas terhadap SIMPUS (Adiputra and Garmelia, 2021).

Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti kepuasan pengguna terhadap penerapan SIMPUS di Puskesmas Sibabangun.

METODE
Pada penelitian ini dilakukan di Puskesmas Sibabangun kabupaten tapanuli tengah tahun 2023, Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif menggunakan analisisa data dengan univariat dimana peneliti menggambarkan tingkat kepuasan pengguna SIMPUS menggunakan metode End User Computing Satisfaction yaitu isi (content), keakuratan (accuracy), tampilan (format), waktu (timeliness), kemudahan pengguna (ease of use).

Metode ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar presentase tingkat kepuasan pengguna SIMPUS di Puskesmas Sibabangun. Populasi yang terlibat dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kerja yang bekerja di puskesmas Sibabangun dan Sampel dalam penelitian berjumlah 30 responden yang aktif menggunakan SIMPUS. Instrument penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang disebar secara online pada petugas menggunakan google form dan kemudian diolah menggunakan SPSS.

HASIL
Responden Yang terlibat dalam penelitian ini merupakan tenaga kerja yang aktif di Puskes Sibabangun yang bekerja pada unit pelayanan Upaya Kesehatan perorangan (UKP), Uapaya Kesehatan Masyarakat (UKM), dan bagian administrasi Puskesmas. Pada penelitian ini, Responden langsung mengoperasikan Simpus untuk membantu setiap pekerjaan nya di Puskesmas tersebut. Adapun Karakteristik responden yang terlibat dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 1 Karakteristik Responden

Berdasarkan tabel distribusi karakteristik responden di atas, dapat diketahui bahwa responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 9 responden (30%) dan responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 21 responden (90%). Umur responden dikategoroikan menjadi dua yaitu >40 tahun dan <40 tahun. 16 responden dibawah 40 tahun dan 14 responden diatas 40 tahun. Kepuasan petugas terhadap SIMPUS diukur menggunakan metode End User Computing Satisfaction, dimana kepuasan pengguna dilihat dari 5 (lima) aspek yang dapat dijadikan indikator kepuasan terhadap sistem informasi.

Tabel 2 Kepuasan Pengguna Terhadap SIMPUS

Dari tabel 2 diketahui bahwa kepuasan petugas terhadap SIMPUS dilihat dari kelima variabel kepuasan pengguna rata-rata berada pada kategori puas, pada kategori Content 23 (76,7%), Accuracy 16 (53,3%), Format 23 responden (76,7), pada kategori timeliness sebanyak 17 responden (56,7%) dan Easy oof use 16 responden (53,3%) yang menyatakan puas dengan penerapan SIMPUS di Puseksmas Sibabangun Tahun 2023.

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diolah, maka didapatkan pada hasil Content diketahui 23 repsonden (76,7%) menyatakan puas dan 7 (23,2%) responden menyatakan tidak puas. Sejalan dengan pernyataan oleh Doll & Torkzadeh jika sistem menghasilkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Semakin lengkap modul dan informatif sistem maka tingkat kepuasan dari pengguna akan semakin tinggi (Doll & Torkzadeh 1998). Pada kategori content (isi) pengguna menyatakan puas dengan pelaksanaan oleh SIMPUS tersebut, dimana SIMPUS dapat memberikan informasi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan para pengguna dibuktikan dengan hanya 7 (23,3%) Pengguna yang tidak puas dengan content (isi) dari SIMPUS tersebut. Menurut Adrianti & Hozizah, Sistem informasi harus bisa memberikan kebutuhan informasi dari pengguna, semakin update informasi yang diberikan sistem maka pengguna akan semakin puas dalam menggunakannya (Adrianti & Hosizah, 2018).

Berdasarkan hasil penelitian pada variable format (tampilan) ada sebanyak 23 (76,7%) responden yang menyatakan puas dengan penerapan SIMPUS. SIMPUS sendiri memiliki struktur menu yang teratur dan memiliki tampilan yang menarik sehingga mendorong para pengguna untuk tidak bosan dalam mengerjakan tugas nya dalam waktu yang lama. Menurut  Setyoningrum menyatakan format merupakan variabel yang digunakan untuk mengukur kepuasan pengguna dilihat dari penyajian tampilan dan estetika yang baik, karena hal tersebut dapat berpengaruh terhadap efektifitas pengguna (Setyoningrum, 2020). Hal ini sejalan dengan penelitian dilakukan oleh Hera Adrianti menyatakan tampilan (format) sistem informasi elektronik puskesmas sangat baik sehingga mudah diterima dan berdampak pada peningkatan efektivitas pengguna (Adrianti, 2019) dan Menurut Adrianti & Hosizah (2018) dimensi format (tampilan) selain menarik tetapi juga harus memberikan kemudahan dalam memahami dan menggunakan sistem informasi tersebut, dengan demikian dapat memberikan kepuasaan dan peningkatan efektifitas pengguna.

Pada penelitian terhadap variable timeliness ada sebanyak 13 (43,3%) responden menyatakan tidak puas dengan pelaksanaan timeliness SIMPUS dengan menguji apakah Sistem Informasi manajemen puskesmas dapat memberikan informasi yang dibutuhkan secara cepat dan tepat waktu, berhubungan dengan variable accuracy bahwa penerapan SIMPUS masih tergolong rentan mengahadapi system yang erorr, itu sebabnya SIMPUS belum sepenuhnya bisa memberikan informasi secara tepat dan cepat. Menurut Syahputri (2020) timeliness (ketepatan waktu) dalam penyampaian laporan merupakan salah satu faktor penting dalam menyajikan suatu informasi yang relevan, laporan yang didapat dari sebuah informasi bisa bermanfaat jika bisa menyediakan infromasi secara tepat waktu, karena hal ini akan dijadikan dasar untuk mengambil sebuah keputusan. Keterlambatan dalam mengirim informasi dapat menjadi dampak yang merugikan bagi pihak instansi

Menurut Rasman accuracy merupakan variabel yang digunakan untuk mengukur kepuasan pengguna dari sisi keakuratan data dan seberapa sering sistem mengalami error (Rasman, 2012). Hampir setengah reponden menyatakan tidak puas terhadap accuracy (keakuratan) hal ini dikarenakan karna letak puskesmas sibabangun tergolong wilayah yang masih sedikit susah untuk terkoneksi dengan internet yang stabil sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa petugas masih sering terkendala dengan system yang erorr. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Adiputra yang menyatakan kepuasan pengguna terhadap keakuratan SIMPUS masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari masih banyak pengguna yang belum sepenuhnya merasa puas terhadap accuracy karena informasi yang ditampilkan belum sepenuhnya akurat (Adiputra and Garmelia, 2021).  Hal ini terjadi karna keakuratan (accuracy) belum membuat petugas puas terhadap SIMPUS karena sistem masih sering mengalami error dan informasi yang ditampilkan belum sepenuhnya akurat.

Pada penelitian berdasarkan easy of use ( kemudahan pengguna) ada sebanyak 16 (53,3%) reponden yang setuju dan 14 (46,7 %)  responden yang tidak setuju. Hal yang diujikan adalah apakah pengguna mengerti dan bisa mengoperasikan SIMPUS  dengan tidak membutuhkan waktu yang lama (mudah dipelajari) dan apakah pengguna dapat mudah berinteraksi dengan SIMPUS. Berdasarkan hasil maka diperoleh masih banyak pengguna yang tidak setuju dalam kemudahan dari penerapan SIMPUS ini. Menurut (Fitriansyah, 2018) Dimensi ease of use yaitu digunakan untuk mengukur kepuasan pengguna dari sisi kemudahan penggunaan atau user friendly dalam menggunakan sistem meliputi keseluruhan proses dari awal sampai akhir yang terdiri dari proses memasukkan data, mengolah data, dan menghasilkan informasi yang dibutuhkan.

Dimensi ease of use artinya selain penggunaan sistem tidak membingungkan pengguna saat mennggunakan sistem tersebut akan tetapi sistem baiknya mudah dipelajari karena terdapat petunjuk yang jelas dalam penggunaannya. Kemudahan dalam mengoperasikan SIMPUS di Puskesmas Sibabangun juga dapat diterima oleh 16 responden yang artinya masih ada pengguna yang bisa mengatasi kendala dalam penggunaan SIMPUS.

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di puskesmas Sibabangun tahun 2023, rata- rata responden puas dalam penerapan SIMPUS tersebut namun tidak menutup kemungkinan masih banyak kendala yang dirasakan oleh pengguna terutama dalam dimensi accuracy dan easy of use, dengan kendala system yang erorr serta kemudahan pengguna yang terbilang perlu diperhatikan dengan memberikan pelatihan kepada seluruh pengguna SIMPUS tersebut. Terutama jika diperhatikan dalam tabel karakteristik rata-rata pengguna SIMPUS sudah berumur >40 tahun dan akan mengalami kendala dalam mengoperasikan SIMPUS.

UCAPAN TERIMA KASIH
Peneliti mengucapkan terima kasih kepada STIKes Santa Elisabeth Medan terkhusus kepada Dosen pembimbing  saya serta teman-teman seangkatan Prodi Manajemen informasi Kesehatan 22 dan seluruh responden puskesmas sibabangun yang sudah membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
Adrianti, H. (2019) ‘Pengaruh Faktor End User Computing Satisfaction (Eucs) Terhadap Manfaat Nyata Pengguna Sistem Informasi Elektronik (E-Puskesmas) Di Puskesmas Sawah Besar Jakarta’, Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, 6(Desembar), pp. 1–7.

Adiputra, Z. and Garmelia, E. (2021) ‘Analisis Tingkat Kepuasan Pengguna Sistem Informasi Puskesmas Menggunakan Metode End User Computing Satisfaction (EUCS) di Puskesmas’, Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, 4(1)

Djohar, D., Oktavia, N., & Damayanti, F. T. (2018). Analisis Penyebab Terjadinya Missfile Dokumen Rekam Medis Rawat Jalan di Ruang Penyimpanan(Filling) RSUD Kota Bengkulu Tahun 2017. Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia, 6(2), 79. https://doi.org/10.33560/.v6i2.190

Doll, W. J. et al. (1998) ‘The meaning and measurement of user satisfaction: A multigroup invariance analysis of the end-user computing satisfaction instrument’, Journal of Management Information Systems, 21(1), pp. 227–262. doi: 10.1080/07421222.2004.11045789.

Fitriansyah et al. (2018) ‘Penerapan Dimensi EUCS (End User Computing Satisfaction) Untuk Mengevaluasi Tingkat Kepuasan Pengguna Situs Web’, Konferensi Nasional Sistem Informasi (KNSI) 2018. Available at: http://jurnal.atmaluhur.ac.id/index.php/knsi2018/article/view/334.

Fitriana, B. R. D., Hidana, R., & Parinduri, S. K. (2020). Analisis Penerapan Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (Simpus) Dengan Model Human Organization Technology (Hot)-Fit Di Puskesmas Tanah Sareal Kota Bogor Tahun 2019. Promotor, 3(1), 18–27. https://doi.org/10.32832/pro.v3i1.3121

Golo, Z. A., Subinarto, & Garmelia, E. (2021). Analysis of User Satisfaction Level of Primary Care Information System Using End User Computing Satisfaction (EUCS) Method at Primary Care. Journal of Information Engineering and Applications, 4(1), 52–56.

Handayani, F. (2021). Faktor Penyebab tidak Terlaksananya Sistem Informasi Manajemen Puskesmas.

Pinerdi, S., Ardianto, E. T., & Dwi Elisanti, A. (2020). Analisis Tingkat Penerimaan dan Penggunaan Sistem Informasi Manajemen Puskesmas Di Kabupaten Jember. Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia, 8(3), 136–147. https://doi.org/10.14710/jmki.8.3.2020.136-147

Pinerdi, S., Tri Ardianto, E., Nuraini, N., & Nurmawati, I. (2020). J-REMI : Jurnal Rekam Medik Dan Informasi Kesehatan TINGKAT PENERIMAAN DAN PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PUSKESMAS KABUPATEN JEMBER. J-REMI : Jurnal Rekam Medik Dan Informasi Kesehatan, 1(2), 104–112.

Taringan, S. F. N., Abudi, R., & Arsad, N. (2022). Sistem Pengelolaan Rekam Medis Di Puskesmas. Jambura Health and Sport Journal, 4(2), 119–126. https://doi.org/10.37311/jhsj.v4i2.15276

Kemenkes RI (2014) ‘Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014’.

Kholili, U. (2011). Pengenalan Ilmu Rekam Medis Pada Masyarakat Serta Kewajiban Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit. Jurnal Kesehatan Komunitas, 1(2), 60–72. https://doi.org/10.25311/keskom.vol1.iss2.12

Machmud, R. (2018). Kepuasan Penggunaan Sistem Informasi. In Ideas Publishing. https://repository.ung.ac.id

Rasman, Y. I. K. (2012) ‘Gambaran hubungan unsur-unsur End USER Computing Satisfaction terhadap kepuasan pengguna sistem informasi rumah sakit umum daerah kota depok 2012’.

Setyoningrum, N. R. (2020) ‘Analisis Tingkat Kepuasan Pengguna Sistem Informasi Kerja Praktek dan Skripsi (SKKP) Menggunakan Metode End User Computing Satisfaction (EUCS)’, Journal of Applied Informatics and

Zulkarina, A. N., & Fannya, P. (2022). Nangka Tigaraksa Tahun 2022. 3, 608–614.

Vol.6 No. 11, 10 Oktober 2023. pp. 75-76

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *