Arti Pernikahan Dalam Perspektif Tasawuf

Oleh
Elva Ayzzatul Azizah
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Pendahuluan

Ilmu tasawuf adalah bagian dari agama Islam yang sangat penting untuk menata kehidupan manusia di muka bumi. Ilmu pengetahuan Islam mempunyai tiga ajaran pokoknya: Al-Islam (Syariah), Al-Imam (Alam), dan Al-Ihsan (Marifat). Tasawuf terletak pada Al-Ihsan dan mempertimbangkan urusan hati (Kolbu) dan menjadi pedoman ikhtiar manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ajaran tasawuf yang utama adalah mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu tasawuf dengan demikian memberikan arah dan muatan bagi ilmu syariat. Dengan mengamalkan tasawuf, seseorang mengikuti jalan (Suluk) melalui kewajiban dan sunnah yang ditentukan oleh Allah SWT. Sunnah ini bisa berupa puasa, dzikir, shalat, dan amal shaleh lainnya.

Ketiga bidang ilmu sebagaimana disebutkan di atas (syariat, hakikat dan makrifat) saling mengisi dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan satu dengan yang lainnya, jika hilang salah satunya maka menjadi rusaklah yang lainnya. Pernikahan merupakan salah satu ranting dari ilmu syari’at. Banyak dari sebagian orang beranggapan bahwa pernikahan memberikan dampak negatif kepada seseorang, karena apapun dapat terjadi di dalam kehidupan berumah tangga, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pemicu adanya perselingkuhan, ekonomi yang semakin darurat serta akad pun bisa menjadi hanya sebuah formalitas belaka yang akhirnya berujung pada perceraian serta semakin jauh seseorang dengan Tuhannya.

Pernikahan menjadi salah satu alternatif manusia untuk memenuhi kebutuhan biologis serta menjadi salah satu faktor mengapa pernikahan sangat dianjurkan dan hidup membujang tidak dianjurkan. Manusia ditakdirkan memiliki naluri untuk memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Hal ini tidak lain untuk mempertimbangkan adanya kenyataan bahwa kebutuhan laki-laki dan perempuan itu sama-sama logis dan sah. Selain memiliki banyak dampak positif dan hikmah yang dapat dipetik. Pernikahan juga menjadi jalan bagi seseorang untuk berada sedekat mungkin dengan Allah. Sebuah pernikahan dapat menjadi haram jika mendatangkan madhorot, dan bisa bersifat sunnah maupun wajib, tergantung pada kondisi seseorang. Oleh karena itu, sangat relevan jika masalah pernikahan dipandang dalam kacamata tasawuf dan menerapkan nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan manusia sebagai bekal seseorang dalam membangun bahtera rumah tangga yang sakinah mawwadah warrohmah.

Pengertian Menikah

Dalam agama Islam, pernikahan adalah salah satu bentuk upacara ibadah yang diikat dengan perjanjian yang luhur. Hakikatnya pernikahan adalah awal kehidupan yang baru untuk kedua calon mempelai. Dengan menikah, dalam mendampingi pasangan hidup yang baik, seorang istri atau suami berperan sebagai sebuah partner, keduanya saling membutuhkan, dan saling menghargai untuk menciptakan ketenangan, ketentraman, dan kebahagian di dunia dan di akhirat kelak.

Sesungguhnya, Islam memandang pernikahan itu adalah sebagai sebuah jalan hidup yang alami baik bagi perempuan maupun bagi laki-laki, dan mungkin lebih dari sekadar memandang bahwa pernikahan itu hanya memberikan beberapa bentuk jaminan ekonomis bagi perempuan. Harus ditekankan di sini, bahwa kemanfaatan bagi perempuan sama sekali bukan serta merta berindikasi bahwa pernikahan dalam Islam hanya sebuah transaksi ekonomi belaka. Sesungguhnya, faktor ekonomi adalah aspek yang paling terakhir dari sebuah kegiatan, penekanannya selalu didasarkan kepada kualitas-kualitas keagamaan dari pasangan suami-istri tersebut.

Kehidupan yang tenteram (sakinah) yang dibalut perasaan cinta kasih dan ditopang saling pengertian di antara suami dan istri, karena baik istri maupun suami menyadari bahwa masing-masing sebagai pakaian bagi pasangannya itulah yang sesungguhnya merupakan tujuan utama disyariatkannya pernikahan dalam Islam.

Al-Ghazali sebagai seorang ilmuwan besar dan tokoh tasawuf yang populer dengan berbagai ajarannya, serta telah banyak melahirkan karya, sehingga menjadi kajian utama di kalangan intelektual Islam. Hal ini tentunya telah banyak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Salah satunya ajarannya adalah tentang jalan menuju Allah Swt. yaitu dengan ibadah. Untuk beribadah kepada Allah, maka hendaklah manusia menunaikan sebagian dari sunnah Nabi, yaitu menikah.

Jadi, dalam pandangan tasawuf pengertian hakikat di balik hukum syariat dalam hal akad nikah itu adalah untuk menentukan berjalannya ketetapan Allah sebagaimana tercatat di Lauhil Mahfuz. Persetujuan hati, kerelaan batin dan kesanggupan fisik untuk hidup bersama pasangannya sesungguhnya bukan perkara yang baru dirancang oleh makhluk, tetapi telah ditetapkan oleh Allah Swt. Pernikahan yang berlangsung di dunia ini hanyalah untuk menjalani ketetapan Allah di Lauhil Mahfuz duhulu kala itu. Dengan demikian, menurut pandangan tasawuf ikatan suami istri itu bukan karena surat nikah, tetapi karena ketetapan Qadha dan Qadar Allah. Jadi, di balik hukum nikah secara syara’ tersebut adalah menjalankan amanah yang telah ditetapkan Allah sejak azali.

Pernikahan di Bawah Umur

Penentuan batas umur untuk melangsungkan pernikahan sangat penting, sebab pernikahan sebagai suatu perjanjian perikatan antar seorang pria dan wanita yang sudah cukup umur baik dilihat dari segi biologis maupun psikologis. Meskipun secara terang-terangan tidak ada petunjuk yang dalam al-Qur’an atau hadis Nabi tentang batas usia pernikahan, tetapi terdapat ayat al-Qur’an yang secara tidak langsung mengisyaratkan batasan umur, kedua sumber tersebut hanya menegaskan bahwa seseorang yang akan menikah harus merupakan orang yang sudah layak dan dewasa sehingga bisa mengatur dan menjalani kehidupan rumah tangga yang baik, dengan kedewasaan itu pasangan suami dan istri akan mampu melaksanakan hak dan kewajibannya secara timbal balik.

Hal ini sangat jelas bahwa pernikahan menekankan kepada persiapan mental yang baik. Di mana dalam Islam tanda baligh merupakan kesiapan mental. Oleh karena itu, kedewasaan secara fisik tidak cukup, untuk memikul tanggung jawab pernikahan. Kematangan pikiran adalah hal lain yang sangat penting dalam melangsungkan pernikahan.

Perlunya mencari calon istri ataupun calon suami yang memenuhi kriteria juga menjadi salah satu alasan untuk memperoleh keturunan yang baik dalam membangun rumah tangga yang sakinah mawwadah wa rohmah. Islam telah memberikan kriteria dalam memilih calon istri atau suami:

1) nasab,

2) harta,

3) kecantikan atau ketampanan, dan

4) agama.

Dari keempat kriteria tersebut Islam sangat menekankan pada kriteria agama. Hal ini tidak lain adalah ketika seseorang telah beragama dengan baik dan telah memiliki bekal yang cukup, maka akan memiliki kemungkinan besar dapat membimbing keluarga dengan baik.

Tujuan dan Fungsi pernikahan

Pernikahan memiliki visi untuk memperoleh keturunan yang secara naluriah setiap manusia diberikan syahwat. Hanya saja ketika manusia tidak bisa mengendalikan syahwatnya maka ia akan terjerumus pada kemaksiatan. Begitupun dengan nafsu-nafsu yang lain, seperti nafsu makan, nafsu ingin memiliki, nafsunafsu yang lain, apabila seseorang tidak bisa mengendalikannya maka manusia akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi nafsu tersebut. Oleh karena itu, perlunya penyaluran insting untuk melakukan relasi seksual, telah diatur dan diberikan batasan-batasan oleh Allah melalui sebuah pernikahan.

Tasawuf memandang pernikahan sebagai sebuah media atau sarana manusia agar dapat menciptakan rumah tangga yang harmonis, tenang, tenteram, damai, dan bahagia. Saling pengertian dan saling berkolaborasi antar kedua pasangan menjadi salah satu kunci untuk membangun keluarga yang sakinah mawadah wa rohmah. Sehingga melakukan tanggung jawab masing-masing serta paham akan hak dan kewajiban baik sebagai seorang istri maupun suami, menjalankan kewajiban dan tanggung jawab diniatkan sebagai bentuk beribadah kepada Allah, maka manusia akan mencapai ketenangan batin yang luar biasa. Oleh karena itu, pikiran dan niat yang baik akan melahirkan perbuatan yang baik pula.

Dengan demikian, tujuan dan fungsi dari sebuah pernikahan yang pertama, sebagai media untuk melestarikan keturunan dan penyaluran insting manusia dalam melakukan relasi seksual. Kedua, untuk mewujudkan keluarga yang tentram, damai, dan bahagia. Ketiga, mendidik jiwa manusia agar bertambah rasa kasih sayangnya. Keempat, kelembutan jiwa dan kecintaan manusia bertambah, serta akan terjalin kolaborasi antara kedua pasangan yang sesungguhnya memiliki cita rasa, emosi, kesanggupan mencintai, kecakapan yang berbeda-berbeda. Kelima, memupuk rasa tanggung jawab pada setiap individu.

Hikmah Pernikahan

Mengenai hikmah dari sebuah pernikahan, sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari tujuan dan fungsi pernikahan. Merujuk kepada penjelasan Imam alGhazali dalam Ihya’ Ulumuddin, Zakiah Deradjat, menyatakan bahwa tujuan dan faedah pernikahan dapat dikembangkan menjadi lima, yaitu:

  1. Mendapatkan dan melangsungkan keturunan. Naluri manusia mempunyai kecenderungan untuk mempunyai keturunan yang sah.
  2. Memenuhi hajat manusia menyalurkan syahwat dan menumpahkan kasih sayangnya.
  3. Memelihara manusia dari kejahatan dan kerusakan.
  4. Menumbuhkan kesungguhan untuk bertanggung jawab menerima hak serta kewajiban dan untuk memperoleh harta kekayaan yang halal.
  5. Membangun rumah tangga untuk membentuk masyarakat yang tenteram atas dasar kasih sayang.

Kesimpulan

Inti pernikahan dalam pandangan tasawuf adalah salah satu jalan menuju Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Manusia dalam hal ini secara otomatis akan mendapat kesejahteraan dan kebahagian secara lahir dan batin, berusaha untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga serta mendasari sebuah keluarga dengan sikap sabar, takwa, serta syukur. Jika, segala sesuatunya dilakukan karena Allah, maka kehidupan rumah tangga akan jauh dari sebuah perceraian dan konflik rumah tangga yang berujung pada KDRT. Perlunya pemupukan sikap toleransi terhadap sesuatu yang berbeda menjadi kunci utama dalam sebuah kehidupan beragam.

Daftar Pustaka

Atabik, Ahmad, and Khoridatul Mudhiiah. “Pernikahan dan Hikmahnya Perspektif Hukum Islam.” Yudisia: Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam 5, No. 2 (January 20, 2016); https://doi.org/10.21043/yudisia.v5i2.703

Hanafi, Yusuf. Kontroversi Perkawinan Anak di Bawah Umur (Child Marriage): Perspektif Fikih Islam, HAM Internasional, dan UU Nasional. Cet. 1. Bandung: Mandar Maju, 2011.

Rusfi, Moh. “Makna Perkawinan dalam Perspektif Tasawuf.” Asas 8, No. 2 (December 13, 2016); https://doi.org/10.24042/asas.v8i2.1248.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *