Belajar Literasi dan Memupuk Rasa Percaya Diri Anak di LSM KOPA Medan Maimun

PENULIS : RAMADANI SAFITRI
NIM : 200902001
Universitas Sumatera Utara

JurnalPost.com – Kegiatan literasi pada fase pembelajaran bertujuan mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi teks buku pengayaan dan buku pelajaran. Literasi atau kemelekan adalah istilah umum yang merujuk kepada serangkaian kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Manfaat literasi Memperluas wawasan dan pengetahuan. Membantu berpikir kritis untuk membantu dalam mengambil keputusan. Membuat otak bekerja lebih optimal. Mengasah kemampuan dalam menangkap dan memahami informasi dari bacaan. Literasi tidak sama dengan membaca. Membaca dan buku adalah permukaan bentuk teknik dan fisik dari literasi. Esensi literasi adalah bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan dan belajar untuk mendapatkan pengetahuan. Seharusnya literasi sudah menjadi budaya modern suatu bangsa.

Ramadani Safitri (200902001) yang merupakan mahasiswi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, melakukan Praktik Kerja Lapangan 2 di LSM KOPA, Medan Maimun. Dengan tujuan menanamkan pengetahuan literasi dan meningkatkan kemampuan rasa percaya diri pada anak-anak . Praktik Kerja Lapangan 2 ini didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan yaitu, Agus Suriadi, S.Sos., M.Si. Dosen Pengampu Mata Kuliah yaitu, Fajar Utama Ritonga, S.Sos, M.Kessos., dan ketua LSM KOPA Medan Maimun yaitu, Syafri Tanjung.

Beberapa anak memang cukup sulit mengekspresikan dirinya, baik secara emosi maupun lisan. Mereka pun cenderung ragu untuk menunjukkan bakat dan kemampuannya di lingkungan baru.

1. Luangkan Waktu untuk Bermain
2. Berikan Mereka Pekerjaan di Rumah
3. Biarkan Anak Mengatasi Permasalahan
4. Berikan Pujian akan Usahanya
5. Beri Perhatian dan Kasih Sayang
6. Menunjukkan Contoh dalam Tindakan Sehari-hari
7. Memancing Rasa Ingin Tahu Anak

Oleh karena itu, Ramadani Safitri melakukan mini project untuk mengajarkan anak-anak belajar literasi dan memupuk rasa percaya diri pada anak. Ramadani Safitri juga memilih anak-anak di LSM KOPA Medan Maimun sebagai kliennya yang menurut ketua LSM KOPA Medan Maimun cukup kurang dalam memahami literasi dan rasa percaya diri pada anak-anak. Oleh karena itu, Ramadani Safitri berusaha menyelesaikan permasalahan yang dimiliki anak-anak tersebut dengan metode casework yang terdiri dari tahapan:

1. Engagement, Intake, Contract: pada tahapan ini diawali dengan pendekatan terhadap klien, penjelasan maksud dan tujuan dan melakukan kesepakatan kontrak antara klien dan pekerja sosial.

2. Assessment: pada tahapan ini menganalisis lebih dalam soal pemahaman belajar literasi dan rasa percaya diri yang kurang pada anak-anak. Penulis menggunakan tools diagram venn untuk membantu menyelesaikan masalah yang ada pada klien. Dari hasil wawancara yang dilakukan klien dengan penulis, anak-anak tersebut harus belajar literasi dan memupuk rasa percaya diri masing-masing.

3. Planning atau perencanaan: tahapan ini melakukan rencana strategi yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah klien. Dalam tahap ini, penulis bersama klien saling bekerja sama untuk mencari rencana apa yang tepat digunakan untuk membantu anak-anak meningkatkan literasi dan membuat anak-anak agar percaya diri tampil di depan teman-teman dan banyak orang.

4. Intervensi: tahapan ini ialah penjelasan program yang akan dilakukan oleh klien. Serta Langkah-langkah dalam penerapan proses pembelajaran literasi dan memupuk rasa percaya diri. Belajar membaca, menggambar, mewarnai, berhitung, bercerita dongeng, serta mengajak mereka bermain di luar agar lebih semangat dalam mengembangkan diri potensi anak penjelasan tentang materi secara sederhana. Saya memberikan waktu yang cukup untuk anak-anak secara pasti dan memberikan pengawasan dan memberikan penjelasan ulang sebagai penguat materi yang telah disampaikan.

5. Monitoring: pada tahapan ini, penulis melihat dan mengawasi sudah sejauh mana perkembangan yang terjadi pada klien. Dalam beberapa pertemuan yang dilakukan, sudah ada sedikit demi sedikit perkembangan yang terjadi pada anak-anak dimulai dengan pembentukan literasi yang bagus serta sudah berani bercerita di hadapan teman-teman menjelaskan materi pembahasan literasi yang terjadi di sekitar kita.

6. Evaluasi: tahapan ini melakukan evaluasi, penilaian serta pemantauan terhadap klien. Penulis merasa perkembangan yang cukup baik dalam anak-anak. Mereka lebih cepat dalam menangkap pembelajaran metode literasi dan memberikan rasa percaya diri yang baik pada anak-anak LSM KOPA, Medan Maimun.

7. Terminasi: tahap pemutusan atau pemberhentian proses bantuan pekerja sosial dengan klien agar tidak menimbulkan ketergantungan klien. Dalam tahap ini, penulis menghentikan atau memutuskan proses bantuan kepada anak-anak karena perubahan yang terjadi sudah berkembang dengan baik dan mampu melakukan sendiri tanpa bantuan bimbingan dari penulis.

Ramadani Safitri berharap, Praktik Kerja Lapangan 2 ini dapat mempersiapkan generasi bangsa yang lebih baik lagi dan juga Ramadani Safitri sangat berterima kasih kepada LSM KOPA, Medan Maimun yang telah bekerja sama dan berkolaborasi terhadap penulis yang melaksanakan Praktik Kerja Lapangan 2.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *