Bina Damai Jadi Tanggung Jawab Kolektif, Apa yang Bisa Dilakukan?

Jakarta, JurnalPost.com – Rabu (29/11), Yayasan Ruang Damai bersama Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Global Peace Foundation Indonesia, dan Yayasan Cahaya Guru berbagi upaya bina damai pada kaum muda. Diskusi daring ini dihadiri oleh 83 peserta yang terdiri dari perwakilan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) seluruh Indonesia, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Pujo Harinto, Bc.IP., Sos. M.Si, Direktur Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak Ditjenpas, menyebut pelaksanaan program pembinaan perdamaian di LPKA menemui berbagai tantangan dan hambatan.

“Kendala yang dihadapi salah satunya jumlah SDM yang terbatas dan perlu ada pelatihan-pelatihan khusus untuk meningkatkan kapasitas. Misalnya untuk konseling dan pengasuhan anak”.

Pendapat Pujo Harinto juga diamini oleh Ade Saputra, petugas LPKA Kelas II Jakarta.

“Kami tidak hanya ditugaskan untuk mengamankan, tetapi juga memberikan pembinaan kepada anak. Masalahnya, banyak petugas belum memiliki bekal yang cukup untuk memahami psikologis dan pembinaan kepribadian anak,” tuturnya.

Oleh sebab itu, LPKA bekerjasama dengan berbagai Organisasi Masyarakat Sipil, salah satunya Yayasan Ruang Damai, untuk menjalankan fungsi pembinaan. Melalui program Muda Berdamai yang telah bergulir sejak 2022, Anak Binaan LPKA Kelas II Jakarta memperoleh edukasi perdamaian yang meliputi berpikir kritis, empati, toleransi, dan pengelolaan konflik.

Bahkan di tahun ini Muda Berdamai mengajak support system terdekat Anak Binaan, yaitu petugas lapas sebagai agen bina perdamaian. Pujo Harinto berharap modul Muda Berdamai yang berisi panduan praktis pengimplementasian nilai-nilai perdamaian dapat menjadi acuan yang dapat diterapkan oleh LPKA di seluruh Indonesia.

Upaya bina damai harus dilakukan dari hulu ke hilir. Jika Lembaga Pemasyarakatan berfokus pada rehabilitasi Anak Berkonflik Hukum (ABH) agar dapat kembali ke masyarakat, Ruang Damai turut mengundang Yayasan Cahaya Guru untuk berbagi bagaimana institusi pendidikan dapat mencegah kekerasan anak dan remaja.

Sicillia Leiwakabessy dari Yayasan Cahaya Guru berbagi temuan mengenai pengembangan budaya damai di sekolah. Lebih dari 90% guru menyatakan pengembangan budaya damai dapat teramati dalam aturan sekolah, dalam kurikulum pembelajaran, dan dalam interaksi warga sekolah.

Namun menariknya, kekerasan di sekolah masih menunjukkan persentase yang besar, yakni bullying (46,32%), kekerasan seksual (37,12%), dan intoleransi (38,96%).

“Kenapa ini kontradiktif, bisa jadi karena pertama, damai masih dimaknai sebagai zona nyaman. Walaupun ada kekerasan atau situasi tidak menyenangkan, selama tidak ada yang ribut dan tidak terganggu, ya sudah berarti damai. Padahal damai tidak hanya tentang ketiadaan konflik. Tetapi juga tentang hadirnya keadilan sosial. Jadi damai ini adalah tanggung jawab kolektif”, tutur Sicillia.

“Ketika terjadi kekerasan di sekolah, ini seharusnya menjadi tanggung jawab bersama dari orang-orang dewasa. Karena anak masuk lapas mungkin bukan sekadar karena dia memukul seseorang atau apa, tetapi ada situasi struktural dan kultural yang menjadi latar belakang”, sambungnya.

Turut hadir dalam acara ini, Muhammad Mahmudi selaku Program & Communication Manager Global Peace Foundation Indonesia. Ia menyoroti penyalahgunaan media sosial yang marak dilakukan oleh anak muda, khususnya untuk menyebarkan kebencian bermuatan SARA. Menurutnya, pendidikan toleransi perlu lebih banyak digaungkan.

“Setiap bulannya, Global Peace Foundation Indonesia memberikan wadah untuk kaum muda dari berbagai macam latar belakang berkunjung ke rumah-rumah ibadah kemudian berdialog langsung dengan tokoh agamanya, guna belajar nilai kebaikan yang diajarkan oleh setiap agama”, tuturnya.
Upaya-upaya bina damai hanya dapat berjalan secara maksimal dan berkesinambungan dengan kolaborasi multipihak. Oleh sebab itu, Yayasan Ruang Damai akan senantiasa bertumbuh dan bersinergi dengan berbagai stakeholder demi mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan.

Penulis: Era Febrianti & Azzahra Shifa – Tim Pelaksana Yayasan Ruang Damai @ruangdamai_id

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *