Dilema dan Tugas Universitas Hari Ini Menurut Noam Chomsky

Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin (Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas)

JurnalPost.com – Secara historis, dilema universitas dapat ditelusuri di Amerika sejak paska Perang Dunia II yang berada dalam paradoks yang nyata. Universitas seharusnya menjadi tempat yang bebas untuk belajar demokrasi dan melakukan penelitian kata John Dewey serta melahirkan intelektual yang mampu mengembangkan kritisisme publik kata Gramsci, tetapi malah terjebak dengan agenda proyek perang dingin Amerika melawan Blok Timur di bawah Uni Soviet (Chomsky, 1997).

Tentu, tak dipungkiri bahwa masa keemasan gerakan mahasiswa di Amerika juga terwujud di sekitar tahun 1960-70an dan menandai kelahiran gerakan sosial baru di tengah proyek Perang Dingin Amerika. Ada gerakan politik yang tumbuh dalam kontrol politik yang tinggi.

Dengan kata lain, universitas dikontrol oleh rezim Amerika sejak paska Perang Dunia II sebagai bagian dari proyek Tatanan Dunia Baru. Di masa Perang Dingin, dana-dana militer masuk ke kampus di Amerika dan bahkan mengontrol departemen-departemen penting seperti ilmu sains tingkat tinggi, ilmu ekonomi dan ilmu politik. Amerika tentu masih memberikan ruang kebebasan akademik di dalam negerinya dan itulah kehebatan Amerika kata Chomsky (1997). Namun, skala kebebasan itu berbeda misalnya antara Harvard dan MIT. MIT lebih leluasa bagi ilmuwan sosial humaniora daripada Harvard. Walaupun, Chomsky tetap diawasi oleh CIA.

Tugas intelektual dalam kondisi di bawah pengawasan ini menurut Chomsky (2003) tentu semakin berat mendorong demokrasi kritis. Tugas intelektual secara normatif di universitas dan di luar universitas adalah menyampaikan kebenaran, menyingkap kebohongan, menjelaskan narasi histori ekonomi politik dan menyingkat tabir ideologi palsu di balik kepentingan ekonomi politik.

Tugas intelektual yang berat seperti ini tidak hanya terjadi di Amerika, tetapi di hampir seluruh dunia yang mengadopsi sistem pendidikan liberal ala Barat sebagai warisan dari semangat Perang Dingin dan mimpi tatanan dunia baru Barat untuk menghalau kebenaran lain selain Barat, mencegah Komunisme, mengebiri ideologi Marxisme, dan bahkan menghanguskan bibit perlawanan (Amerika menyebutnya ultranasionalisme) di negara lain (Chomsky, 2022).

Buku-buku di perpustakaan untuk belajar dan riset seolah-olah bebas dan tak terkontrol. Tetapi, sesungguhnya universitas hanya untuk menjaga kepentingan ideologi konservatif di era Perang Dingin dan menjadi bagian dari proyek Tatanan Dunia Baru Amerika Paska Perang Dunia II hingga hari ini.

Dilema universitas semakin jelas hari ini di era kapitalisme komersil dan teknologi digital yang bersifat surveillance karena universitas mendapatkan hambatan dari dalam kekuasaan dan bisnis untuk menjadi pusat penelitian sains demi inovasi kehidupan dan belajar ilmu sosial deliberatif-kritis demi kemanusiaan yang lebih tinggi (Zuboff, 2019; Habermas, 2015).

Institusi universitas tak memiliki kebebasan yang penuh yang memungkinkan lahirnya variasi bidang kajian dan eksperimen yang lebih kaya serta menjadi tempat bagi kelahiran intelektual yang bebas bersuara, kritis, dan bersikap radikal untuk keluar dari kenyataan yang menyedihkan dalam sejarah dan mengancam kehidupan serta kemanusiaan (Chomsky, 1997).

Hambatan dalam perkembangan universitas hari ini dapat diperparah oleh perkara administrasi atau manajemen kepemimpinan yang profit-oriented, otoriter, intimidatif dan amburadul karena gagalnya negara sebagai Welfare State. Mahasiswa tumbuh kerdil dan enggan untuk meluaskan imajinasi dan kreativitasnya di universitas (Adiputri, 2023). Padahal, mahasiswa di universitas harus dilahirkan sebagai intelektual yang bebas dan kritis.

Alhasil, universitas tentu perlu mendorong lahirnya intelektual nyata yang berkomitmen kepada ilmu pengetahuan yang memiliki kerelaan dan kejujuran serta teguh dalam melakukan refleksi sosial yang kritis dan berkesinambungan. Universitas harus mampu melahirkan intelektual yang terlibat bersama masyarakat dan senantiasa berkomitmen kepada kehidupan sosial politik yang rasional dan kritis. Tetapi, ini tak mudah karena universitas adalah pewaris semangat perang dingin dengan tendensi Orwelian State yang sangat kuat dari rezim politik yang dominan di manapun.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *