El Nino Pengaruhi Produksi Beras, Ketahanan Pangan Ikut Terimbas

JurnalPost.com – Fenomena El Nino telah memberikan banyak dampak khususnya pada sektor pertanian. El Nino menyebabkan suhu permukaan lebih panas dan penurunan intensitas curah hujan yang diperkirakan dapat menghambat produksi beras sehingga berdampak pula pada ketahanan pangan global.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino akan berakhir hingga awal tahun 2024. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, juga mengatakan bahwa potensi El Nino membuat musim kemarau 2023 di Indonesia lebih panjang dan kering.

Sebagai negara agraris dengan pertanian yang menjadi sektor utama dalam menunjang kebutuhan pangan membuat Indonesia harus mengantisipasi dampak El Nino agar ketahanan pangan terjaga.

Walaupun dampak El Nino yang terjadi di tahun ini lebih terkendali, namun musim kemarau yang mulai datang di bulan Juni ini menjadi lebih kering atau curah hujan berada di bawah normal. Puncak kekeringan akibat El Nino terjadi pada Agustus hingga September dan mulai memasuki musim hujan di November. Dampak dari hal tersebut telah dirasakan oleh Indonesia terutama pada pertanian. Produksi beras yang menurun berpengaruh pada jumlah beras yang tersedia untuk konsumsi dalam negeri.

Beras adalah makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata konsumsi beras per kapita per tahun di Indonesia mencapai 110 kg per orang. Ungkapan “belum makan kalau belum makan nasi” sudah tertanam dalam pola pikir masyarakat Indonesia dan membuktikan beras sudah menjadi bahan pangan utama sejak bertahun-tahun lalu. Hilangnya beras akan berdampak pada ketahanan pangan, khususnya menyebabkan malnutrisi dan gangguan kesehatan. Diperlukan tindakan untuk bersiap menghadapi kemungkinan ini.

Lalu, bagaimana El Nino dapat berdampak terhadap ketahanan pangan?

Produksi pangan, sama seperti sebagian besar pertanian sangat bergantung pada iklim yang menguntungkan. Dilansir dari Kementerian Pertanian, ada beberapa dampak El Nino bagi pertanian yang dapat mempengaruhi ketahanan pangan, yaitu kekeringan, gangguan musim tanam, penyebaran penyakit dan hama, penurunan kualitas tanaman, serta ketidakstabilan pasar.
Terjadinya kekeringan karena naiknya suhu dan menurunnya curah hujan berakibat pada persediaan air untuk pertanian yang berkurang. Tanaman pangan khususnya padi membutuhkan air yang cukup untuk tumbuh dengan baik. Sehingga, kekurangan air menghambat pertumbuhan tanaman dan mengurangi hasil panen.

Perubahan pola cuaca oleh El Nino mengganggu musim tanam yang menyebabkan mundurnya penanaman tanaman, luas tanam yang menurun, hingga kegagalan panen. El Nino juga mempengaruhi persebaran penyakit dan hama pada tanaman yang dapat merusak tanaman dan menurunkan kualitas tanaman. Kondisi tersebut yang akhirnya berdampak pada berkurangnya hasil panen.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2023), produksi beras di Indonesia turun pada bulan-bulan El Nino. Pada September 2023, produksi beras mencapai 2,47 juta ton dan menurun 1,98 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu sebesar 2,52 juta ton. Pengaruh El Nino terhadap produksi beras dapat dilihat dari angka indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO).

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

Hasil pemutakhiran dasarian III September 2023, menunjukkan indeks ENSO yang meningkat pada periode September III (tanggal 21-akhir bulan) yaitu plus 1,7 atau El Nino moderat. Angka tersebut meningkat dari periode sebelumnya yaitu September II (tanggal 11-21) sebesar plus 1,66 dan September I (tanggal 1-10) sebesar plus 1,63. Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi indeks ENSO maka semakin menurunnya produksi beras.

Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Selain penurunan hasil produksi, El Nino juga mempengaruhi inflasi pada produk pangan. Badan Pusat Statistik mengatakan bahwa beras menyumbang inflasi terbesar pada September 2023 sebesar 0,18 persen. Rata-rata harga beras premium di penggilingan Rp12.900,00 per kg meningkat 9,75 persen dibanding bulan sebelumnya.

Begitu juga dengan harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp12.685,00 per kg naik sebesar 10,55 persen dan harga beras di luar kualitas sebesar Rp11.749,6 naik sebesar 11,59 persen.

Selain beras, tanaman pangan lain yang juga mengalami penurunan produksi yaitu jagung. Panel Harga Pangan mencatat pada 1 Oktober, rata-rata harga jagung pada tingkat peternak sebesar Rp6.840 per kg dan mengalami peningkatan pada 10 Oktober sebesar Rp7.000.

Fenomena El Nino yang mengakibatkan kekeringan pada sejumlah wilayah di Indonesia membuat menurunnya hasil produksi sehingga harga pangan naik. Kenaikan harga pangan memicu permasalahan krisis pangan dengan semakin banyak orang mengalami kekurangan makanan bahkan memburuknya kondisi kemiskinan.

Oleh karena itu dalam menghadapi dampak El Nino, Indonesia berupaya untuk terus memperkuat ketahanan pangan nasional, salah satunya dengan mengimpor beras. Hingga September 2023 realisasi impor beras yang sudah masuk ke Indonesia sebesar 1.028.478 ton.

Upaya antisipasi adaptasi dampak perubahan iklim ekstrim kekeringan El Nino tahun 2023 dilakukan pemerintah melalui Gerakan Nasional (Gernas) Penanggulangan El Nino. Gernas merupakan upaya dalam penambahan areal tanam seluas 500 ribu hektar di 10 provinsi dan 100 kabupaten. Keberhasilan Gernas sampai November sudah terealisasi sebanyak 430.236 hektar dari total target yaitu 569.374 hektar atau sudah mencapai 75,6 persen.

Strategi seperti peningkatan indeks pertanaman padi (IP) serta sarana dan prasarana dikerahkan untuk meningkatkan produktivitas pangan. Sarana dan prasarana pertanian meliputi benih berkualitas yang dapat tahan akan ancaman perubahan iklim, pupuk, dan pengendalian OPT hama dan penyakit.

Berbagai bantuan dari pemerintah juga diberikan kepada masyarakat yakni bantuan beras cadangan pangan pemerintah (CPP) dan bantuan langsung tunai (BLT) El Nino. Bantuan-bantuan tersebut diharapkan dapat mempertahankan ketahanan pangan dari ancaman El Nino yang dapat berdampak pada krisis pangan dan gizi hingga inflasi.

Penulis: Dwi Melati Sukma, Mahasiswa, Institut Pertanian Bogor

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *