Kesalahan yang Terus Berulang | Jurnalpost

Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

JurnalPost.com – Cincin api (ring of fire) berkobar sekali lagi pada 3 Desember silam ketika Gunung Marapi di Sumatra Barat meletus, memuntahkan jutaan abu lebih tinggi dari gunung berapi itu sendiri ke langit tanpa adanya peringatan. Bagi penduduk setempat, peristiwa semacam itu boleh jadi sesuatu yang rutin. Marapi, gunung berapi paling aktif di Sumatra, meletus setiap dua hingga empat tahun.

Tapi kali ini peristiwanya amat tragis. Letusan ini merenggut nyawa 23 para pendaki yang berada di gunung berapi ketika tiba-tiba terbangun. Kita berdoa buat para korban dan semoga keluarga mereka tetap berlaku sabar. Tapi pada saat yang sama kita percaya pihak berwenang harus dimintai pertanggungjawaban atas kematian tersebut. Para pendaki tentu akan membatalkan rencana mereka jika pihak berwenang melarang aktivitas mendaki gunung berapi. Tetapi pada kenyataannya, pihak berwenang terus mengeluarkan izin mendaki meskipun ada peringatan dari ahli vulkanologi.

Setidaknya 75 orang mendaki Marapi pada hari terjadinya bencana. Mereka telah diizinkan naik menuju puncak gunung berapi, meskipun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah meminta otoritas setempat untuk menjauh dari puncak untuk keselamatan. Sebelum bencana yang mematikan itu, Marapi berada pada tingkat peringatan tertinggi kedua dari sistem empat tingkat PVMBG. Level ini seharusnya melarang kegiatan apa pun dalam radius 3 kilometer kawah, karena Marapi memiliki sejarah letusan freatik, yang terjadi tanpa sinyal apapun sebelumnya.

PVMBG hanya dapat memberikan rekomendasi kepada Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat. Selebihnya itu tergantung pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan lembaga setempat untuk menegakkannya. Demikian ungkap kepala PVMBG baru-baru ini. Pejabat lokal di Marapi sebetulnya tidak kurang memahami pelajaran masa lalu. Pada 2017, 16 pendaku terjebak di Marapi ketika tiba-tiba meletus. Untungnya, mereka semua dievakuasi dengan aman, dan keberuntungan ini berlanjut hingga awal tahun ini ketika Marapi menjalani beberapa letusan freatik tanpa korban.

Menanggapi bencana fatal minggu lalu, kepala PVMBG Hendra Gunawan sangat marah, mengatakan pihak berwenang “seharusnya belajar dari insiden 2017, tetapi sebaliknya, mereka membiarkannya terjadi lagi.” Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengklaim telah mengeluarkan izin mendaki setelah mendapatkan lampu hijau dari otoritas setempat, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sumetera Barat. BKSDA juga mengatakan telah memperingatkan pendaku untuk menghindari kawah.

Belakangan, kepala penjabat BKSDA, Dian Indriati, mengakui kepada media bahwa lembaga tersebut telah memperhitungkan faktor-faktor selain keselamatan yang diperhitungkan dalam penerbitan izin pendakian, termasuk “dampak positif pada ekonomi lokal”. Kita menghargai pentingnya pariwisata untuk kesejahteraan orang-orang di wilayah ini, tetapi keuntungan materi tidak boleh datang dengan mengorbankan jiwa manusia. Letusan mematikan Marapi harus berfungsi sebagai alarm bagi pemerintah untuk tidak meninggalkan mitigasi bencana gunung berapi. Lebih dari 200 juta orang tinggal di sepanjang Cincin Api Pasifik. 5 juta diantaranya tinggal berdekatan dengan gunung berapi aktif yang, seperti Marapi, yang dapat meletus kapan saja tanpa tanda-tanda sebelumnya.

Sudah waktunya bagi pihak berwenang untuk memprioritaskan keselamatan alih-alih sekadar uang tunai dalam manajemen gunung berapi. Mereka dapat mulai dengan menghentikan izin hiking untuk 18 gunung berapi aktif berbahaya yang dapat meletus kapan saja. Lebih lanjut, pemerintah harus berinvestasi lebih banyak dalam mitigasi bencana, seperti sistem peringatan dini dan pendidikan publik tentang prosedur evakuasi.

PVMBG mengklaim alarm untuk Marapi telah dicuri beberapa kali sepanjang tahun. Ini menghambat pemantauan gunung berapi. Sayangnya, sudah terlambat untuk menyelamatkan nyawa para pendaku 3 Desember. Tetapi mengingat gencarnya aktivitas vulkanik di Indonesia, kita perlu persiapan yang serius sekarang guna menyelamatkan nyawa di masa depan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita belum mendapatkan peringatan.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *