Kisah Inspiratif Tentang Harmoni Antar Agama di Desa Jolotigo

Foto: Dok. Tya diah

JurnalPost.com – Desa Jolotigo, tanggal 27 September 2023 – Pada saat ini perbedaan menjadi hal yang lumrah di kalangan masyarakat, akan tetapi dari banyaknya perbedaan yang ada biasanya dapat menyebabkan suatu perpecahan.Namun Hal yang berbeda terjadi di Desa Jolotigo, disana perbedaan yang ada pada warga Desa Jolotigo malah membuat mereka hidup rukun dan damai. Desa Jolotigo yang bertempat di Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan lebih tepatnya di Dukuh Purbo terdapat dua agama yang di yakini pada masyarakat disana, yaitu Islam dan Kristen Protestan. Desa Jolotigo telah menciptakan kisah inspiratif tentang harmonisnya perbedaan antar agama. Di tengah perbedaan keyakinan, desa ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana persatuan dalam perbedaan bisa memperkuat hubungan antar masyarakat di dalamnya bukan menjadi perpecahan.

Desa Jolotigo dikenal sebagai “Desa Moderasi Beragama” karena di desa ini terdapat dua agama, yaitu Islam dan Kristen Protestan. Masyarakat Desa Jolotigo hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Perbedaan agama di desa tersebut membuat persatuan semakin kokoh, mereka tidak membedakan satu sama lain hanya karena kepercayaan. Meskipun kepercayaan mereka berbeda tidak menjadi penghalang bagi warga desa untuk saling menghormati dan bertoleransi. Pak Fatmo, selaku ketua karang taruna, mengatakan ”Untuk kepercayaan kan urusan pribadi ya? Jadi ketika kita bermasyarakat ya ayo kita bermasyarakat tanpa harus memandang agama apa yang kita anut. Justru yang baik dari agama kita ayo kita amalkan di kehidupan bermasyarakat.”

Bahkan ketika ada perayaan hari raya umat Islam maupun umat Kristiani, mereka saling bertoleransi dengan saling membantu dan juga berpartisipasi pada acara tersebut. “Ketika hari raya Idul Fitri, kami para umat Kristiani ikut mengucapkan selamat kepada tetangga-tetangga muslim kami. Begitu pula ketika ada acara di gereja, para anggota Banser juga ikut menjaga keamanan.” Tutur Pak Fatmo. Tidak hanya dalam perayaan agama, warga Desa Jolotigo juga menunjukkan keharmonisan perbedaan agama ini dalam tindakan nyata. Seperti ketika membangun masjid ataupun gereja, para warga bersatu padu saling membantu tanpa memikirkan perbedaan kepercayaan yang apa yang dianut setiap individu. Semangat gotong royong dan kerjasama antar umat beragama menjadi nilai yang sangat dijunjung tinggi di desa ini.

Foto: Dok. Eisa Rahma Kian

Baru-baru ini, Di Dukuh Purbo, yang merupakan salah satu dukuh di desa Jolotigo, akan dibangun sebuah surau kecil ditengah-tengah sawah. Hal ini bertujuan untuk memberikan kemudahan beribadah kepada para petani. Dikarenakan jarak dari sawah ke perkampungan cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki, yaitu sekitar 1-1,5 Km, maka masyarakat desa tersebut berniat membangun surau di tengah sawah. Tanah yang digunakan untuk membangun surau tersebut merupakan tanah wakaf dari warga Cilegok, Kecamatan Wonotunggal yang berbatasan langsung dengan Dukuh Purbo. Hal ini merupakan contoh konkret bagaimana toleransi antar agama dalam berkolaborasi untuk menjunjung tinggi kepentingan bersama.

Desa Jolotigo adalah bukti bahwa persatuan dalam perbedaan merupakan salah satu nilai yang kuat dan dapat memberikan inspirasi bagi desa yang lain atau tempat-tempat yang di dalamnya terjadi perbedaan agama. Kisah harmonis antar agama di desa Jolotigo ini adalah bukti bahwa di tengah-tengah perbedaan, tidak selalu menimbulkan konflik dan perpecahan melainkan ada juga ruang bagi kerukunan dan persatuan. Desa moderasi beragama juga harus di tanamkan di desa yang lain yang memiliki perbedaan agama juga. Karena lingkungan yang menjunjung tinggi kedamaian dan rukun akan membuat hidup tenteram.

Penulis: Eisa Rahma Kian
Prodi: Komunikasi dan Penyiaran Islam
Mahasiswi UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *