Kontekstualisasi Kapitalisme dalam Lima Fungsi yang Relevan

Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin
Pengamat Media, Korupsi, Demokrasi, dan Budaya Lokal. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas

JurnalPost.com – Karya teoretis mengenai kapitalisme tidak hanya mencerminkan konsep dan ideologi, tetapi juga tercermin dalam konteks zaman di mana teori tersebut ditulis. Dalam konteks sejarah, para pemikir ekonomi seperti Malthus (1798) dan Ricardo (1817) merespon realitas ekonomi Inggris dan Prancis pada zamannya, di mana sektor pertanian menjadi kekuatan ekonomi paling dominan.

Malthus, menyaksikan dampak peningkatan populasi, mengidentifikasi stagnasi upah pertanian dan lonjakan sewa tanah. Peristiwa ini, menurutnya, menjadi pemicu Revolusi Prancis pada 1789. Malthus menganjurkan solusi untuk mencegah revolusi potensial di Britania Raya dengan menghindari overpopulation, sementara Ricardo menyarankan peningkatan pajak pada tuan tanah sebagai solusi (Casson dan Rössner, 2022).

Pada tahun 1867, Marx mentransfer analisisnya ke ranah ekonomi industri. Dia menyoroti ciri khas industri yang memiliki potensi pertumbuhan tanpa batas, berbeda dengan pertanian yang terbatas oleh luas tanah. Marx meramalkan konsentrasi modal di tangan industrialis dan mengajukan puncak revolusioner, baik melalui penurunan tingkat pengembalian modal yang memicu konflik industri, atau persatuan pekerja yang memberontak.

Tahun 1942, Schumpeter merespons analisis Marx dengan memasukkan peran wirausahawan dalam naratif kapitalisme melalui karyanya “Capitalism, Socialism and Democracy”. Schumpeter melihat dampak karya John Maynard Keynes, “The General Theory of Employment, Interest and Money” (1936), dan merenungkan transformasi ekonomi dan sosial pasca-Perang Dunia Kedua. Dalam refleksi masa depan kapitalisme, Schumpeter mengusulkan bahwa kapitalisme akan beralih damai menuju sosialisme melalui proses demokratis.

Sejatinya, setiap individu dalam kapitalisme memiliki peran yang relevan. Fungsi-fungsi ini mencakup kewirausahaan, keuangan, manajemen, pekerja, dan pemimpin politik. Meskipun Marx dan Schumpeter membahas kewirausahaan, pekerja, dan pemimpin politik, tambahan dua fungsi, keuangan dan manajemen, memberikan dimensi analisis yang lebih luas.

Kewirausahaan, dalam pandangan Kirzner dan Schumpeter, memunculkan dua perspektif berbeda. Kirzner melihat wirausahawan sebagai koordinator yang menggunakan informasi harga untuk mencari peluang, sementara Schumpeter melihat mereka sebagai inovator yang merestrukturisasi ekonomi melalui pengembangan sektor baru.

Keuangan, sebagai fungsi penting, diperlukan untuk mendirikan perusahaan. Meskipun beberapa peluang bisnis bisa didanai secara individu, peluang yang lebih besar memerlukan sumber keuangan dari berbagai pihak. Meskipun Marx tidak mendalami rincian perolehan keuangan untuk produksi, Schumpeter mencatat bahwa peminjaman uang adalah cara umum untuk mendanai bisnis.

Manajemen, sebagai fungsi ketiga, menjadi fokus analisis Knight (1921). Knight menyoroti bahwa manajer dalam perusahaan saham bersama memiliki independensi yang meningkat dari pemilik. Meskipun aspek pembagian manajemen dan kepemilikan dapat memiliki dampak negatif, Chandler dan Porter menemukan kontribusi positif manajer terhadap pertumbuhan perusahaan (Casson dan Rössner, 2022).

Posisi pekerja, menurut Marx, memiliki sedikit otonomi dalam teori kapitalisme. Marx melihat eksploitasi oleh majikan yang memanfaatkan “nilai surplus” yang dihasilkan dari pekerja. Di sisi lain, Schumpeter memberikan pandangan optimis, memungkinkan pekerja naik ke posisi pendiri bisnis dengan menabung, kendati dengan tantangan dan kebutuhan modal tambahan.

Kepemimpinan politik, melibatkan identitas dan tindakan para pemimpin, memunculkan perdebatan. Marx dan Engels menyatakan bahwa latar belakang pemimpin politik seringkali mencerminkan kepentingan pemilik, namun dengan kemungkinan perbaikan melalui serikat pekerja dan peningkatan komunikasi dalam konteks industrialisasi. Schumpeter, sebaliknya, melihat hubungan erat antara kapitalisme dan demokrasi, dengan dorongan untuk meningkatkan keputusan politik yang terinformasi (Casson dan Rössner, 2022).

Alhasil, analisis lima fungsi dalam konteks kapitalisme mengeksplorasi dimensi ekonomi, sosial, dan politik. Meskipun teori-teori ini muncul dalam konteks sejarah dan ekonomi yang berbeda, pemahaman terhadap fungsi-fungsi ini memberikan wawasan mendalam terhadap dinamika kapitalisme yang terus berkembang hingga detik ini.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *