Mahasiswa Rantau Berbagi Kisah, Tantangan dan Pengalaman

Oleh: Taro An’umillah, Mahasiswi IPB University Prodi Komunikasi Digital dan Media

JurnalPost.com – Halo kenalin nama aku Taro An’umillah, aku lahir dan besar di kota pahlawan yaitu kota Surabaya. Kota yang banyak kenangan keluarga, percintaan, pertemanan, dan pendidikan. Aku lulus di salah satu sma di kota Surabaya bagian timur yaitu SMA Muhammadiyah 7 Surabaya, di sma itulah aku belajar banyak hal yang dulu nya aku di sd ataupun smp siswa yang introvert dan kurang percaya diri dengan kemampuan. Di sma inilah aku bisa menjadi diri ku sendiri, aku bias seperti apa yang aku mau di sd ataupun smp menjadi siswa berprestasi ataupun dikenal oleh teman-teman dan juga guru.

Setelah melanjutkan pendidikan SMA aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di kota hujan. Ya, aku melanjutkan di Sekolah Vokasi IPB University Prodi Komunikasi Digital dan Media melalui jalur Undangan atau USMI IPB. Aku adalah lulusan pertama dari sma itu yang melanjutkan di IPB, banyak sekali yang harus aku pelajari, adaptasi, dan membangun kehidupan baru di kota ini.

Sebagai anak rantau, aku merasakan perasaan senang, sedih, khawatir, dan tantangan. Ada rasa gembira dan semangat untuk menjelajahi dunia baru dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, budaya yang berbeda dari suku mayoritas jawa menjadi mayoritas suku sunda. Ditantang menjadi lebih mandiri, dulu selalu orang tua terlibat dalam segala aspek. Saat ini menjadi anak rantau harus mengatur kehidupan sehari-hari, manajemen waktu, manajemen keuangan, tanpa bantuan langsung dari orang tua, mengatasi sebuah permasalahan, rintangan, dan lebih mandiri dalam pengambilan keputusan. Selain tantangan tersebut ada rasa rindu kepada keluarga di rumah, teman-teman, dan kota Surabaya.

Setelah liburan yang sangat menyenangkan dan membangkitkan semangat di tanah kelahiran yaitu Surabaya, perjalanan bagi seorang mahasiswa rantau untuk menempuh pendidikan adalah momen yang sedih karena tiba saatnya untuk kembali ke kota rantau. Hampir empat minggu menikmati momen bersama keluarga dan teman-teman di kampong halaman, dan momen dimana aku harus kembali lagi ke perantauan setelah sudah terlanjur nyaman di rumah dengan keluarga, harus mulai sendirain lagi di kost, harus membiasakan diri lagi dengan segala kesepian. Tapi bagaimanapun aku harus tetap bertanggung jawab dengan apa yang aku pilih dan harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai.

Ditemani dengan keluarga, aku meninggalkan rumah menuju Stasiun Pasar turi menggunakan motor. Selama di motor aku menyempatkan cerita-cerita dengan adik dengan kebisingan kendaraan lainnya, sampai keasikan ngobrol kita terlewat dari stasiun. Oh iya, aku menggunakan kereta Dharmawangsa kelas ekonomi, aku berangkat dari Surabaya jam 22.30 sampai Jakarta Pasar Senen jam 09.01. Sampai Stasiun aku menunggu kedatangan kereta, di ruang tunggu. Selama menunggu kereta aku di temani oleh keluarga, kita menyempatkan mengobrol dan bunda menasehati aku selama nanti di tanah rantau.

Beberapa saat kemudian keretapun tiba, aku berpamitan dengan keluarga dan juga adikku. Sebelum memasuki tempat pengecekan data diri seperti tiket dan identitas, aku menggambil kartu identitas di dompet untuk mudah proses pemeriksaan karena aku memesan tiket kereta melalui aplikasi KAI jadi aku tidak mencetak tiket, hanya menunjukkan tiket melalui hp saja. Lalu aku menuju pintu masuk, disana terdapat sejumlah petugas keamanan yang bertugas untuk melakukan pemeriksaan tiket dan kartu identitas diri dari penumpang sebelum memasuki area stasiun.

Saat tiba di pintu masuk, aku berbaris bersama penumpang lainnya yang akan memasuki paron kereta. Lalu aku memberikan kartu identitas dan menunjukkan hp ku kepada petus keaamanan. Petugas keamanan kemudian memeriksa tiket kereta untuk memastikan tanggal, tujuan, jenis kereta sesuai dengan yang tertera dalam sistem, dan memastikan kartu identitas untuk menverifikasi data dan memastikan bahwa nama dan foto di kartu sesuai dengan yang terdaftar dalam sistem.

Setelah pemeriksaan selesai dan semuanya terverifikasi dengan benar, petugas memberikan hp dan kartu identitas ku. Dan petugas tersebut mengucapkan selamat jalan, hati-hati di jalan dan selalu menjaga barang bawaan selama di kereta. Lalu aku melangkah masuk ke dalam stasiun, dan aku masuk kedalam gerbong sesuai dengan tiket yang aku beli. Setelah sampe gerbong yang sesuai aku mencari tempat duduk, yang sesuai aku pesan. Lalu aku menemukan temoat duduk yang aku pesan, lalu barang bawaan ku di bantu oleh porter untuk ditaruh di atas.

Beberapa saat kemudia kereta pun jalan, selama di kereta aku melihat keluar jendela dengan perasaan sedih, merenung dan berfikir bahwa perubahan-perubahan yang telah aku alami selama ini. Aku menyadari bahwa meskipun aku telah tumbuh dan berkembang di kota Bogor tempat menempuh pendidikan, tetapi akarnya tetap ada di tanah rantau. Kampung halaman adalah tempat di mana aku merasa terhubung secara mendalam dengan diriku sendiri dan identitasku.

Meskipun perjalanan panjang, aku siap menghadapinya dengan semangat, tekad yang baru, dan doa bunda. Di dalam hatiku aku akan membawa sebuah kenangan indah dari liburan dan harapan untuk masa depan yang cerah di kota hujan ini untuk menempuh pendidikan. Perjalanan kembali ke tanah rantau setelah liburan semester adalah pengalaman yang menginspirasi bagi seorang mahasiswa rantau sepertiku. Banyak sekali tantangan dan kerinduan, namun momen tersebut yang akan mempersiapkan untuk menghadapi tahap baru dalam perjalanan pendidikan dan kehidupan berikutnya.

Beberapa saat kemudian tiba di stasiun Lamongan, ada seorang wanita duduk di sebelah ku. Karena aku anak komunikasi yang sok kenal sok dekat aku tanya “turun mana mbak?”, “Semarang mbak, mbak nya turun mana? Ucap nya “Pasar senen mbak, mbak nya kuliah atau kerja? Tanya ku “oh berarti duluan saya ya?, saya kuliah mbak di semarang” ungkapnya “iya mbak, ngerantau juga ya sama kita mbak, tapi mbak nya enak bisa pulang gk terlalu jauh” ungkap sambat ku, “ya gak to, kalau pulang terus uang nya mbak nanti boros. Saya sama kok seperti mahasiswa umum nya pulang hanya libur semester atau dapet jatah libur dari kampus” gurau nya “iya bener sih mbak, jadi anak rantau tuh sulit ya.

Apalagi seperti ini, balik ke tanah rantau lagi padahal udah nyaman di rumah eh harus adaptasi lagi” curhat ku, “bener mbak, kalau di rumah ada mama yang masakin, beresin kamar, cerita kegiatan sehari-hari, sekarang serba sendiri dan komunikasi melalui telpon. Mbak nya kuliah atau kerja, sampai lupa saya” cerita nya “hahaha iya mbak bener, saya kuliah di bogor. Apalagi nih mbak ya, saya kan turun di Jakarta ini nanti habis dari Jakarta saya naik krl untuk menuju bogor nya, kalau naik transportasi online mahal bisa dua kali lipat dari saya beli tiket ini hahaha” curhat ku “yaallah mbak pasti capek ya, harus transit dulu. Semoga apa yang kita lakukan untuk berpendidikan ini menjadi lading pahala bagi kita ya mbak dan bias membanggakan kedua orang tua kita aamiin” ungkap nya “aamiin mbak” ucapku.

Selama perjalanan kita menceritakan kegembiraan menjelajahi dunia baru di kota tempat menempuh pendidikan, seperti teman baru yang ditemui, pengalaman belajar yang berbeda dengan sekolah, dan kegiatan kita untuk mengembangkan diri. Namun dibalik kegembiraan, kita juga mengakui bahwa menjadi anak rantau tidak selalu mudah. Kita merasa rindu akan keluarga dan teman-temannya di kampung halamannya, serta menghadapi tantangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Kita menceritakan juga berbagi tentang kesulitan selama merantau, awalnya dalam mencari tempat tinggal yang sesuai dan masalah keuangan yang dialami. Mereka juga berbicara tentang perasaan kesepian dan rindu yang sering kali menghantui pikiran mereka, terutama saat momen-momen penting seperti ulang tahun atau hari libur.

Saat kita saling berbagi cerita, kita merasakan kedekatan yang erat. Kita menyadari bahwa menjadi anak rantau tidak hanya tentang kegembiraan dalam mengejar impian, tetapi juga tentang menghadapi tantangan dan kesulitan yang datang bersamanya. Namun, kita juga menyadari bahwa pengalaman ini memperkuat ketahanan kita, membangun karakter, dan memberi kita kesempatan untuk tumbuh sebagai individu yang lebih kuat. Setelah menceritakan kisah hidup kita satu sama lain, akhirnya kita terlelap.

Ketika pukul 2 dini hari kaka perempuan itupu turun terlebih dahulu karena tujuan nya sudah sampai. Aku bersyukur di pertemukan wanita itu karena aku bisa berbagi pengalaman.Kita sebagai anak rantau, dan menyadari bahwa walaupun duka terkadang datang sebagai bagian dari pengalaman menjadi anak rantau, namun ada kekuatan dan kebijaksanaan yang dapat diambil dari setiap tantangan yang mereka hadapi.

Aku pun duduk sendiri, sampai menunggu tujuan akhir ku, aku tidur lagi, hingga pagi hari. Lalu aku bosan duduk terus menerus aku jalan pergi ke gerbong makan untuk mencari makan disana dan menikmati pemandangan makan di dalam kereta sensasi nya berbeda. Lalu setelah makan, aku kembali ke tempat duduk ku. Tidak terasa kereta Dharmawangsa sudah sampai tujuan Stasiun Pasar Seenen, kereta tersebut berhenti lalu bapak porter menawarkan jasa mereka untuk membantu aku.

Aku memanggil salah satu bapak porter untuk membantu barang ku untuk di bawakan ke kereta penungguan KRL, karena aku harus naik KRL menuju ke Kota Bogor. Lalu bapak tersebut membantu aku untuk menuju ke tempat krl, aku tap kartu emoney aku untuk bisa masuk. Lalu aku memberikan sedikit uang telah membantu aku, bapak itupun menerima dan mengucapkan terimakasih. Beberapa saat kemudia krl pun datang, aku Tarik koper ku untuk masuk kedalam krl

Tujuan akhir ku stasiun Bogor, akan tetapi aku harus transit ke Stasiun Manggarai lalu Stasiun bogor. Tiba di Stasiun Manggarai aku harus naik ke atas, untuk menunggu kereta ke Stasiun Bogor. Lalu tiba lah kereta menuju stasiun bogor, bersyukurnya aku bias mendapatkan tempat duduk. Sampai menunggu krl berhenti di stasiun akhir aku tertidur di perjalanan dan menempuh waktu kurang lebih jam tibalah krl tersebut di stasiun akhir Bogor.

Aku turun dari krl, lalu aku memesan transportasi mobil online dan aku tunggu di depan alun-alun kota Bogor. Beberpa menit kemudian abang nya datang, selama di perjalanan hanya suara music yang terdengar. Sambal menikmati perjalanan bogor aku menikmati suasana kota hujan ini setelah beberapa minggu libur semester, dan beberapa saat kemudian tibalah aku di tujuan yaitu kos. Dan dari sini aku menyimpulkan bahwa pengalaman menjadi seorang mahasiswa rantau adalah perjalanan yang penuh dengan tantangan, perubahan, dan pertumbuhan pribadi.

Dalam perjalanan tersebut, aku merasakan beragam emosi, mulai dari kegembiraan menjelajahi dunia baru hingga rasa rindu akan kampung halaman. Meskipun dihadapkan pada kesulitan dan tantangan, aku sebagai anak rantau juga menemukan dukungan sosial dari teman-teman sejawat dan komunitas mahasiswa rantau lainnya. Melalui perjalanan ini, aku belajar untuk mandiri, mengatasi hambatan, dan tumbuh sebagai individu yang lebih kuat dan dewasa. Harapan utama dari pendidikan di tanah rantau adalah untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk meraih impian dan membangun masa depan yang lebih baik, sambil tetap menghargai dan terhubung dengan akar dan identitas ku.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *