Mahasiswi ISI Padang panjang Tampilkan Salawaik Dulang Padusi Saat Ramadan

JurnalPost.com – Dua orang perempuan Minangkabau asal Agam menampilkan Salawaik Dulang Padusi pada live IG bertajuk Ngabuburau – Ngabuburit Sambia Bagurau pada 3 April 2024, yang diselenggarakan oleh Yayasan Budaya Taufik Adam, Forum Komponis Muda Sumatera Barat, dan Studio Record 145. Mereka bernama Yurnalis dan Ananda Riyani, mahasiswi tingkat akhir Prodi Seni Karawitan di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang.

Pada tahun 2010, Salawaik Dulang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) untuk Tradisi dan Ekspresi Lisan dari Provinsi Sumatera Barat. Salawaik Dulang biasanya dibawakan oleh laki-laki di Minangkabau sebagai bentuk salam dan doa untuk Nabi Muhammad SAW yang dilantunkan dengan iringan dulang, yakni piring besar yang terbuat dari logam kuningan. Menariknya, kali ini Salawaik Dulang ditampilkan oleh perempuan.

“Kami mulai belajar Salawaik Dulang sejak tahun 2021. Awalnya hanya untuk memenuhi tugas mata kuliah,” ujar Yurnalis. Saat itu mereka dibantu oleh teman satu kampus untuk menghafal lirik dari kesenian islami ini. Menurutnya, ketertarikan untuk mendalami kesenian ini mulai muncul saat itu.

Hal serupa juga disampaikan oleh Ananda. “Keyakinan untuk menekuni Salawaik Dulang semakin kuat ketika kami diundang tampil di Nagari Koto Tuo – Agam untuk mengisi acara masyarakat di sana. Tepatnya beberapa bulan setelah tugas mata kuliah berakhir. Alhamdulilah, respon masyarakat baik,” papar Ananda. Semenjak itu, mereka sering diundang tampil untuk mengisi acara masyarakat nagari di beberapa tempat Sumatera Barat.

Mereka menambahkan unsur hiburan pada bagian penutup lagu cancang, bagian terakhir dari Salawaik dulang. Ada tiga irama lagu pop Minang yang dimasukan sebagai unsur hiburan. Liriknya jenaka dan mengundang gelak tawa tapi tetap dengan unsur yang memberikan edukasi bagi masyarakat.

“Kami menyelipkan unsur hiburan agar lebih menjangkau masyarakat yang lebih luas. Selama ini banyak yang menganggap Salawaik Dulang sulit dinikmati oleh kalangan muda. Jadi selain melantunkan syair yang berisi kajian agama dan salawat, sekarang diselipkan pesan-pesan sosial melalui irama hiburan. Jadi tetap dengan nilai-nilai awal, tapi dikemas kekinian,” Jelas Yurnalis.

Yurnalis menjelaskan, kesulitan awalnya ketika menghafal lagu. Tapi Lambat laun, semakin sering tampil, skillnya makin terasah. Tiap kali penampilan pasti selalu ada irama dendang baru yang ditambahkan.

Ananda menceritakan pengalaman lucu saat tampil Salawaik Dulang. “Kami pernah tampil saat Kemah Bakti Mahasiswa (KBM) Prodi Seni Karawitan ISI Padangpanjang di Maninjau. Saat itu kami mengambil nada terlalu tinggi di awal. Jadi ketika nada yang lebih tinggi, suara kami tidak keluar karena nada tidak sampai. Kawan-kawan yang hadir saat itu serentak tertawa, masyarakat juga,” kenang Ananda.

Yurnalis mengakui menekuni Salawaik Dulang karena bisa bersholawat sembari berkesenian. Selama ini sangat jarang ada grup Salawaik Dulang yang dibawakan oleh perempuan. Kalaupun ada, tak banyak dan personelnya berasal dari kalangan tua. “Perempuan juga bisa membawakan Salawaik Dulang, tidak hanya laki-laki,” ujarnya.

Yurnalis maupun Ananda mengakui bahwa aktivitas ini didukung oleh orang-orang di sekitarnya. Keluarga, teman-teman maupun dosen di kampus ISI Padangpanjang memberi motivasi agar mereka terus mengasah kemampuan untuk memainkan Salawaik Dulang.

“Awalnya kami punya ketakutan apakah masyarakat menerima perempuan membawakan Salawaik Dulang. Syukurlah masyarakat memberikan tanggapan positif. Dukungan dari orang terdekat menjadi semangat kami untuk terus maju,” aku Yurnalis.

Ananda menyebutkan bahwa sedang mencari nama grup. “Kami sedang mencari nama grup yang cocok. Sekaligus menabung agar punya dulang sendiri. Selama ini kami menggunakan dulang pinjaman,” cerita Nanda.

Yurnalis juga menyampaikan bahwa mereka termotivasi untuk membawakan Salawaik Dulang hingga ke kancah internasional. Ia juga berpesan agar teman-teman muda tidak malu untuk membawakan seni tradisi yang ada di Minangkabau.

Senada dengan itu, Taufik Adam selaku pendiri dari Yayasan Budaya Taufik Adam yang menyelenggarakan live Instagram “Ngabuburau” ini menyebutkan bahwa Salawaik Dulang Padusi adalah hal yang langka di Minangkabau.

“Kehadiran Salawaik Dulang Padusi penting untuk didukung. Perempuan juga punya peran dalam pemajuan kebudayaan. Yayasan Budaya Taufik Adam berkomitmen untuk mendukung agar pelaku-pelaku budaya bisa berdaya dalam mengembangkan budaya tradisi di Indonesia,”ujarnya.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *