Masyarakat Enggan Berwisata Dalam Negeri Dikarenakan Harga Tiket Yang Melonjak Tinggi

Pesawat Penerbangan Domestik di Bandar Udara Internasional El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (2/9/2023). Foto: Alicia Lily Michaela Padu/Dok. Pribadi

JurnalPost.com – Baru-baru ini muncul sebuah video yang ramai diperbincangkan di jagat maya. Kreator video ini membahas tentang pengalamannya yang sering kali walaupun tujuan lokasinya masih dalam lingkup domestik tetapi harus melakukan transit di negara-negara tetangga. Sebenarnya isu yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi para pengguna transportasi jalur udara di Indonesia. Negara kita termasuk dalam negara yang memiliki harga tiket penerbangan domestik yang tergolong tinggi. Tingginya harga tiket penerbangan domestik ini khususnya terjadi pada penerbangan ke wilayah Indonesia bagian timur dan beberapa wilayah lainnya.

Isu tingginya harga tiket penerbangan domestik ini tentu mempengaruhi beberapa aspek yang berkaitan erat dengan transportasi. Salah satu aspek yang memiliki keterkaitan erat dengan isu ini adalah pada aspek pariwisata Indonesia. Pariwisata adalah salah satu aspek penting bagi sumber pendapatan negara. Kegiatan-kegiatan kepariwisataan seperti retribusi tempat rekreasi dan olahraga, pajak hotel dan restoran, pajak hiburan, dan lain-lain merupakan aktivitas-aktivitas turis yang menjadi pemasukan besar negara. Indonesia sendiri memiliki tingkat wisatawan mancanegara yang terus meningkat. Pada September 2023 lalu, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia mencapai 1,07 juta kunjungan. Sayangnya tingginya data kunjungan wisman ke Indonesia ini tidak bisa diimbangi dengan kunjungan wisatawan domestik.

Banyak dari masyarakat Indonesia yang merasa enggan untuk pergi berlibur dengan menggunakan penerbangan yang ada mengingat tingginya harga tiket domestik. Bahkan banyak dari mereka yang lebih memilih untuk pergi berlibur ke negara-negara tetangga kita, sebut saja negara Singapura, Malaysia, dan Thailand. Hal ini dikarenakan tiga negara ini merupakan negara tetangga dengan ketentuan bebas visa bagi mereka yang memiliki paspor elektronik. Selain itu negara-negara tersebut juga termasuk destinasi wisata yang ramah di kantong wisatawan WNI. Lalu faktor yang juga tidak bisa dikesampingkan adalah harga tiket pergi-pulang yang bisa didapatkan di harga di bawah Rp1.000.000.

Berbanding terbalik dengan harga tiket penerbangan ke negara-negara tetangga tersebut, harga tiket domestik di Indonesia dengan jarak yang jauh lebih dekat dapat mencapai harga yang lebih tinggi hanya untuk oneway trip. Tidak heran banyak warga Indonesia yang lebih memilih menggunakan transportasi udara ini untuk berlibur ke luar negeri. Bahkan harga-harga tiket penerbangan domestik di berbagai maskapai di tahun ini banyak yang mematok harga yang lebih tinggi ketimbang harga tiket pada tahun 2019 sebelum tersebarnya virus Covid-19. Permasalahan ini juga telah ditelaah lebih lanjut oleh pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang berpendapat bahwa kurangnya jumlah pesawat, minimnya jumlah penerbangan, sedikitnya ketersediaan kursi, serta tingginya harga bahan bakar menjadi penyebab tingginya harga tiket penerbangan domestik.

Rendahnya Tingkat Wisatawan Domestik
Persoalan tingginya harga tiket penerbangan domestik berdampak buruk bagi angka kunjungan pariwisata dari warga negara Indonesia itu sendiri. Pemerintah Indonesia sendiri sudah sangat sering menyuarakan dan melakukan tindakan-tindakan untuk mendongkrak tingkat wisatawan domestik. Namun sayangnya langkah-langkah tersebut masih belum dapat bekerja dengan maksimal, terkendala dengan berbagai macam aspek salah satunya yaitu di bidang. Seringkali pihak pemerintahan menyuarakan masyarakat untuk mencintai kekayaan alam dan kebudayaan Indonesia. Mereka ingin mendorong tingkat wisatawan domestik. Namun, suara-suara dari masyarakat terkait dengan hal ini masih cenderung diabaikan dan kurang adanya tindakan konkret. Padahal jika dibandingkan dengan negara tetangga dengan jarak tempuh yang sama, harga tiket yang dipatok jauh lebih murah. Hal ini juga akibat dari monopoli dari beberapa maskapai penerbangan. Seharusnya hal seperti ini lebih diperhatikan oleh pemerintah.

Solusi Yang Dapat Dilakukan
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menangani permasalahan ini. Misalnya dengan memprioritaskan rute menuju destinasi wisata unggulan, penambahan jumlah penerbangan dan kursi, dan melakukan diversifikasi sumber energi. Solusi-solusi ini dapat menjawab berbagai macam persoalan yang menyebabkan harga tiket penerbangan domestik menjadi tinggi. Destinasi-destinasi wisata unggulan menjadi sangat penting untuk diprioritaskan, karena hal ini tidak hanya membantu menaikkan tingkat penggunaan penerbangan domestik tetapi juga meningkatkan kunjungan wisatawan domestik. Berikutnya yaitu penambahan jumlah penerbangan dan kursi. Salah satu penyebab dari tingginya harga tiket domestik yaitu minimnya penerbangan yang tersedia, dengan aktivitas yang semakin langka maka harga yang dipatok juga menjadi semakin tinggi. Meningkatkan jumlah penerbangan dan kursi dapat menyebabkan kenaikan frekuensi penerbangan dan apabila dilakukan dalam jangka panjang maka bisa membuat harga tiket rute domestik turun.

Terakhir adalah terkait dengan masalah bahan bakar. Permasalahan ini merupakan salah satu alasan utama isu tersebut. Harga bahan bakar ini menjadi naik belakangan ini terjadi karena situasi geopolitik yang sedang mengalami kendala. Namun selain itu permasalahan bahan bakar ini juga disebabkan oleh sumber bahan bakar maskapai penerbangan di Indonesia yang ternyata hanya bersumber dari satu pihak yaitu Pertamina. Jika dibandingkan dengan beberapa negara lain, sumber bahan bakar tidak hanya bersumber dari satu pihak sehingga harga yang dipatok menjadi tidak begitu tinggi. Berbeda dengan Indonesia yang bersumber dari satu pihak sehingga pihak ini dapat “mengontrol” harga bahan bakar sesuai dengan kehendak mereka sendiri. Apabila sumber bahan bakar diperbanyak, harga bahan bakar yang dipatok juga akan ikut berubah dan kemungkinan besar akan berkurang untuk persaingan.

Pada dasarnya kurangnya rasa cinta akan kekayaan alam dan budaya bukanlah persoalan utama dari minimnya wisatawan domestik di Indonesia. Banyak warga negara Indonesia yang ingin pergi berlibur dan mengekspor kekayaan bangsa. Namun keinginan ini terhalangi oleh beberapa faktor yang salah satunya yaitu tingginya harga transportasi. Oleh karena itu dengan adanya telaah lebih lanjut akan penyebab dan dilakukannya penanganan konkret terkait hal ini dapat mengatasi permasalahan tersebut sehingga juga dapat berpengaruh positif bagi tingkat wisatawan domestik di Indonesia.

Oleh: Alicia Lily Michaela Padu
Mahasiswi Jurusan Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *