Membangun Semangat Islami dalam Pembelajaran Fiqih: Mengukir Generasi Berkarakter dan Berakhlak Mulia

Oleh: Yuhani, S. Ag. Guru Fiqih MTSN 1 Merangin

JurnalPost.com – Menjadi seorang guru fiqih merupakan panggilan mulia yang tidak hanya melibatkan berbagi pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan spiritualitas peserta didik. Sebagai seorang guru fiqih bukan hanya menyampaikan informasi tentang aturan-aturan agama, tetapi juga sebagai sosok panutan yang memberikan inspirasi dan membimbing peserta didik untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang ajaran Islam.

Pendidikan agama, khususnya pembelajaran fiqih, memiliki peran krusial dalam membentuk karakter dan moralitas peserta didik. Untuk mencapai tujuan tersebut, sangat penting untuk membangun semangat Islami dalam proses pembelajaran fiqih. Semangat Islami bukan sekadar memahami aturan-aturan agama, tetapi lebih pada penghayatan, penerapan, dan internalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran fiqih seharusnya bukan hanya sekadar memahami hukum-hukum formal, tetapi juga membimbing peserta didik untuk menggali makna-makna yang terkandung di dalamnya. Guru memiliki peran sentral dalam menjelaskan tidak hanya apa yang diharuskan atau dilarang oleh agama, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam tentang filosofi di balik setiap aturan. Dengan cara ini, peserta didik tidak hanya mengikuti perintah agama secara mekanis, tetapi juga memahami akar pemikiran yang mendasarinya.

Pembelajaran fiqih juga harus mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dan kreatif dalam mengaplikasikan ajaran Islam dalam konteks kehidupan mereka. Memberikan ruang bagi diskusi terbuka dan dialog memungkinkan peserta didik untuk mengajukan pertanyaan, berbagi pandangan, dan merenungkan relevansi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka tetapi juga membangun semangat Islami yang sejati, yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan esensi nilai-nilai agama.
Pembelajaran fiqih seharusnya tidak terbatas pada pemahaman teoritis semata, melainkan harus diintegrasikan dengan praktik yang konkrit. Praktik ibadah seharusnya menjadi bagian integral dari kurikulum, dan peserta didik seharusnya diberikan kesempatan untuk mengalami dan melaksanakan ibadah secara langsung. Langkah ini akan membantu membangun semangat Islami yang kokoh, karena peserta didik dapat merasakan manfaat spiritual dan moral yang diperoleh dari menjalankan perintah agama. Sebagaimana Winda Apriani, Dkk, (2023) berpendapat bahwa, Pendidikan moral dan spiritual sangat penting untuk dipelajari peserta didik, hal ini dikarenakan mampu memberikan pengetahuan untuk peserta didik tersebut masuk ke dalam masyarakat tempat tinggalnya di masa mendatang.

Kontribusi pelajaran fiqih bagi siswa mencakup beberapa aspek penting. Pertama, pelajaran ini membantu membangun karakter religius dan meningkatkan kesadaran beribadah siswa pada Allah Swt, menjadi pedoman untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kedua, pelajaran fiqih mendorong habituasi dalam menjalankan prinsip-prinsip hukum Islam dengan keikhlasan dan perilaku sesuai norma-norma moral masyarakat.

Ketiga, pelajaran ini berperan dalam membentuk karakter disiplin dan rasa tanggung jawab. Keempat, menguatkan karakter iman, taqwa, dan akhlaqul karimah siswa seoptimal mungkin, yang sudah tertanam dalam lingkungan sosial keluarga. Kelima, pelajaran fiqih membantu membangun mental siswa terhadap lingkungan fisik dan sosial melalui pengetahuan dan keterampilan fiqih. Keenam, pelajaran ini berfungsi sebagai koreksi terhadap kesalahan atau kekurangan siswa baik dalam pengetahuan maupun keterampilan beribadah dalam kehidupan sehari-hari. Ketujuh, pelajaran fiqih memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan siswa untuk melangkah ke jenjang pendidikan berikutnya.

Tak kalah pentingnya, pembelajaran fiqih harus membantu peserta didik mengembangkan sikap toleransi dan saling menghormati terhadap perbedaan dalam beragama. Dalam masyarakat yang semakin multikultural, pemahaman tentang keragaman keyakinan dan praktik keagamaan menjadi sangat penting. Peserta didik perlu diajak untuk menghargai perbedaan dan menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama, tanpa mengesampingkan nilai-nilai Islam yang mendasar.

Penting juga untuk melibatkan komunitas dan lingkungan sekitar dalam proses pembelajaran fiqih. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan lembaga keagamaan akan memberikan dampak yang lebih besar dalam membangun semangat Islami pada peserta didik. Seminar, lokakarya, atau kegiatan bersama di luar kelas dapat menjadi sarana untuk mendukung pembelajaran formal di sekolah.

Dengan membangun semangat Islami dalam pembelajaran fiqih, kita dapat mengukir generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama yang baik tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan fiqih yang menginspirasi, memberdayakan, dan mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari akan membantu membentuk individu yang berkarakter, berakhlak mulia, dan mampu memberikan kontribusi positif pada masyarakat dan bangsa.

Sebagaiamana Pertiwi & Achadi, (2023), dalam penelitiaanya menyatakan bahwa mata pelajaran fiqih juga mempersiapkan siswa untuk memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam dengan benar. Dengan belajar fiqih, siswa dapat mengenal hukum-hukum Islam dan tata cara melaksanakan ibadah secara benar, sehingga dapat mempersiapkan diri untuk menjadi individu yang taat beragama. Fiqih juga dapat mengembangkan akhlak mulia. Fiqih bukan hanya tentang mempelajari hukum-hukum Islam, tetapi juga mengenai mengembangkan akhlak yang baik dan mulia. Dalam mata pelajaran ini, siswa akan mempelajari nilai-nilai kebaikan dan kejujuran, serta membiasakan diri untuk melakukan perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, fiqih juga dapat meningkatkan pengetahuan siswa tentang ajaran agama Islam.

Maka dalam ranah pembelajaran fiqih di madrasah, fiqih menjadi sub materi pelajaran yang tidak terpisahkan dari kurikulum materi pelajaran pendidikan agama Islam, yang diberikan oleh guru fiqih melalui aktifitas bimbingan, pengajaran, latihan, pengalaman, pembiasaan dan keteladanan. Pelajaran fiqih yang biasanya seputar persoalan keagamaan seperti ubudiyah (ibadah), akhwal al-sakhsiyah (keluarga), muamalah (masyarakat) dan siyasah (politik), meliputi pelajaran tentang fiqh ibadah, fiqh muamalah, fiqh munakahat, fiqh jinayah, fiqh siyasah, dan fiqh al-bi‘ah. Luasnya cakupan fiqih menggambarkan adanya semangat untuk mewujudkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan relasi antara manusia dengan Allah Swt, dengan sesama manusia dan dengan lingkungannya.

Dengan demikian, dalam rangka membangun semangat Islami dalam pembelajaran fiqih, tujuan utama adalah mengukir generasi berkarakter dan berakhlak mulia. Proses pembelajaran ini tidak hanya berfokus pada pemahaman prinsip-prinsip hukum Islam, tetapi juga mengarah pada pembentukan karakter yang kuat dan tinggi moral. Dengan memperkuat semangat Islami, siswa tidak hanya diajarkan untuk memahami dalil naqli dan aqli, melainkan juga diilhami untuk menjalankan prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran fiqih tidak hanya menjadi sarana akademis semata, melainkan menjadi wahana yang mampu menciptakan generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga diberdayakan oleh semangat Islami yang membentuk karakter dan akhlak mulia dalam setiap langkah kehidupan mereka.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *