Menelusuri Bias Gender di Dunia Maya Melalui Instagram @Sarahtumiwa

JurnalPost.com – Bias gender adalah kecenderungan atau prasangka terhadap jenis kelamin tertentu yang mengakibatkan ketidakadilan gender (Maulana Khusen, 2014:120). Bentuk-bentuk bias gender adalah marginalisasi, subordinasi, stereotip, kekerasan dan beban kerja (Fakih, 2005:13). Bias gender merujuk pada pandangan atau sikap yang tidak adil atau diskriminatif terhadap individu atau kelompok berdasarkan jenis kelamin. Bias ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk di dalam norma sosial, perilaku, kebijakan, dan media. Bias gender sering kali merugikan, membatasi, atau memberikan perlakuan tidak adil terhadap individu berdasarkan gender mereka, baik sebagai perempuan atau laki-laki. Bias gender dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk di dalam norma sosial, kebijakan, media, dan interaksi sehari-hari. Contoh-contoh bias gender mencakup:

1. Stereotip Gender:
Contoh: Mengasumsikan bahwa hanya laki-laki yang cocok untuk menjadi pemimpin karena persepsi bahwa mereka lebih kuat atau lebih rasional, sementara perempuan dianggap lebih baik sebagai pengurus rumah tangga karena stereotip bahwa mereka lebih baik dalam peran perawatan.
2. Kesenjangan Gaji:
Contoh: Dalam pekerjaan yang setara, perempuan sering kali mendapatkan gaji yang lebih rendah daripada rekan laki-laki mereka. Meskipun memiliki kualifikasi dan pengalaman yang sama, kesenjangan gaji ini mencerminkan bias gender dalam sistem ekonomi.
3. Objektifikasi:
Contoh: Penyajian perempuan dalam media atau iklan hanya sebagai objek seksual, mengabaikan aspek-aspek intelektual atau profesional mereka. Ini menciptakan pandangan yang membatasi peran perempuan dalam masyarakat.
4. Diskriminasi Pekerjaan dan Peluang Karier:
Contoh: Praktik-praktik diskriminatif dalam rekrutmen dan promosi yang merugikan perempuan, seperti pertanyaan-pertanyaan wawancara yang tidak relevan tentang kehamilan atau pengambilan keputusan yang didasarkan pada stereotip gender.
5. Pelecehan Seksual:
Contoh: Komentar atau perilaku yang merendahkan atau meresahkan seseorang berdasarkan jenis kelamin mereka, seperti komentar seksual tidak pantas atau pelecehan dalam lingkungan kerja atau di ruang publik.
6. Pengkodean Bahasa:
Contoh: Penggunaan kata atau frasa yang merendahkan atau menggambarkan stereotip gender. Misalnya, menggambarkan laki-laki sebagai “kuat” dan perempuan sebagai “lemah” tanpa mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan yang ada pada setiap individu regardless of their gender.

Pemahaman dan pengakuan terhadap bias gender penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan setara. Melawan bias gender melibatkan perubahan norma-norma sosial, kebijakan yang mendukung kesetaraan gender, dan kesadaran masyarakat terhadap peran mereka dalam menciptakan perubahan positif.

Seperti contohnya Model asal Jakarta yaitu Sarah tumiwa pengan nama akun @sarahtumiwa.

Komentar negatif terhadap penampilan fisik pada contoh media sosial di atas mencerminkan bias gender yang masih melekat dalam persepsi masyarakat terhadap perempuan, khususnya dalam konteks profesional. Pada komentar-komentar tersebut, fokus penilaian banyak ditempatkan pada aspek penampilan fisik daripada pencapaian profesional wanita. Ini mencerminkan pandangan yang tidak seimbang di mana perempuan diukur dan dinilai berdasarkan kriteria yang tidak relevan dengan kemampuan atau keberhasilan mereka di Dunia model.

Komentar-komentar tersebut juga mengungkapkan tekanan sosial yang tidak adil terhadap perempuan untuk selalu memenuhi standar kecantikan yang mungkin tidak diberlakukan pada pria dalam konteks serupa. Penekanan pada riasan, gaya rambut, dan pakaian feminin sebagai faktor penentu kesuksesan profesional perempuan menciptakan lingkungan yang tidak hanya membatasi kebebasan berpakaian, tetapi juga dapat membatasi pertumbuhan profesional mereka.

Sebagai mahasiswa komunikasi, penting untuk mengenali dan mengkritisi norma-norma yang melekat pada komentar-komentar semacam ini. Pemberdayaan perempuan di dunia model dan media sosial harus ditekankan, dan perubahan budaya perlu diupayakan untuk menciptakan lingkungan di mana penilaian berbasis gender ditekan. Dengan menyuarakan kesadaran terhadap bias gender ini, mahasiswa komunikasi dapat memainkan peran kunci dalam merombak norma sosial dan membentuk diskusi publik yang lebih inklusif dan setara.

Oleh: Mohammad Alif Novarianto. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 7 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *