Mengatasi Buntut Aksi Boikot : Perusahaan, Franchise, dan Retail Ambil Strategi Ini

Diskon pada Produk Diduga Terboikot di Minimarket (sumber : dokumen pribadi)

JurnalPost.com – Aksi boikot produk milik perusahaan pendukung Israel masih terus menggema di seantero jagat. Hal ini merupakan bentuk kecaman masyarakat dunia atas kejahatan genosida yang menimpa saudara kita di Palestina. Produk-produk dari perusahaan yang diduga mendukung Israel menjadi sasaran aksi boikot di berbagai negara. Dengan adanya aksi ini, diharapkan perusahaan-perusahaan tersebut terdampak penurunan penjualan dan akhirnya memutuskan untuk menghentikan dukungan dana untuk Israel. Gema “Aksi Boikot Produk Pro-Israel” ini mulai viral sejak Bulan Oktober lalu. Jutaan orang telah menggemborkan dari berbagai penjuru baik dengan aksi demonstrasi langsung maupun di media sosial. Penggunaan media sosial seperti Tik Tok, Instagram, Youtube, Whatsapp, dan X Sangat berdampak pada cepatnya persebaran informasi. Maka tak heran konten-konten yang mengangkat isu boikot ini berhasil menjangkau masyarakat luas dan mendapat sorotan lebih.

Mengutip dari panduan boikot yang disampaikan oleh Palestinian BDS National Committee (BNC) dalam situs BDS Movement, target boikot terbagi menjadi 4 jenis.

1. Consumer boycott targets, BDS Movement memboikot total produk-produk dari Siemens, PUMA, Carrefour, AXA, Hewlett Packard Inc (HP Inc), SodaStream, Ahava, RE/MAX,dan produk dengan label “Product of Israel” karena mereka terbukti kuat telah terlibat kerjasama dengan Israel.
2. Divestment targets, BDS Movement menekan pemerintah, lembaga dan dana investasi untuk mengecualikan dan melakukan divestasi dari perusahaan Elbit Systems, HD Hyundai/Volvo/CAT/JCB, Barclays, CAF, Chevron, HikVision, dan TKH Security karena mereka terlibat sebagai produsen senjata, bank, perusahaan pemukiman ilegal Israel, dan perusahaan-perusahaan yang memungkinkan terjadinya pendudukan.
3. Pressure (non-boycott) targets, BDS Movement secara aktif menekan Google, Amazon, Airbnb/Booking/Expedia, dan Disney agar mengakhiri keterlibatan mereka dengan Israel.
4. Grassroots organic boycott targets, BDS Movement tidak menginisiasi kegiatan ini, namun mendukung masyarakat yang memboikot produk-produk dari McDonald’s, Burger King, Papa John’s, Pizza Hut, WIX, dll. selama merek tersebut terbuti memberi dukungan untuk Israel atau mendukung genosida yang dilakukan Israel.

Aksi boikot pun turut terjadi di Indonesia, dan semakin gencar pelaksanaannya sejak Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa MUI No.83 Tahun 2023 Tentang Hukum Dukungan Terhadap Perjuangan Palestina yang berlaku sejak tanggal 8 November 2023. Fatwa tersebut berisi tentang himbauan bagi masyarakat muslim agar mendukung Palestina dan menghindari transaksi terhadap produk-produk milik perusahaan yang mendukung Israel. MUI memang tidak menyebutkan daftar produk apa saja yang perlu dihindari, namun informasi terkait daftar produk terboikot itu sudah banyak beredar luas di media sosial.

Maraknya konten media sosial terkait daftar produk terboikot sangat membantu masyarakat yang ingin ikut serta dalam aksi ini, namun akan sangat menguras waktu jika harus menyimak satu persatu. Untungnya telah hadir aplikasi “No Thanks” yang dapat kita unduh dari Google Play Store. Aplikasi ini diciptakan oleh pemuda Gaza, Palestina yang saat ini sedang berada di Budapest. Ahmed Bashbash, pencipta aplikasi “No Thanks” ini telah merangkum merek-merek produk yang berasal dari perusahaan Pro-Israel. “No Thanks” dengan ukuran aplikasi yang hanya sebesar 6,3 MB telah diunduh lebih dari 100.000 kali di Google Play Store. Tampilan aplikasi ini sangat user-friendly, pengguna hanya perlu memindai nomor seri produk atau mengetikkan merek produk di kolom pencarian yang ada di dalam aplikasi. Pengguna akan mendapati hasil jendela informasi berwarna merah dengan tulisan “No Thanks” jika produk tersebut merupakan produk yang terboikot, dan jendela informasi berwarna hijau dengan tulisan “You Are Good” bagi produk yang tidak terboikot.

Viralnya aksi boikot dan kemudahan akses informasi daftar produk terboikot pun menjadi bayangan mimpi buruk bagi sebagian besar perusahaan. Perusahaan terancam mengalami penurunan angka penjualan karena terlibat dalam aksi mendukung Israel baik secara langsung maupun tidak langsung. Reputasi perusahaan dan daya beli masyarakat terhadap produk perusahaan tersebut turun karena dianggap telah mendukung tindakan Israel dalam melancarkan kejahatan genosida kepada warga Palestina. Penurunan ini terasa lebih tajam ketika produk tersebut dipasarkan di wilayah dengan mayoritas muslim.

Perusahaan, franchise dan retail yang memasarkan produk dari perusahaan-perusahaan yang masuk ke dalam Grassroots organic boycott targets benar benar mengalami penurunan penjualan karena masyarakat sekitar yang sepakat melakukan boikot. Buntutnya bahkan harus mengambil keputusan untuk menutup sebagian gerai karena sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan biaya operasional. Pihak perusahaan, franchise dan retail kini berlomba-lomba membuat strategi untuk menghadapi bayang-bayang risiko kebangkrutan ini.

1. Memperbaiki reputasi dengan cara menunjukkan dukungan untuk Palestina.
Beberapa perusahaan, franchise, dan retail terseret menjadi target boikot oleh masyarakat karena dinilai memiliki kecondongan yang mengarah pada dukungan untuk Israel. Untuk mengklarifikasi hal tersebut, beberapa perusahaan mengambil langkah cepat untuk menunjukkan bahwa perusahaan berada di pihak pendukung Palestina. Biasanya, perusahaan akan memberikan donasi fantastis kepada Palestina yang disalurkan melalui lembaga penghimpun dana kemanusiaan. Upaya menunjukkan dukungan terhadap Palestina ini diharapkan akan berimbas pada naiknya kepercayaan masyarakat dan meningkatnya reputasi baik perusahaan sehingga penjualan perusahaan bisa tumbuh dengan baik.

2. Menarik daya beli masyarakat dengan memberikan diskon.
Perusahaan retail yang memiliki persediaan produk dengan merek yang termasuk dalam daftar produk terboikot tentu harus memikirkan strategi untuk mengatasi ini. Pada prinsipnya, produk yang sudah mereka beli dari perusahaan pemasok dan disimpan sebagai persediaan barang dagangan sudah menjadi milik mereka. Keuntungan atas produk tersebut sudah diterima oleh perusahaan pemasok sejak sebelum pelaksanaan aksi boikot. Semua produk yang sudah terlanjur dibeli sebagai persediaan pun tidak bisa serta merta direturkan. Maka strategi yang paling memungkinkan adalah upaya menghabiskan stok dengan menarik daya beli masyarakat melalui diskon sehingga modal yang dikeluarkan untuk memperoleh produk tersebut dapat kembali. Jadi, strategi yang paling cocok adalah “Habiskan stok yang masih ada, berhenti membeli lagi produk terboikot, dan mengganti produk terboikot dengan produk subtitusi”. Pemberian diskon selain sebagai upaya penghabisan stok, juga dapat dilakukan untuk pengenalan produk subtitusi agar dapat diterima masyarakat.

3. Menarik daya beli masyarakat dengan memberitahukan bahwa komposisi bahan yang semula dari produk terboikot telah digantikan oleh produk subtitusi.
Franchise yang terseret menjadi target boikot juga dapat membuat kebijakan baru dengan mengganti penggunaan bahan baku yang berasal dari produk terboikot dengan produk subtitusi dan memberitahukan perubahan tersebut kepada calon pembeli. Upaya ini dilakukan sebagai langkah mitigasi risiko barangkali terdapat calon pembeli yang ternyata merupakan aktivis aksi boikot. Tidak bisa dipungkiri, saat ini segmentasi pembeli terbagi menjadi aktivis aksi boikot dan pembeli netral. Daripada kehilangan calon pembeli dari golongan aktivis boikot, maka akan lebih baik jika membuat terobosan baru yang memancing mereka untuk menjadi pelanggan.

Itulah beberapa strategi yang bisa diterapkan oleh perusahaan, franchise, dan retail dalam menghadapi Aksi Boikot Produk Pro-Israel.

Julia Putri Nurmalita
Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Akuntansi Universitas Negeri Semarang

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *