Menggali Tapak Bias Gender Dalam Cerpen digital “Buaian Rahim Patriarki”

Cerpen Buaian Rahim Patriarki. Foto: Tutik Handayani/Kompas.id

Oleh : Tutik Handayani
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Progam Studi Ilmu Komunikasi

JurnalPost.com – Isu bias gender adalah sebuah tindakan nyata yang saat ini masih menjadi momok bagi masyarakat di berbagai aspek kehidupan. Terlepas dari kemajuan yang telah dicapai oleh berbagai negara di belahan dunia. Keberadaan isu bias gender juga masih menjadi permasalahan di negara maju, maupun negara berkembang, sehingga sebuah kesetaraan gender sulit untuk di hilangkan pada realita kehidupan sehari – hari.

Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menangani kasus bias gender pada masyarakat, namun pada kenyataannya masih sulit untuk mencapai kesetaraan seperti yang semestinya, dikarenakan adanya steorotip yang kuat pada pola pikir masyarakatnya, sehingga perlu adanya tindakan yang lebih serius untuk membuat perubahan yang tidak hanya terlihat pada kebijakan tetapi juga dapat meresap pada pemikiran masyarakat yang kolektif.

Efek yang terjadi akibat akibat adanya bias gender yang kuat menimbulkan dampak negatif yang luas sehingga melibatkan ketidaksetaraan di berbagai ranah kehidupan seperti adanya ketidaksetaraan di tempat kerja, keluarga, politik, media, dan bahkan dalam sebuah karya sastra.

Salah satu contoh isu bias gender yang terdapat pada karya sastra yaitu pada cerpen yang ber judul “Buaian Rahim Patriarki” yang di tulis oleh Ni Wayan Wijayanti. Cerpen ini dapat di jadikan sebuah cermin yang memberikan kesadaran kepada masyrakat akan permasalahan bias gender melalui berbagai narasi patriarki didalamnya.

Pada garis besar cerita tersebut, menggambarkan bahwa perempuan cenderung sebagai tokoh yag patuh, harus mengabdi dan berkewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan laki – laki. Pada realitanya wanita memang masih di pandang menjadi sosok yang lemah dan kedudukan derajatnya berada di bawah laki – laki, hal tersebut membuat para pembaca pada cerpen tersebut tahu sejauh mana steorotip gender ini telah mencapai dan mengakar pada pikiran pembaca.

Selain itu karakter pada tokoh laki -laki juga di gambarkan sebagai sosok yang kuat, adanya batasan dalam mempertahankan emosionalnya dimana pada norma patriarki sesosok laki – laki tidak di perbolehkan untuk memiliki sikap yang lemah, dan mudah menangis. Di sisi lain, tokoh perempuan hanya di gambarkan sebagai ibu yang hanya berfokus pada tugas mengurus keluarga.

Berbagai pemahaman yang salah terhadap peran gender ini di akibatkan oleh adat yang telah di percaya secara turun menurun. Serta tradisi dan kebiasaan keluarga yang di sentuh pada cerpen ini juga memberikan pemahaman bahwa sebuah tradisi dapat mengakar dengan kuat di dalam masyarakat sehingga menciptakan pemikiran atau steorotip yang sulit untuk di ubah.

Melalui kisah fiksi yang dihadirkan dalam “Buaian Rahim Patriarki,” Ni Wayan Wijayanti menunjukan kepada kita bahwa isu bias gender masih melekat di masyarakat dan norma-norma patriarki yang masih di anut oleh masyarakat seharusnya dapat di kaji ulang sehingga laki-laki dan perempuan dapat memiliki posisi yang setara tanpa adanya penindasan, pengasingan, atau perbedaan jabatan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan kajian ulang ini, perubahan positif dalam dinamika gender masyarakat dapat terwujud.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *