Menyemai Nasionalisme Bangsa di Era Digital

JurnalPost.com – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyelenggarakan seminar online yakni Ngobrol Bareng Legislator dengan mengusung tema: “Menyemai Nasionalisme Bangsa Di Era Digital”. Dalam seminar Ngobrol Bareng Legislator ini, terdapat tiga narasumber yang berkompeten pada bidangnya, yaitu Bapak Dr. H. Jazuli Juwaini, MA. yang saat ini menjabat sebagai Anggota Komisi I DPR RI. Narasumber kedua Bapak Prof. Dr. Widodo Muktiyo, SE., M.Com. selaku Guru Besar Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret (UNS) dan narasumber terakhir yakni Ibu Brijen TNI (Purn), Dr. Sri Sundari, SE.,MM selaku Dosen FMP Unhan RI. Seminar diselenggarakan pada hari Senin, 12 Februari 2024 melalui platform zoom meeting.

Seminar Ngobrol Bareng Legislator ini merupakan acara yang diinisiasi dan didukung oleh Kementerian Kominfo, yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, dengan memiliki beberapa tujuan, diantaranya yakni untuk mendorong masyarakat agar mengoptimalkan pemanfaatan internet sebagai sarana edukasi dan bisnis, memberdayakan masyarakat agar dapat memilah dan memilih informasi yang dibutuhkan dan bermanfaat, memberikan informasi yang lengkap kepada masyarakat terkait pembangunan Infrastruktur TIK yang dilakukan oleh Pemerintah khususnya oleh Ditjen APTIKA, serta mewujudkan jaringan informasi serta media komunikasi dua arah antara masyarakat dengan masyarakat maupun dengan pihak lainnya. Seminar ini terdiri dari beberapa sesi, yaitu sesi pembukaan, pemaparan materi, sesi tanya jawab, dan sesi penutup.

Sesi pemaparan diawali oleh pengantar serta pembukaan yang disampaikan oleh Bapak Jazuli Juwaini. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan tentang perkembangan teknologi yang berkembang pesat menjadi tantangan nasionalisme bagi Indonesia dikarenakan keterbukaan informasi. Teknologi yang pesat dan arus informasi yang masif menjadikan dunia terbuka, pergaulan lintas batas bahkan tanpa batas, menyebar-luaskan paham, isme, dan nilai-nilai baru. Eksesnya nilai dominan yang akan menang dan melunturkan nilai-nilai kebangsaan. Pancasila sebagai identitas dan karakter bangsa membentuk nasionalisme yaitu bangsa yang beragama, bangsa yang menghormati hak-hak kemanusiaan yang beradab, bangsa yang memiliki tradisi musyawarah dalam segala urusan. Hakikatnya bangsa sebagai individu mempunyai kepribadian yang terwujud dalam berbagai hal dalam kebudayaan, dalam perekonomian, serta dalam wataknya. Kita harus bangga dengan Pancasila yang disusun dari nilai-nilai unggul yang beragama, berperikemanusiaan, cinta persatuan, musyawarah dan sebagai dasar negara. Bapak Jazuli juga berpesan untuk kita melestarikan dan menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku sehari-hari mulai dari generasi muda hingga pejabat negara.

Pemaparan berikutnya disampaikan oleh bapak Prof. Dr. Widodo Muktiyo, SE., M.Com selaku Guru Besar Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret (UNS). Dalam paparannya, bapak Widodo mengatakan bahwa komunikasi kebangsaan dan urgensitasnya berpijak pada pembukaan UUD 1945 yaitu, komunikasi yang diarahkan pada upaya-upaya pemerintah dalam melindungi segenap tumpah darah dan bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta dalam menciptakan perdamaian dunia. Dalam era digital perlunya kita bersikap hati-hati karena banyak berita hoax yang dapat merusak nasionalisme. Akhir kata beliau memberikan beberapa tips cara aman dalam berinternet yaitu gunakan pasword yang sulit, aktifkan pengaturan privasi ganda, hapus history penelusuran, jelajahi situs internet yang terpercaya.

Narasumber terakhir adalah ibu Brijen TNI (Purn), Dr. Sri Sundari, SE.,MM, M.Si.dalam pemaparannya yaitu tentang tantangan dan strategi pertahanan di Era Digitalisasi. Pada era digitalisasi, teknologi informasi telah menjadi tulang punggung bagi hampir semua aspek kehidupan kita. Manajemen pertahanan tidak hanya tentang membangun dinding-dinding pertahanan yang kuat, tetapi juga tentang memahami ancaman yang ada. Konteks perubahan teknologi mengacu pada evolusi konstan dalam infrastruktur, perangkat lunak, dan metode serangan digital. Manajemen pertahanan krusial dalam menghadapi ancaman digitalisasi. Tantangan seperti serangan siber dan kompleksitas infrastruktur memerlukan strategi efektif. Meningkatkan kesadaran, mengimplementasikan teknologi keamanan, membentuk tim tanggap, dan memperkuat kerjasama antar sektor penting untuk memperkuat pertahanan. Dengan demikian, organisasi dan pemerintah dapat melindungi aset kritis dan menjaga keamanan di era digital yang terus berkembang.

Seluruh peserta terlihat begitu kondusif dan juga aktif dalam menyimak materi yang di paparkan oleh para narasumber, Setelah pemaparan materi dari ketiga narasumber, moderator mamfasilitasi untuk sesi tanya jawab. Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta kepada para narasumber.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *