Patriarki dan Kemiskinan dalam Film Marlina Si Pembunuh

Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin (Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas)

JurnalPost.com – Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak adalah salah satu film drama terbaik yang bercerita tentang kritik sosial dan dekonstruksi gender di level lokal. Film ini rilis tahun 2017 dan mendapatkan berbagai penghargaan di ajang nasional dan internasional. Film ini bisa menjadi alternatif untuk menatap pembangunan berbasis gender di Indonesia terutama paska Pemilu 2024.

Film ini disutradarai oleh Mouly Surya dan diperankan secara apik dan epik oleh Marsha Timothy. Film ini berlatar budaya di pedalaman Pulau Sumba dan bercerita tentang penderitaan lahir batin seorang janda bernama Marlina yang baru saja ditinggal mati suaminya lalu ditindas oleh seorang laki-laki yang memberi utang kepada suaminya, tersandera oleh budaya lokal, tergulung oleh kemiskinan dan menjadi pesimis karena apatisme aparat hukum.

Tragisnya, Marlina diperkosa oleh pria bernama Markus. Marlina pun melawan dan bahkan berhasil membunuh Markus di puncak orgasmenya. Ia mencoba mencari pertolongan dan keadilan sambil menenteng kepala Markus, tetapi budaya dan aparat hukum tidak berpihak kepada dia sebagai korban pemerkosaan dan perempuan lokal yang miskin.

Tentu, tidak mudah menjadi perempuan di level lokal ketika budaya dan institusi sosial cenderung memojokkan perempuan. Di sinilah titik kritis terbaik dari film ini.

Alhasil, film Marlina adalah dekonstruksi perjuangan perempuan untuk mempertahankan harga dirinya di tengah kepungan sistem sosial yang patriarkis. Film ini tentang perjuangan perempuan untuk mendapatkan kembali hak-hak atas diri dan tubuhnya.

Apresiasi untuk Film Marlina

Pada Festival Film Indonesia 2018, film ini meraih 14 nominasi dan sukses memenangkan 10 nominasi termasuk untuk Film Cerita Panjang Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Pemeran Utama Wanita Terbaik.

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak juga memenangkan banyak penghargaan di berbagai festival internasional seperti pada Festival Film Sitges, Penghargaan Layar Asia Pasifik, Festival Film Goteborg, dan Penghargaan Film Asia.

Film ini telah didistribusikan di 23 negara berbeda termasuk negara-negara Asia dan Eropa. Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak ditayangkan perdana pada Directors Fortnight Festival Film Cannes 2017.

Selain pada Festival Film Cannes, film ini juga masuk dalam seleksi New Zealand International Film Festival, Melbourne Film Festival, dan Toronto International Film Festival.

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak juga terpilih sebagai project market dari Cannes Film Festival di mana film ini terpilih menjadi salah satu dari 15 proyek film di dunia yang masuk dalam Cinefondation L’Atelier.

Alhasil, kualitas dan estetika tak mengkhianati hasil. Film ini layak untuk ditonton berkali-kali untuk merasakan kritik sosial dalam film ini.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *