Pentingnya Dialog Antarbudaya di Era Digital

Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin, Pengamat Media, Korupsi, Demokrasi, dan Budaya Lokal. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas

JurnalPost.com – Dalam era digital saat ini, pemahaman tentang masalah dan dialog antarbudaya menjadi sangat penting. Filsafat, psikologi, sastra perbandingan, studi media, linguistik terapan, sejarah, dan pendidikan antarbudaya semuanya berkontribusi untuk membentuk perspektif yang komprehensif. Masalah-masalah kontemporer saling terkait, dan kolaborasi antarbudaya menjadi kunci kelangsungan hidup, terutama dalam menghadapi krisis internasional seperti krisis iklim, pandemi Covid-19, invasi Ukraina oleh Rusia, dan aksi genosida Israel terhadap Palestina.

Dialog antarbudaya yang produktif muncul sebagai solusi potensial dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Namun, untuk mencapainya, kita perlu benar-benar terbuka untuk menyelidiki akar masalah, mencari fakta yang sebenarnya, dan bersedia melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang, bahkan yang mungkin bertentangan dengan keyakinan kita (Finger dan Wagner, 2023).

Negara-negara maju seperti di Eropa telah mengembangkan konsep interkulturalitas. Pendekatan ini didasarkan pada masukan dari ahli untuk membentuk skema kompetensi demokratis, warga negara, dan antarbudaya. Mereka juga mendorong model pendidikan antarbudaya bagi generasi muda agar memperoleh pengetahuan, nilai, dan kapasitas untuk menjadi warga yang bertanggung jawab dalam masyarakat demokratis yang modern dan beragam.

Kebutuhan akan pemahaman dan pendidikan antarbudaya semakin mendesak, terutama di tengah meningkatnya tindakan terorisme reaksioner di seluruh dunia, terutama di Eropa. Barrett (2020) mencatat bahwa pendekatan Eropa terhadap interkulturalisme didasarkan pada hak asasi manusia universal, nilai-nilai fundamental bersama, penghormatan terhadap warisan bersama, apresiasi terhadap keragaman budaya, dan penghormatan terhadap martabat setiap individu dengan setara.

Dialog antarbudaya memainkan peran sentral dalam mempertemukan keragaman dan menciptakan kedamaian. Hal ini memungkinkan pertemuan antara berbagai perbedaan etnis, linguistik, dan keagamaan, berdasarkan pada nilai-nilai universal bersama dan hak asasi manusia.

Namun, dialog antarbudaya tidak sekadar tentang bertemu, melainkan juga tentang memahami. Penting untuk memfasilitasi dialog ini agar mencakup berbagai sudut pandang dan membuka pikiran terhadap perspektif yang berbeda. Ini berarti tidak percaya pada sesuatu tanpa dasar atau menghadapi informasi faktual dengan keberanian untuk mempertanyakan dan mencari pemahaman yang lebih dalam.

Dengan demikian, dialog antarbudaya tidak hanya merangkul keberagaman, tetapi juga dapat memperbaiki perspektif kita terhadap diri sendiri dan dunia sekitar. Ini merupakan solusi untuk menghindari sisi gelap dari keyakinan tak berdasar yang sering kali menyertai tindakan dan interaksi manusia yang tidak terpikirkan dan tidak diselidiki (Finger dan Wagner, 2023).
Alhasil, di era digital yang penuh tantangan ini, dialog antarbudaya bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Kita perlu membangun jembatan melalui pemahaman, pendidikan, dan kolaborasi antarbudaya untuk menghadapi kompleksitas masalah global dan menciptakan dunia yang lebih toleran dan harmonis.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *