Peran Serta Pemuda-Pemudi Buddhis dalam Ajang Internasional di Korea

JurnalPost.com – PATRIA (Pemuda Theravada Indonesia) sebagai member aktif World Fellowship Buddhist Youth (WFBY), mengirim lima perwakilannya ke Korea Selatan untuk mengikuti program Korea Buddhist Cultural Tour yang berlangsung pada tanggal 30 Agustus hingga 2 September 2023. Program tersebut diikuti oleh beberapa negara seperti Malaysia, Thailand, Jepang, dan Mongolia yang juga diwakili oleh organisasi dibawah WFBY.

PATRIA yang diwakili oleh Demmy, Dresiani, Lidya, Vincent, dan Medhavini mengunjungi beberapa vihara yang berada di berbagai kota di Korea Selatan seperti Bulguksa Temple di Gyeongju, Ansimjeongsa Temple di Daegu, dan Eunhaesa Temple di Gyeongsangbuk-do. Terlepas dari program yang dijadwalkan penyelenggara, kami juga mengunjungi Bongeunsa Temple di Gangnam, Seoul.

Bulguksa Temple di Gyeongju yang masuk menjadi salah satu dari UNESCO World Heritage menjadi tempat favorit kami. Perjalanan dari Seoul ke Gyeongju menggunakan bus ditempuh dalam waktu 6 jam. Dalam bahasa Korea, “Bulguk” yang berarti Buddha Land dan “Sa” berarti temple. Banyak cerita menarik dari berbagai gedung-gedung bernuansa kayu, pilar, stupa, bahkan anak tangga yang terdapat didalamnya. Pengalaman bermalam atau temple stay di Eunhaesa Temple juga tidak kalah seru, karena Eunhaesa sendiri berada di nuansa pegunungan dan lingkungan sekitarnya yang masih sangat asri.

Peserta disambut dengan penampilan eksibisi Taekwondo di Uiduk University, Gyeongju. Sebagai salah satu olahraga bela diri dari Korea, Taekwondo banyak diminati anak-anak muda bahkan menjadi unit kegiatan mahasiswa di negara ginseng tersebut. Para peserta diajarkan teknik-teknik dasar Taekwondo dan akhirnya berhasil mematahkan lempengan kayu menggunakan kepalan tangan, siku, dan tendangan kaki. Mempelajari kultur dan budaya Korea, tidak lengkap jika melewatkan tradisi minum teh. Di Ansimjeongsa, para peserta juga membuat makanan kecil dari wijen hitam khas Korea untuk dimakan pada saat minum teh. Teh yang disajikan terbuat dari lotus, memberikan aroma yang menenangkan.

Selain tentang berkunjung ke tempat-tempat religi, kami juga disajikan berbagai hidangan makanan khas Korea, mulai dari Sundubu Jjigae atau sup tahu, Jjampong atau mie kuah pedas, nasi ginseng yang disajikan dalam hot plate, makanan pelengkap seperti kimchi, japchae, egg sauce, dan sebagainya. Kami juga harus beradaptasi dengan high-technology yang ada di setiap restaurant F&B di Korea, juga pelayanan self-service yang jarang ditemui di negara kita.

Tujuan dari program ini yaitu untuk mengenalkan budaya dan tradisi Korea kepada pemuda-pemudi Buddhis dari berbagai negara. Selain itu, juga untuk menjalin persahabatan dan pertukaran budaya antar bermacam-macam sekte atau aliran Buddhisme yang sudah ada. Diharapkan kedepannya program seperti ini diadakan berkelanjutan. Mengingat sejarah dan situs-situs peninggalan Buddhisme sangat kaya di Indonesia, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi tuan rumah untuk menyelenggarakan program serupa berikutnya. Sebut saja Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Muara Takus, dsb.

Oleh: Dresiani Mareti

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *