Pesona Curug Seribu Desa Ciasihan

Oleh: Noor Latifah Adzhari

BOGOR, JurnalPost.com – Tak selalu ingar bingar musik bernada tinggi, seringkali kebahagiaan hadir oleh gemericik air yang turun dari tebing tinggi.  Curug Seribu yang terletak di Desa Ciasihan menyajikan denting itu secara alami.

Pesona Curug Seribu

Curug Seribu terletak di Desa Ciasihan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Curug ini memiliki ketinggian sekitar 100 meter sehingga dijuluki sebagai curug tertinggi wilayah Bogor. Keindahan Alam desa Ciasihan memberikan ciri khas keindahan tersendiri.  Curug Seribu sebenarnya memberi peluang pengembangan desa di bidang pariwisata.  Wisata yang dikelola oleh masyarakat Desa Ciasihan serta pemerintah ini sejak lama memberi pemasukkan bagi desa.

Gemericik Curug Seribu menghasilkan suara yang menjelaskan tentang ketentraman alam. Mengalir dan terjun bebas bagaikan sarira tanpa beban. Berikan waktu pada diri kita untuk memejam dan beristirahat. Karena memang lahirnya kita adalah manusia dengan sebuah kebebasan. Perlu diingat bahwa segala beban ada masanya, dan itu dapat menjadi lebih ringan tergantung bagaimana kita menyikapinya. Berkunjung ke alam adalah salah satu cara untuk mengasihi diri ini.

Pengunjung akan disuguhkan pemandangan  yang indah selama perjalanan menuju Curug Seribu. Hamparan sawah yang hijau, yang disusun dengan sistem terasering seakan memaksa kita melupakan tumpukan masalah yang kita miliki. Lukisan langit yang dihiasi pemandangan bukit-bukit begitu jelas mengitari perjalanan. Selain itu, terdapat juga tanaman cabai di sisi kanan maupun kiri jalan yang penulis yakini itu adalah milik warga desa sekitar.

Petualangan Menuju Salah Satu Surga Dunia Yakni Curug Seribu

Cuaca mendung sejak pagi tak menyurutkan langkah penulis mengunjungi salah satu wisata alam di Desa Ciasihan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Jarak Curug Seribu yaitu sekitar 80 km dari pusat kota. Akses jalan yang berlubang, macet, dan kecil serta hanya bisa di lewati oleh satu mobil di wilayah Desa Ciasihan, membuat waktu tempuh semakin lama. Penulis membutuhkan waktu sekitar 5 jam untuk tiba di lokasi.

Beberapa kali sempat bertanya pada warga setempat karena baru kali ini penulis mengunjungi. Lagi pula, google map yang penulis turuti hanya mengantar penulis sampai balai Desa Ciasihan sebagai titik akhir.  Masih ada 16 km menuju lokasi.  Jalan desa menuju air terjun Seribu, berupa aspal berbatu yang berlubang di sana-sini.

Disepanjang perjalanan menuju Curug Seribu, penulis tidak hanya disuguhkan pemandangan yang indah. Tetapi juga senyum dan keramahan warga Desa Ciasihan juga menjadi pelengkap perjalanan penulis. Terdapat banyak anak kecil yang sedang bermain di halaman rumah, ibu-ibu yang saling berbincang sembari mengerjakan pekerjaannya, dan pekerja tani yang sedang berada di kebun atau sawah mereka. Penulis saling menyapa dan berbalas senyum dengan warga Desa Ciasihan. Mereka juga dengan baik membalas pertanyaan yang penulis tanyakan seputar desa dan curug Seribu yang hendak penulis kunjungi.

Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, penulis mengabadikan perjalanan menuju Curug Seribu dengan mengambil beberapa video dan gambar dengan latar belakang perkebunan serta persawahan. Indahnya pesona Gunung Salak menjadi pelengkap dalam perjalanan. Di sebelah kanan dan kiri rupanya banyak pemandangan indah selain perkebunan dan persawahan, contohnya yaitu pemandangan bukit-bukit yang menjulang tinggi. Oh alangkah indahnya pemandangan Desa Ciasihan.

Wisata Curug Seribu yang berada di Desa Ciasihan ini memang sempat terabaikan oleh wisatawan akibat terjadinya pandemi di awal tahun 2020. Dua tahun lamanya pandemi itu berlangsung dan tak kunjung usai. Wisata Curug Seribu menjadi salah satu wisata yang terkena imbas pandemi tersebut. Curug Seribu pun sempat mengalami sepi dari wisatawan, hal tersebut menyebabkan akses ke curug menjadi sedikit terbengkalai dan menjadi sedikit tidak terurus. Hal ini bukan tanpa alasan, melainkan karena terkendala oleh biaya yang disebabkan minimnya pemasukan yang ada. Namun, dengan keadaan sekarang yang sudah sangat membaik dan kembali normal, para wisatawan sudah mulai kembali berdatangan dan mengunjungi Curug Seribu, salah satunya adalah penulis.

Penulis memutuskan untuk mengunjungi Curug Seribu karena terkenal akan keindahannya dan curug tersebut terkenal sebagai curug tertinggi yang berada di daerah Bogor. Penulis menyusuri jalanan dengan medan yang bisa dibilang cukup sulit karena dipenuhi oleh bebatuan dan tanah. Terlebih lagi penulis berkunjung saat hujan baru saja turun. Dari area parkir yang tak gratis, penulis dapat mengedarkan pandangan ke sekililing. Semuanya serba hijau membuat penulis menjadi fresh seketika setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Awalnya penulis mengira dari area parkir ke Curug Seribu dekat, namun ternyata cukup jauh, di tambah penulis harus berjalan kaki sekitar 3 km menuju curug tersebut.

Tak sampai di situ, diperlukan waktu kurang lebih 30 menit dari tempat pembelian tiket sampai ke curug tersebut. Setelah menempuh perjalanan yang berliku, akhirnya penulis pun sampai di Curug Seribu. Keringat serta penat akhirnya bisa terbayarkan usai penulus menginjakkan kaki di Curug Seribu.

Ternyata benar kata orang-orang bahwa Curug Seribu memiliki pemandangan yang sangat indah dan memukau. Penulis telah membuktikannya dengan melihat secara langsung keindahan curug tersebut. Pendapat ini didukung oleh Ayu, salah satu pengunjung Curug Seribu yang berasal dari Tangerang, Ia mengetahui curug tersebut dari media sosial dan internet. Menurut Ayu, perjalanan selama menuju Curug Seribu sungguhlah indah karena terdapat pemandangan hamparan sawah, Gunung Salak, serta bukit-bukit. Ayu juga mengakui bahwa Curug Seribu merupakan curug yang bagus. Di sekitar curug pun tidak ditemukan sampah yang berserakan. Warga sekitar serta wisatawan sangat memperhatikan kebersihan Curug Seribu.

Rahmat Hidayat, selaku pengelola Curug Seribu memberikan informasi kepada penulis bahwa Curug Seribu buka dari jam 8.00 s.d. jam 16.00. Rahmat juga mengatakan bahwa pengunjung yang datang setiap harinya tidak menentu jumlahnya, kadang dalam sehari bisa sampai 16-25 orang.

Akhir dari Petualangan

Begitu banyak cerita dan makna dari perjalanan menuju Curug Seribu ini, dan tentunya penulis masih belum bisa berhenti mengagumi keindahan Curug yang satu ini. Melakukan wisata alam bukanlah sekadar berwisata jasmani, tetapi juga rohani. Curug Seribu sangat cocok untuk dijadikan sebagai destinasi wisata akhir pekan untuk melepas penat. Mengingat harga dari tiket masuk Curug Seribu ini pun sangat terjangkau. Wisatawan hanya perlu membayar 10 ribu untuk tiket masuk kawasan dan 15 ribu untuk tiket masuk ke Curug Seribu. Selamat berkunjung dan temukan obat dari lelahmu di sini.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *