Rania Yamin Populerkan Kebaya Indonesia di Kalangan Anak Muda

Sumber: Instagram @raniaayamin

JurnalPost.com – Globalisasi menurut Selo Soemardjan, terbentuknya organisasi dan komunikasi antara masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah yang sama. Menurut Emanuel Ritcher, globalisasi adalah jaringan kerja global secara bersamaan yang menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi dalam saling ketergantungan dan persatuan dunia. Menurut Princeton N Lyman, globalisasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat atas saling ketergantungan dan hubungan antara negara-negara di dunia dalam hal perdagangan dan keuangan. Kesimpulannya, globalisasi adalah proses penyatuan budaya masyarakat, walaupun ditempat yang berbeda-beda, namun saling berketergantungan karena sistem dan kaidah yang sama.

Dewasa kini, banyak anak muda terpengaruh dampak globalisasi secara positif maupun negatif. Di sisi positif, globalisasi mampu meningkatkan pola pikir yang baik, gaya hidup, juga teknologi. Masyarakat dapat belajar budaya baru, memiliki pemikiran “terbuka”, juga merasakan teknologi seperti Radio, TV, hingga gawai. Banyak perubahan positif yang dibawa oleh globalisasi dan dirasakan oleh masyarakat luas. Namun, di sisi lain, globalisasi juga membawa pengaruh buruk, seperti kesenjangan sosial, hidup konsumtif, sikap individualistik, hingga budaya westernisasi atau kebarat-baratan, dalam hal bermusik, berbahasa, bersikap, hingga berpakaian.

Dalam hal berpakaian ataupun fashion, banyak masyarakat muda yang sudah merasakan dampak globalisasi dengan adanya tren-tren busana baru yang membawa perubahan dalam berpakaian. Banyak anak muda mulai mengenakan pakaian layaknya orang luar negeri seperti hoodie, turtleneck, dan yang lainnya. Hal ini diakibatkan faktor kenyamanan dan kepraktisan menggunakan pakaian modern. Banyak anak muda yang beranggapan bahwa berpakaian adat membutuhkan usaha lebih dalam proses memakainya dikarenakan banyaknya pernak-pernik dalam pakaian adat, perawatannya yang cenderung sulit, dan juga biasanya pakaian adat dapat mengganggu fleksibilitas gerak para anak muda, yang sering aktif berkegiatan. Bila menggunakan kebaya atau surjan, anak-anak muda akan merasa sulit untuk bergerak, karena fleksibilitasnya yang kurang bila dibandingkan dengan pakaian modern. Anak-anak muda yang pada umumnya sudah akrab dengan teknologi dan internet akan membuat mereka meniru pakaian dari budaya barat karena iklan yang lebih menarik. Mulai dari Instagram, Twitter, hingga TikTok. Semua media sosial dapat menjadi perantara anak muda mengetahui tren fashion dunia luar. Media sosial dapat menjadi perantara yang baik bagi anak muda karena mudahnya akses ke dalam media sosial tersebut. Hanya bermodalkan gadget dan internet, sekali “klik” maka semuanya akan muncul, termasuk fashion dari dunia luar. Media sosial tidak memiliki batasan dalam pengaksesan sehingga masyarakat dapat mengaksesnya dengan mudah.

Adapun istilah yang sedang naik daun yaitu FOMO (Fear Of Missing Out) yang berarti rasa cemas atau takut apabila tertinggal trend atau hal yang sedang populer. Hal ini yang membuat anak muda semakin malas memakai baju tradisional dan lebih memilih baju yang kebarat-baratan. Ditambah lingkungan sekitar mereka yang sudah mulai terbiasa dengan pakaian modern, akan membuat anak-anak muda akan merasa nyaman dan aman jika berpakaian modern karena akan lebih diterima masyarakat umum dan tidak dianggap “udik”. FOMO ini akan membuat anak-anak muda akan terus mengikuti tren, yang akan menimbulkan masalah baru yaitu hedonisme. Tren adalah dinamis, maka dari itu tren akan selalu baru,. Jika anak muda terus mengikuti tren dari dunia luar, maka sikap konsumtif tak akan pernah berhenti. Lalu, sikap yang berkembang dari anak-anak muda akibat tren ini adalah hedonisme, untuk selalu menuruti apa yang diinginkan, bukan dibutuhkan.

Walau generasi muda banyak terpengaruh budaya luar dari berbagai media massa, namun nyatanya masih ada anak muda Indonesia yang bangga menggunakan pakaian tradisional. Salah satunya adalah keturunan Mangkunegaran sekaligus cicit dari pahlawan nasional Mohammad Yamin justru menggunakan media sosial yang dimilikinya untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat terutama anak muda. Rania Maheswari Yamin atau yang lebih akrab dipanggil Rania adalah seorang influencer asal Indonesia yang lahir pada 6 Juni 2001. Rania seringkali mengunggah kesehariannya memakai kebaya di akun Instagram miliknya. Ketertarikan Rania terhadap kebaya Indonesia dimulai dari keluarganya sendiri, terutama eyang buyutnya, permaisuri Mangkunegoro ke-8. Rania bilang ia tidak pernah dituntut untuk menggunakan kebaya oleh Ayah, Ibu, atau anggota keluarga lainnya. Jadi, gaya berbusananya saat ini adalah keinginannya sendiri. “Aku tinggal di Jakarta. Aku ke Solo itu sebulan sekali. Nah, pas di sini (Solo) aku berusaha sebisa mungkin setiap hari menggunakan kebaya” Ujar Rania dalam salah satu postingan aku TikTok pribadi miliknya. Ia menjelaskan bahwa dirinya juga masih sering menggunakan pakaian modern seperti kulot, tetapi ada waktunya ia ingin berkebaya. Kebaya yang digunakan Rania juga dipadu padankan dengan sentuhan modern sehingga look nya terlihat modis dan semakin menarik untuk dilihat oleh anak muda. Menurut Rania, selagi dan selama masih bisa merepresentasikan asal usul budaya dan menjadi sejarah berjalan, ya, mengapa tidak?

Tampaknya konten Rania tentang edukasi mengenai pakaian tradisional Indonesia, kebaya, berhasil menggaet audiens yang cukup banyak. Mayoritas dari netizen juga memberikan komentar yang positif pada setiap unggahan Rania. “Kebaya dan mba rania nya cantik bangettt” “Rania tuh role model aku buat pake baju tradisional dr kebaya sm kain tradisional” “Selalu menggemaskan ❤️❤️❤️ Ga nyangka kebaya dan sodaranya bisa seindah ini digambarkan mba Rania ❤️❤️❤️” Beberapa dari sekian banyak ujaran positif dari netizen pada kolom komentar postingan Instagram pribadi milik Rania. Bahkan, tidak jarang ada yang menanyakan tentang darimana Rania membeli kebaya miliknya dan bagaimana cara men-styling kain dan kebaya untuk kegiatan sehari-hari. Usaha Rania selama ini untuk mem populerisasi kebaya Indonesia berhasil membuatnya dilihat oleh pemerintah. Pada 6 Agustus 2023, Rania diundang untuk ikut berpartisipasi dalam acara Istana Berkebaya yang diselenggarakan di depan Istana Merdeka. Dua bulan kemudian ia juga diundang kembali ke Istana Merdeka untuk acara Istana Berbatik. Kedua acara tersebut turut dimeriahkan oleh pejabat-pejabat dalam negeri.

Tidak hanya menggunakan kebaya, Rania juga turut mempromosikan budaya Indonesia dengan membuka usaha online di Instagram. Bergaya Ceria dan Kain Gembira adalah dua bisnis miliknya yang bergerak di bidang fashion. Kedua toko tersebut menjual kebaya preloved milik Rania dan berbagai artis ternama tanah air lainnya seperti Tara Basro.

Rania memberikan pengaruh yang sangat besar bagi Indonesia, mengetahui bahwa budaya global telah mendominasi masyarakat indonesia, ia kemudian mengingatkan mereka tentang budaya lokal yang ada. Untuk tetap mengikuti tren, Rania menerapkan glokalisasi. Glokalisasi merupakan perpaduan dari budaya global dengan budaya lokal, sebuah upaya untuk menciptakan/mengembalikan lokalitas budaya, agar budaya global tidak menghilangkan budaya lokal. Rania memberikan sentuhan baru pada kebaya yang membuatnya terlihat baru dan modern. Dengan itu, masyarakat Indonesia pada era sekarang memakai kebaya dengan gaya yang lebih modern dan dicampur aduk dengan fashion global. Berbeda dengan era sebelumnya dimana wanita memakai kebaya hanya untuk acara formal, masyarakat modern sekarang sudah seringkali memakainya untuk acara casual atau non-formal.

Jason Patrick Enrique Karundeng
Rafael Angelo Tegar Sutanto
Aura Marliashya Alisiana
Priyasha Kalyani Ulina Purba

SMA Kolese Gonzaga

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *