Refleksi Hari Ibu: Saatnya Revitalisasi Peran IBU

JurnalPost.com – Sudah ke 5 kalinya, Tema Utama Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-95 tahun 2023 yang dirilis oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Kemen PPPA RI) adalah Perempuan Berdaya, Indonesia Maju. Dengan 4 sub tema yaitu Sub Tema 1 Hari Ibu 2023: “Perempuan Bersuara”, Sub Tema 2 Hari Ibu 2023: “Perempuan Berdaya dan Berkarya”, Sub Tema 3 Hari Ibu 2023: “Perempuan Peduli”, Sub Tema 4 Hari Ibu 2023: “Perempuan dan Revolusi”. (news.detik.com).

Tema ini pertama kali diusung pada PHI tahun 2019 sampai saat ini, dengan latar belakang menurut Menteri PPPA bahwa PHI ke-91 tahun 2019 adalah titik awal gerakan percepatan pemberdayaan perempuan di berbagai bidang pembangunan, dan memberikan perlindungan bagi perempuan, untuk mewujudkan arahan Presiden. Perempuan Indonesia masa kini adalah perempuan yang dituntut untuk sadar dan aktif untuk meraih akses dan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam berbagai bidang pembangunan. Oleh karena itu, PHI diharapkan sebagai momen penting untuk mendorong semua pemangku kepentingan, guna memberikan perhatian, pengakuan akan pentingnya eksistensi perempuan dalam berbagai sektor pembangunan. Pada akhirnya memberikan keyakinan yang besar buat perempuan, agar mampu meningkatkan kualitas hidupnya serta mengembangkan segala potensi dan kemampuan sebagai motor penggerak sekaligus agen perubahan. Kata Darmawanti saat memberikan sambutan pada Upacara PHI ke-91, di Halaman Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Senin (23/12/2019) pagi. (23/12/2019 kominfo.go.id).

Sekilas pernyataan tersebut nampak indah dan membuat perempuan khususnya kaum ibu sangat gembira dan bahagia,bahwa perempuan akan memiliki akses peran yang begitu luas. Hanya saja hari ini sudah menjadi rahasia umum bahwa Ibu berdaya dimaknai ibu penghasil uang dan juga berpolitik praktis. Tidaklah heran dengan konsep yang seperti ini sebab ini merupakan tabiat asli dari sistem sekuler kapitalisme yang memandang perempuan sebagai komoditas. Selain itu, perempuan pun dianggap berdaya dan dihargai ketika bisa menghasilkan materi seperti menjadi penopang dan penggerak ekonomi keluarga bahkan negara, memiliki kecantikan fisik yang bisa dieksploitasi ataupun bisa berdikari tanpa bergantung pada siapapun. Tolok ukur demikian makin nyata karena negara kapitalisme juga mendukung pemberdayaan pada perempuan, tidak menjamin hak-hak mereka dan lepas tanggungjawab dari mengurus urusan rakyat.

Kondisi hari ini sangatlah miris ketika banyak Ibu menjalankan peran gandanya sebagai Ibu dan Penopang ekonomi dengan maraknya problem generasi dalam segala aspek, seperti seks bebas, kecanduan narkoba, kriminalitas, masalah mental, dll. Selain itu, berbagai kekerasan terjadi baik diranah domestik karena masalah ekonomi, pelecehan di tempat publik dan lainnya. Alhasil, Peran ibu mengalami pembajakan karena seharusnya Peran Utama ibu adalah pendidik generasi dan Manajer rumah tangga. Bukan berarti perempuan tidak boleh punya peran diwilayah publik, namun jika perannya diwilayah publik disalah arti dan disalah gunakan (tidak ditempatkan pada firtahnya), maka akan ada masalah besar yang berkepanjangan.

Berbeda dengan kapitalisme, Islam datang benar-benar untuk memuliakan dan memberdayakan kaum perempuan secara hakiki. Dalam Islam, perempuan dipandang sebagai kehormatan yang harus dijaga dan kaum yang dimuliakan. Sesungguhnya Islam telah menetapkan peran utama kaum perempuan sebagai ibu dan manajer rumah tangga. Peran ibu tersebut sangat strategis dan politis bagi kehidupan sebuah Negara bahkan peradaban. Di ranah Publik Perempuan dalam pandangan islam pun memiliki peran yang sangat staretgis. Sebagai bagian dari masyarakat yang berinteraksi bersamanya maka perempuan bisa menjalankan peran politiknya di masyarakat seperti amar ma’ruf nahyi mungkar, mendidik ditengah tengah umat, dsb selama semua aktivitasnya dikembalikan kepada tolok ukur syariat islam bagi perempuan beraktivitas di ranah publik – Seperti memperhatikan hal ikhtilat, safar, menutup aurat di luar rumah, dll.- dan peran utamanya sebagai ibu tidak terabaikan.

Maka sungguh perlu adanya revitalisasi peran ibu sebagai pendidik generasi. Dan sudah seharusnya mengembalikan peran ibu sesuai dengan perintah Allah demi mewujdukan generasi berkepribadian mulia. Untuk mewujudkan hal tersebut butuh perubahan yang menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan. Perubahan ini dimulai dengan mengganti sistem sekuler dengan tegaknya sistem Islam dalam naungan Negara Khilafah ‘Ala Minhaj Nubuwwah.

Kartini, S.Pd

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *