Revolusi Anti-Oedipus Menurut Gilles Deleuze

Bisnis305 Dilihat

Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin (Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas)

JurnalPost.com – Gilles Deleuze adalah pemikir revolusioner yang sulit dipahami tanpa memahami psikoanalis Freud dan semangat perlawanan filsuf Prancis kontemporer. Ia lahir di Paris pada 18 Januari 1925, dan meskipun keluarganya memiliki nilai-nilai konservatif, Deleuze secara bertahap menjadi kiri radikal. Dari tahun 1944-1948, ia belajar filsafat di Universitas Paris, dan setelah lulus dan mendapatkan sertifikat pengajaran, ia mengajar filsafat di berbagai sekolah menengah hingga tahun 1957.

Deleuze kemudian kembali ke Universitas Paris sebagai instruktur, mengajar sejarah filsafat dari tahun 1957 hingga 1960. Ia menjadi peneliti di Centre National de Recherche Scientifique (CNRS) dari tahun 1960 hingga 1964. Deleuze bertemu dengan Michel Foucault pada tahun 1962 ketika Foucault sedang mengajar di Universitas Clermont-Ferrand. Foucault mengatakan bahwa abad kedua puluh mungkin suatu hari akan dikenal sebagai Deleuzean.

Deleuze mengajar di Universitas Lyon dari tahun 1964 hingga 1969, dan membuktikan dirinya sebagai salah satu penafsir filsafat terbaik dari generasinya. Pada tahun 1969, ia menyelesaikan tesis doktoralnya, “Difference and Repetition,” dan pada tahun yang sama, ia bertemu dengan psikoanalis Lacan, Félix Guattari (1930–92), yang segera menjadi mitra intelektual Deleuze.

Buku-buku awal yang mereka tulis bersama, “Anti-Oedipus” (1972) dan “A Thousand Plateaus” (1980), merupakan karya-karya yang saling melengkapi dan menjadi dua volume dalam “Capitalism and Skizofrenia” dan memberikan pengakuan intelektual internasional kepada keduanya.

Dari tahun 1969 hingga 1987, Deleuze mengajar di Universitas Paris VIII, di Vincennes, dan pensiun pada usia enam puluh dua tahun. Pada tahun 1992, kesehatannya menurun akibat penyakit paru-paru yang serius, dan ia meninggal bunuh diri pada tanggal 4 November 1995 pada usia enam puluh sembilan tahun (Wicks, 2009).

Anti-Oedipus

Deleuze dan Guattari berkolaborasi dalam buku “Anti-Oedipus: Capitalism and Schizophrenia, Volume I” yang terbit tahun 1972. Karya ini mengungkap peran ambigu psikoanalisis Freudian dalam lingkaran intelektual Prancis. Freud sendiri percaya bahwa gaya psikoanalisisnya revolusioner dan subversif, dan pandangan ini diadopsi oleh pengikutnya termasuk filsuf dan kritikus sosial. Deleuze dan Guattari mencoba membangun anti-tesis terhadap dominasi psikoanalisis Freud.

Kritikus sosial seperti Roland Barthes menggunakan psikoanalisis untuk mengembangkan proyek-proyek pemikiran anti-kapitalismenya dengan memahami kesadaran sosial berdasarkan teoretisasi psikoanalisis. Tak berbeda, Jacques Lacan menganggap Freud membuka jalan menuju pembebasan jiwa. Dengan kata lain, psikoanalisis telah menjadi salah satu teori yang disukai oleh para kritikus sosial terutama di Prancis dan Jerman.

Deleuze dan Guattari melihat psikoanalisis terlalu dominan dan status quo sehingga kehilangan potensi revolusionernya dan cenderung menjadi alat diskursus elit borjuis. Deleuze dan Guattari percaya bahwa psikoanalisis bertentangan dengan ideal-ideal sosial Marxis dan komunis karena psikoanalis cenderung mendukung kapitalisme dan penindasan borjuis.

Baca Juga  Muhagumi: Perjalanan Inspiratif dari Sales Handphone hingga Menjadi Co Host Celebrity Terkemuka

Alih-alih berpartisipasi dalam usaha yang akan membawa pembebasan yang sejati, psikoanalisis malah ikut dalam pekerjaan penindasan borjuis pada tingkat yang paling mendalam, yaitu menjaga umat manusia Eropa terikat pada kekuasaan orang tua dan tidak berusaha sama sekali untuk mengatasi masalah ini.

Deleuze dan Guattari mengidentifikasi beberapa kekuatan penindasan, termasuk kapitalisme dan keluarga inti. Psikoanalisis Freudian menjadi sasaran kritik mereka karena mereka memahami salah satu tema sentral psikoanalisis Freudian adalah kompleks Oedipus yang mengasumsikan bahwa keluarga inti adalah tempat perkembangan kepribadian dan kesadaran seksual manusia yang paling fundamental.

Filsafat “Anti-Oedipus” dari Deleuze dan Guattari ditujukan untuk mengeritik psikoanalisis Freudian dalam menjelaskan perkembangan manusia terutama dimensi seksualnya. Deleuze dan Guattari tidak mempertentangkan kebenaran keseluruhan model Freudian, tetapi mereka menunjukkan bagaimana model tersebut cenderung membatasi konseptualisasi kehidupan mental anak dengan memandang hubungan keluarga yang langsung sebagai landasan penting untuk perkembangan psikologis.

Menurut pandangan Deleuze dan Guattari, energi naluri hadir dalam diri manusia secara independen dari konteks keluarga dan struktur keluarga inti, dan bahwa mereka perlu dipahami dengan cara mereka sendiri, bukan melalui lensa Oedipal Freudian.

Deleuze dan Guattari menggunakan analisis skizofrenik untuk memahami sifat energi pra-Oedipal, naluri dalam gaya jiwa manusia yang tidak cocok dengan pembentukan karakter oleh struktur keluarga tradisional.  Deleuze dan Guattari memusatkan perhatian pada tipe individu ‘non-Oedipalized’ untuk memahami apa yang ‘liar’ atau ‘alami’ dalam bawah sadar manusia. Mereka akhirnya mengembangkan model bawah sadar berdasarkan pemahaman mereka tentang mentalitas skizofrenik.

Skizofrenik berpindah dari satu kode ke kode lainnya dan sengaja mengacak semua kode serta dengan cepat beralih dari satu ke yang lain sesuai dengan pertanyaan yang diajukan kepadanya. Ia tidak pernah memberikan penjelasan yang sama dan konsisten. Skizofrenik hidup sesuai dengan kode mereka sendiri, dan kode-kode ini tidak selaras dengan kode sosial yang berlaku. Skizofrenik adalah individu yang tidak cocok hidup dalam masyarakat, sulit dipahami dan resisten terhadap analisis yang normatif dan rasional.

Konsepsi Deleuze dan Guattari tentang skizofrenik memberikan gambaran sosial mutlak yang berdiri sendiri dan melawan kenormalan dalam masyarakat dan juga mengeritik dominasi teori psikoanalisis Freudian. Dalam pandangan Deleuze dan Guattari, dunia skizofrenik muncul sebagai agregat mesin-keinginan skala kecil, mulut, tangan, perut, gigi, dll. yang saling mencampur, mencocokkan, berinteraksi, dan terputus, seperti mozaik yang berubah.

Deleuze dan Guattari berpandangan bahwa dunia ini dipimpin oleh keinginan naluri yang gila, memualkan dan membuat tidak nyaman. Deleuze dan Guattari meningkatkan tingkat keabsurdan eksistensial ke tingkat intensitas yang lebih tinggi, mengekspresikannya dalam kaitannya dengan bentuk kesadaran yang biasanya akan dianggap sebagai bentuk penyakit mental serius. Deleuze dan Guattari terinspirasi oleh Marx ketika mengatakan bahwa psikoanalisis terlalu teoretis dan telah mengabaikan aspek produktif dari dunia.

Baca Juga  SLB YPPLB Pangkep Gelar Kegiatan Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka Tahun 2023

Minat Deleuze dan Guattari ditujukan untuk pembebasan dan praktis. Mereka menyatakan pandangan mereka dengan referensi kepada keinginan. Kekuatan mereka konseptualisasikan dengan istilah produktif dan dalam istilah mesin. Meurut Deleuze dan Guattari, dunia sosial adalah tempat yang sarat dengan energi seksual yang sumber energinya adalah bawah sadar yang menjadi gudang berbagai keinginan yang berlipat ganda dan tidak pernah berhenti dan puas.

Hasrat menurut Deleuze dan Guattari adalah sesuatu yang produktif dan energi berlebih yang tak pernah habis. Dan jika hasrat dianggap sebagai kehendak, dan kehendak adalah tindakan, maka hasrat dapat dilihat sebagai sesuatu yang aktif. Ini menghasilkan konsepsi hasrat yang terinspirasi oleh Nietzsche sebagai energi dan kekuatan yang ekspansif, bertentangan dengan konseptualisasi kuno.

Deleuze dan Guattari menganggap hasrat sebagai energi sosial yang fundamental terartikulasi ke dalam berbagai mesin susunan sosial yang selalu berubah. Gambarannya menyerupai humanoid berbasis AI. Ketika aliran hasrat diblokir, dialihkan, dan diubah, maka kontur keseluruhan susunan yang dianggap sebagai tubuh raksasa tanpa organ tersebut juga berubah.

Musuh utama Deleuze dan Guattari adalah serangkaian kondisi sosial dan sikap yang menghalangi pembebasan. Ini juga adalah musuh Roland Barthes. Deleuze dan Guattari berusaha melawan fasisme, kekuatan yang menakutkan, mengendurkan, menindas, merampas wilayah pribadi, dan membungkam.

Barthes menganggap bahasa sebagai fasis karena memaksa berbicara. Lyotard menganggap permainan bahasa yang dominan sebagai teror karena mereka membungkam ucapan yang berlawanan. Dan Deleuze dan Guattari pun menganggap sistem sosial yang ada sebagai fasis jika menekan hasrat. Setiap masyarakat pada dasarnya adalah repressif.

Metode pembebasan yang disukai Deleuze dan Guattari disebut skizoanalisis. Metode ini dijelaskan oleh Deleuze dalam karyanya, Dialogues (1977). Deleuze mengajukan pandangan bahwa dunia sosial dapat dipahami sebagai agregat dari mesin-mesin. Dia juga membayangkan interaksi di antara entitas-entitas mekanis ini mengikuti pola dari suatu rizom, berlawanan dengan sistem hierarki.

Pada pandangan rizom, setiap titik dalam rizom dapat terhubung ke titik lainnya, dan rizom dapat dipecah menjadi bagian-bagian yang kemudian dapat berkembang sendiri. Rizom memiliki sifat kanker dan sulit untuk dikelola. Deleuze memandang dunia sosial sebagai sesuatu yang penuh dengan potensi kerentanan, volatilitas dan banyak koneksi sistematis ke kekuatan-kekuatan eksternal. Deleuze menggunakan analisis mekanik berdasarkan dinamika energi dan fungsi untuk memahaminya. Pandangan rizomnya menggambarkan bagaimana elemen-elemen sosial dapat terhubung dan berkembang dalam cara yang kompleks dan tidak terduga (Wicks, 2009).

Alhasil, Deleuze adalah pemikir yang mencoba melawan dominasi psikoanalisis demi menemukan semangat pembebasan baru di era penindasan kapitalisme dan dominasi simbol fasisme. Ia mengeritik fondasi pemikiran psikoanalisis, kompleks Oedipus, dengan mengajukan tesis Anti-Oedipus yang lebih material dan revolusioner.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *