Sarjana Mencari Kerja Laksana Jamur Musim Hujan

Sumber: Pexels/ Pixabay

Oleh: Novia Rahmadani
Mahasiswi Sejarah Peradaban Islam
Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

JurnalPost.com – Angka lulusan sarjana yang mencari kerja setiap tahunnya terus meningkat. Seperti jamur di musim hujan, terus tumbuh tak terkendalikan. Sehingga Perguruan Tinggi seolah-olah hanya memproduksi atau mencetak para pencari kerja semata. Belum lagi angka pengangguran yang terus bertambah. Tercatat hingga Februari 2023 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di Indonesia menyentuh angka 7,99 juta orang. Ini menjadi problematika yang tak ada habisnya.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek R.I, Prof. Nizam pada Desember tahun 2022 silam menyatakan, setidaknya dalam satu tahun rata-rata Perguruan Tinggi di Indonesia melahirkan 1,4 juta sarjana dan diploma (kemendikbudristek.go.id). Angka ini bagaikan bom waktu. Daya saing mencari lapangan pekerjaan semakin tinggi ketika lulusan sarjana dihadapkan dengan 0,05% penduduk Indonesia bergelar magister dan doktor yang secara jenjang pendidikan tentu lebih berkompeten. Data ini dirilis oleh Direktorat Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementrian Dalam Negeri pada tahun 2021.

Bukan hal yang asing lagi, orientasi ketika seseorang menempuh pendidikan tinggi pada bidang keilmuan yang mereka minati ialah untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan menjanjikan. Lantas apakah hal tersebut berbanding lurus dengan ketersediaan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menampung lulusan sarjana yang kian tahun kian membludak jumlahnya?

Dunia kerja di era global saat ini laksana medan perang, setiap orang berpacu dan bersaing dengan skill serta kemampuan masing-masing untuk mendapatkan posisi atau pekerjaan yang dinilai layak dan berkualitas. Namun, sayangnya ruang kerja yang tersedia masih sempit dan tidak mampu menyeimbangi jumlah para pencari kerja terutama fresh graduate yang baru menyelesaikan pendidikan tingginya.

Persaingan ketat sarjana dalam mencari pekerjaan ini menjadi dilema yang menghantui bagi fresh graduate saat ini. Umumnya setiap mahasiswa yang siap terjun ke dunia kerja tentu telah memiliki rencana matang untuk masa depannya. Menamatkan pendidikan tinggi dengan predikat baik, memiliki kemampuan dan keahlian yang mumpuni dengan latar bidang keilmuan yang ditekuni, serta percaya diri yang tinggi untuk menempati posisi pekerjaan yang sesuai dengan harapan.

Namun, sayangnya harapan tersebut tak selalu relevan dengan kenyataan atau realitas yang ada. Sebab meski mereka sudah memiliki gambaran prospek kerja yang layak ketika masih menempuh jenjang pendidikan tinggi, nyatanya realita yang dihadapi tak lain ialah sulitnya mendapatkan pekerjaan karena ketersediaan lapangan pekerjaan yang kian sempit. Penuh sesak oleh pelamar kerja yang saling bersikejar.

Realita yang terjadi tersebut kemudian menjelma menjadi traumatis tersendiri bagi mahasiswa, calon-calon pencari kerja. Mereka dibayang-bayangi oleh kemungkinan menjadi pengangguran di masa depan, lagi-lagi karena melihat fakta yang terjadi di lapangan. Lantas buat apa gelar sarjana yang mereka sandang nantinya jika ujung-ujungnya hanya untuk menjadi pengangguran. Belum lagi tuntutan harapan orang tua ketika lantas menyerahkan putra-putrinya ke perguruan tinggi sudah pasti demi mengenyam pekerjaan yang mapan dan mentereng. Kecemasan-kecemasan ini terus menghantui pikiran para mahasiswa, calon-calon pencari kerja.

Menurut saya, hal ini terjadi salah satunya karena ekspektasi yang mereka bangun sendiri di tengah-tengah kehidupan global yang begitu dinamis. Calon-calon sarjana terlalu terlena dengan bayang-bayang pekerjaan paling mapan sedang mereka tidak memahami bagaimana prospek kerja di lapangan. Di samping itu, menurut saya banyaknya lulusan sarjana yang menganggur bukan hanya karena minimnya lapangan pekerjaan dan persaingan yang ketat semata. Melainkan juga karena lemahnya mentalitas para lulusan sarjana di era ini.

Tukas Benita dalam berita CNBC Indonesia, “Apapun yang dipercayakan, kerjakanlan dengan baik. Jangan memilih-milih pekerjaan yang dipercayakan. Lakukan saja yang terbaik” (CBNC Indonesia, 2022). Tak dapat dinafikan, inilah yang menjadi problem di kalangan fresh garduate saat ini, terlalu tinggi gengsi untuk menekuni suatu pekerjaan. Para sarjana terlalu pikir panjang untuk memulai dari nol. Padahal memulai karir dari bawah justru jauh lebih menjanjikan dari pada menjadi pekerja bagi orang lain. Maslahatnya kita dapat mencetak lapangan bagi orang lain kelak.

Apakah orang-orang sekelas Jack Ma, Bill Gates, Albert Einstein dan orang-orang serupa mereka dengan instan menerima kesuksesan yang dielu-elukan dunia saat ini? Tidak, mereka pernah berada di titik paling rendah untuk kemudian memulainya dari nol hingga sebesar nama mereka sekarang. Kuncinya hanya kecintaan terhadap minat dan bakat (bidang keilmuan) yang diasah dengan kerja keras dan kemauan. Ini lah yang perlu ditumbuhsuburkan di kalangan lulusan sarjana muda saat ini.

Apabila dua hal besar di atas tidak menjadi perhatian, yaitu pemahaman mendalam terhadap prospek kerja bidang keilmuan yang ditekuni dan mentalitas kerja keras untuk merealisasikannya. Maka, gelar sarjana tinggal lah sarjana semata, tanpa menjadi apa-apa.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *