Semarum Gerakkan Kesenian Soreng Dan Warok Sebagai Bentuk Regenerasi Budaya Nusantara Sebelum Menyambut Bulan Ramadhan

Sumber : Foto oleh Tim Pengabdian Masyarakat Semarum

Magelang, JurnalPost.com – Dalam Rangka “Menyambut Bulan Suci Ramadhan” Dusun Semarum mengadakan kegiatan pagelaran kesenian Soreng Kecil Jhodipati dan Tari Warok Tunas Muda yang diselenggarakan di Dusun Semarum, Desa Sumurarum, Kecamatan Grabag, Jawa Tengah. (Sabtu, 9 Maret 2024)

Acara Pagelaran kesenian dari hasil musyawarah masyarakat Dusun Semarum yang memiliki tujuan sebagai bentuk solidaritas dan menyambut bulan Suci Ramadhan dengan luapan kreativitas masyarakat dalam menggenerasikan kesenian yang telah ada. Kesenian yang ditampilkan yaitu Soreng Kecil Jhodhipati yang dibawakan oleh anak-anak sedangkan Kesenian Warok Tunas Muda yang dibawakan oleh para pemuda.

Tarian Soreng berangkat dari kisah Babad Tanah Djawi yang bercerita mengenai prajurit Kadipaten Jipang Panolan pimpinan Adipati Arya Penangsang yang melawan Sultan Hadiwijaya. Tarian ini menurut Agung Santoso atau yang akrab disapa Gus Agung, seorang penggiat tarian Soreng di Dusun Semarum menyatakan Tarian tersebut merupakan bentuk ekspresi amarah dalam bentuk tarian. Sedangkan tarian Warok merupakan salah satu bagian dari kesenian Reog Ponorogo. Biasanya, Tarian Warok dimainkan oleh 10-12 orang dengan berbagai properti seperti blangkon, wig, brewok, kumis (brengos) dan jaran kepang.

Sumber : Foto oleh Tim Pengabdian Masyarakat Semarum

“Pagelaran kesenian ini untuk melestarikan adat Jawa, dan agar pandangan masyarakat lebih terbuka apalagi acara ini dipelopori oleh anak muda” ungkap Nova Adi (28) seorang pemuda Dusun Semarum.

Ia juga mengatakan bahwa acara pagelaran kesenian ini terbentuk karena adanya harapan untuk semakin banyaknya anak muda belajar kesenian agar kesenian yang telah dimiliki tidak hilang.

“Acara pagelaran kesenian ini juga sebagai bentuk regenerasi kepada anak-anak dusun Semarum, seperti kesenian Soreng yang baru diadakan di tahun 2024 ini” tambahnya.

Tania, mahasiswa Yogyakarta yang sedang melakukan pengabdian masyarakat di dusun Semarum mengatakan bahwa dengan adanya kesenian Soreng dan Warok menjadi salah satu bentuk aksi nyata anak muda yang selalu ingin melestarikan budaya, melihat dari generasi sekarang yang sudah mengenal teknologi, dan ia merasakan salut karena anak-anak serta pemudanya masih ingin melestarikan budaya mereka. Adanya keunikan dari tarian yang sangat menghibur, kostum dan riasan wajah yang menarik, sehingga sebagai orang luar dusun Semarum, Tania sangat mendapatkan experience, didukung dengan adanya Budaya Jawa yang kental terlihat dari beberapa penari Warok yang menari kesurupan sehingga terlihat sangat mistik.

Kegiatan Pagelaran Kesenian ini disambut dengan antusias oleh masyarakat setempat baik dari pra-kegiatan maupun pada hari pelaksanaan. Pagelaran kesenian semakin meriah saat penampilan kesenian Soreng dari anak-anak dusun Semarum dan juga dilanjutkan oleh kesenian Warok oleh pemuda dusun Semarum. Tarian yang ditampilkan memiliki kekhasan Jawa Tengah yang kental dan unik.

Terlihat oleh para penonton dan masyarakat yang sangat antusias ketika penari dengan elok menampilkan alur cerita dari tarian yang ditampilkan. Acara semakin memuncak saat adanya beberapa penari dari Tarian Warok yang nampak menari di luar formasi yang semestinya (keserupan), penonton kian antusias dan terhibur dengan penampilan penari yang lekat dengan nuansa nusantara yang kian memeriahkan pegeralaran kesenian yang ada.

Redaksi : PM Semarum (Mutiara)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *