Stigma segel dan bekas hanya untuk perempuan

Karya Apriliana Soekir

JurnalPost.com – Masalah keperawanan itu sudah pro-kontra dari zaman dahulu hingga detik ini. Namun, kaidah bahasanya lebih dipelintir dengan kata-kata segel dan bekas”. Lagi dan lagi perempuan selalu dibandingkan atau disamakan layaknya barang atau paket dari pak kurir yang masih bersegel atau sudah di-unboxing atau sudah terbuka dari plastik cover-nya.

Jika permasalahan perawan adalah dilihat dari selaput daranya saja, bagaimana jika perempuan di luar sana yang beraktivitas di bidang pekerjaan atau seni yang membutuhkan fisik untuk menopang pekerjaan berat sehingga tidak memungkiri kecelakaan tunggal yang mengakibatkan putus atau robeknya selaput dara? Tidak semua perempuan menyadari kehati-hatiannya perihal ini dan bahkan tidak semua perempuan memiliki selaput dara ketika lahir.

Perlu dimengerti dan disadari, meskipun ada beberapa juga perempuan sejak lahir sudah memiliki selaput dara, tetapi mereka secara alami dapat hilang secara bertahap dengan pubertas dengan menstruasi. Jadi, tidak semua selaput dara pada perempuan sama. Fungsi selaput dara sendiri ialah sebagai lapisan untuk melindungi bukaan vagina dan area sekitarnya selama masa pertumbuhan perempuan itu sendiri.

Jadi, apakah salah perempuan apabila mereka tidak terlahir atau tidak mempunyai selaput dara? Lalu diopinikan dengan kalimat, “Perempuan segel dan bekas?”.

Faktor lainnya, ada beberapa perempuan yang sedari kecil sudah berkecimpung di dunia atletik, seperti misalnya pencak silat, lari estafet, renang, bulu tangkis, basket, penari balet, dll. Lantas apakah semua perempuan menyadari dirinya pernah kecelakaan sewaktu melakukan olahraga tersebut dan kehilangan selaput daranya? Tidak. Atau barangkali ketika sewaktu kecil naik sepeda lalu vagina si perempuan terbentur di gagang sepeda dan kehilangan selaput daranya.

Lalu bagaimana dengan perempuan-perempuan yang sudah melakukan hubungan suami-istri tanpa adanya ikatan sah secara agama dan negara? Apakah juga layak dikatakan bekas dan segel?

Kembali di konsep awal bukan meliputi ruang agama, standar sosial, atau budaya. Jika perempuan layaknya barang yang ada segel dan bekasnya, lalu apakah tidak diperbolehkan menjalani kehidupan layaknya manusia pada umumnya? Tidak layakkah perempuan mencapai kebahagiaannya kembali? Tidak adakah tempat untuk perempuan menjadi lebih baik atau bertobat? Tidak adakah ruang untuk perempuan belajar dari kesalahannya? Tuhan saja Maha Pemaaf untuk semua hamba-Nya. Lantas siapa kita tidak ada kata maaf dan kesempatan kedua lebih baik untuk sesama ciptaan-Nya. Kesalahan karena dirinya sudah melakukan hubungan seperti suami-istri juga bukan berarti landasan mau sama mau, bukan juga dijadikan standar nilai atau moral mereka sebagai manusia tidak baik-baik, tidak benar, murahan, dari banyak kasus ada yang dijebak, ada yang dimanipulasi, ada yang terpaksa, ada juga yang diancam dengan berbagai cara. Hal ini lagi dan lagi selalu dikatakan perempuan lemah atas dirinya sendiri.

Dikutip dari Tribunnews.com, 62% perempuan di Indonesia tidak perawan. Artikel tersebut sempat ramai dari berbagai platfrom media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan Tiktok. Lantas apakah ini lagi dan lagi menjadi patokan perempuan murahan, bekas, dan tidak benar? Mengapa artikel-artikel seperti ini yang lebih disorot untuk menyudutkan perempuan? Bagaimana dengan kaum laki-laki? Hampir menurut saya 90% laki-laki dari zaman dulu hingga sekarang sudah banyak yang tidak perjaka, baik dari masturbasi atau melakukan hubungan bukan sah suami-istri. Yang begitu menggelitik lagi adalah ketika para laki-laki memarodikan atau menceritakan bagaimana mereka kehilangan keperjakaan mereka sedari kecil. Di saat bersamaan mereka juga paling lantang mendiskreditkan perempuan ketika mendengar perempuan kehilangan keperawanan. Ada yang begitu bangga ketika sudah “jajan” modelan perempuan apa saja yang sudah didekati, dibeli, dan dilukai oleh mereka. Mengapa yang disorot media hanya kaum perempuan dengan alasan selaput dara sebagai pembedanya? Apakah maskulinitas laki-laki lemah ketika dipojokkan dengan istilah laki-laki murahan dan tidak benar?

Lalu alasan apalagi yang kalian gunakan adalah mewajarkan “Ya kan kita laki-laki, wajar dong.”

Wajar yang dimaksud adalah bagian mana? Sedangkan tugas laki-laki adalah menundukkan pandangan, menjaga syahwat dan nafsunya, apakah ini dibenarkan atau alibi saja untuk tidak disalahkan? Jadi, nilai keperawanan dan keperjakaan seseorang itu bukan sama dengan nilai sebagai manusia, bukan juga akan mengurangi nilai fisik atau atribut fisik Anda sebagai manusia. Karena nilai Anda sebagai manusia bukanlah dari atribut fisik yang ada di badan Anda tapi sekali lagi attitude dan moral Anda sebagai manusia. Dan kehilangan sesuatu dalam hidup seperti keperjakaan dan keperawanan tidak berarti membuat kita kehilangan harga diri. Jika kami perempuan dipandang segel dan bekas hanya dari selaput dara, dianggap murah dan tidak benar, lantas kami kaum perempuan harus memandang laki-laki segel dan bekas dari bagian apa supaya tidak mendapatkan laki-laki murah dan tidak benar? Perempuan bukan barang dan bukan bahan objektifikasi. Jadi stop menganggap perempuan baru dan bekas. Perempuan dan laki-laki adalah sama-sama manusia yang perlu dimanusiakan menggunakan bahasa dan perilaku manusia.

PROFIL  PENULIS

warga Facebook
Apriliana Soekir lahir di Ngawi, Jawa Timur, pada 29 April 1999. Masih berstatus mahasiswi dari Universitas Kehidupan, Jurusan Kemanusiaan.

Setelah menerbitkan novel pertamanya yang berjudul “Kenapa Harus Perempuan”.

Beberapa puisi karyanya termuat dalam koran harian terbitan Fajar Makassar yang berjudul “Pelukan Sunyi” dan “Bergulat Dengan Rindu”. Puisi berjudul “Sederhana, Kepada Ruang Singgah dan Teropong Waktu” termuat dalam koran harian terbitan Suara Merdeka. Cerita pendek, quotes, dan karya-karyanya yang berupa tulisan tersebar di berbagai media masa nasional serta dapat dijumpai di Instagram @AprilianaSoekir atau dapat dihubungi melalui e-mail aplilapril@gmail.com.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *