Sudah Bukan Rahasia, Kaum LGBT Terang-terangan Live di Tiktok

Sumber gambar : Pinterest

JurnalPost.com – Apakah ini sebuah trend? Kaum LGBT sekarang sudah terang-terangan mengumbar keromantisannya di sosial media. Mereka mencoba membangun jejaring untuk mencari dukungan dengan mangatasnamakan hak asasi manusia (HAM).

Aktifitas LGBT sudah menawarkan secara terbuka di sosial media. Kewaspadaan terhadap gerakan LGBT tidak boleh dianggap remeh. Jumlah pendukung gerakan ini disinyalir akan terus bertambah,namun untuk saat ini belum bisa diketahui angka pastinya.

Di Indonesia, status hukum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) sangat kompleks. Secara resmi, pemerintah Indonesia tidak mengakui pernikahan sejenis atau hubungan LGBT. Pada tahun 2017, Mahkamah Konstitusi Indonesia menolak permohonan untuk mengubah hukum yang melarang hubungan seks sejenis. Selain itu, terdapat beberapa peraturan daerah di beberapa kota yang secara eksplisit melarang aktivitas LGBT.

Dari sudut pandang agama, mayoritas penduduk Indonesia menganut agama Islam, yang mengajarkan bahwa hubungan sejenis adalah dilarang. Namun, ada pula penganut agama lain di Indonesia yang mungkin memiliki pandangan yang berbeda tentang LGBT. LGBT berisiko terkena penularan HIV/AIDS.

Makin terang-terangan kaum LGBT umbar kemesraannya dengan sesama jenis di sosial media, yaitu salah satunya dengan live di aplikasi tiktok. Privasi dikesampingkan, tak malu mereka menujukkan kepada orang-orang yang menontonnya saat bermesraan dan bercumbu.

Herannya ada juga netizen yang menonton dan mendukung atas tindakan tersebut. Mirisnya mereka yang menonton malah memberi komentar mendukung seperti, “Iri banget”, “Gemas sekali kalian”, ada juga mereka yang malah mecari pasangan sejenis dalam live tiktok pasangan LGBT tersebut.

Di beberapa negara sudah melegalkan pernikahan sesama jenis, beberapa negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis diantarannya; Belanda, Jerman, Spanyol, Kanada, Taiwan, Chili, Meksiko, dll. Negara yang baru-baru ini melegalkan penikahan sesama jenis yaitu negara Chili, Swiss, Slovenia, Ekuador, Malta, Andorra, Kuba, Armenia, dan Yunani. Namun di Indonesia tidak melegalkan pernikahan sesama jenis.

Hal ini tentu saja bertentangan dengan norma budaya dan agama. UU No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, dimana pasal ini berisi bahawa perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan Fatma nomer 57 Tahun 2014 tentang Lesbian, Gay, Sodomi dan Pencabulan. Fatma tersebut menyatakan bahwa orientasi seksual sesama jenis dan orientasi seksual lainya adalah haram dan bentuk penyimpangan.

Beberapa dampak yang dihadapi oleh kaum LGBT ketika mereka memutuskan bahwa akan terbuka dan tidak menutupi pada masyarakat atas tindakannya yang memang tidak semua orang bisa memahaminya dan salah dimata hukum dan agama. Dampak negatif tersebut diantaranya :

1. Diskriminatif
2. Kekerasan dan Pelecehan
3. Stigma dan Pengucilan
4. Kesehatan Mental
5. Kehilangan Dukungan Keluarga dan Sosial

Menurut saya pribadi saya menyalahkan atas tindakan LGBT dan menyalahkan para pendukung LGBT dengan mengatas namakan HAM ( Hak Asasi Manusia). Saya pribadi terganggu atas beredarnya video-video dari akun para LGBT yang ada di media sosial, beberapa akun LGBT di Tiktok dengan sadar dan sengaja mereka live tebar keromantisan pada masyarakat di Indonesia.

Media sosial ini adalah media yang bersifat bebas diakses oleh siapa saja, jadi saya sangat berharap para LGBT ini berhati-hati dalam menggunakan sosial media dan tidak perlu seterbuka itu kepada masyarakat. Kita tidak bisa memfilter konten yang dibuat ditujukan kepada kalangan umur berapa, di zaman ini anak kecil bisa tau bagaimana cara menggunakan ponsel dan bagaimana cara menggunakan media sosial.

Orientasi seksual dan identitas gender adalah bagian dari keragaman manusia yang alami atau apa adanya diluar kontrol kita dan hal itu tidak dapat dihilangan. Berpendidikan tinggi pun tidak bisa mengontrol hal itu, contohnya adalah seorang tiktoker Indonesia yang menikah dengan sesama jenis di Negara Jerman. Hubungan yang mereka bangu sudah terjalin beberapa tahun dan sudah secara sadar mereka membuat konten memberitahukan kepada masyarakat atau biasa disebut netizen.

Tidak bisa dihindari namun hanya berharap agar kaum LGBT tidak sembarangan membuat konten dan terbuka pada masyarakat. Karena tidak semua orang bisa memilah sisi positif dan negatif akan hal itu. Penting untuk diingat bahwa respons masyarakat terhadap LGBT sangat bervariasi di seluruh dunia, tergantung pada faktor-faktor seperti budaya, agama, politik, dan sejarah lokal.

Oleh Shofiana Anggita Sari – Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *