Suguhkan Cerita Murwakala di Ruwatan Masal, Hari Wayang Dunia Ke-9 Resmi Digelar

JurnalPost.com – Institut Seni Indonesia Surakarta kembali mengadakan pagelaran wayang yang dimeriahkan oleh puluhan dalang dari berbagai penjuru daerah pada HWD atau Hari Wayang Dunia di tanggal 1 November hingga 2 November 2023 kemarin.

Acara ini diadakan di kampus satu ISI Surakarta, tepatnya di Pendapa Ageng “KGPH Joyokusumo”. Terhitung sudah sembilan kali pagelaran Hari Wayang Dunia diadakan di ISI Surakarta ini, dan tahun ini adalah yang ke-sembilan.

Tepat pukul 09.00 WIB pertunjukkan pertama digelar. Dr. Bambang Suwarno, S. Kar., M. Hum membukanya dengan cerita “Murwakala” sebagai penghantar acara ruwatan masal. Tak menunggu waktu lama, tempat duduk di Pendapa Ageng dipenuhi penonton. Baik dari mahasiswa ISI Surakarta, penggiat seni, para tamu undangan, bahkan anak-anak TK turut meramaikan pagelaran tersebut.

Cerita “Murwakala” ini mengisahkan tentang asal-usul kehidupan manusia yang dimulai dari lahirnya Batara Kala yang berasal dari sperma Batara Guru yang jatuh ke samudra sampai turunnya Dewa Wishnu yang menyamar sebagai Ki Dhalang Kandha Buwana. Cerita ini mengandung banyak pesan moral di antaranya tentang ketamakan dan keserakahan manusia, juga tentang hawa nafsu yang menjadi bagian dari diri manusia.

“Menjadi manusia itu harus hati-hati, semua ada perhitungannya” Tutur Ki Bambang Suwarno. Beliau juga mengaku tak semua dalang berani membawakan cerita “Murwakala” sampai panitia yang meminta beliau untuk membawakan cerita ini. “Saya di sini sudah empat puluh tahun, tidak ada yang berani membawakan cerita ini, lalu saya disuruh panitia” imbuhnya.

Selesai menceritakan asal usul manusia lewat kisah “Murwakala”, Ki Bambang Suwarno melanjutkan acara dengan kegiatan ruwatan masal. Ruwatan masal ini diikuti oleh berbagai macam usia, dari bayi sampai lanjut usia sekalipun. Beliau menjelaskan bahwa ruwatan masal bertujuan untuk untuk mencapai tujuan hidup yang terkandung dalam unen-unen mati sajroning urip, urip sajroning pojan artinya bahwa yang hidup tetap hidup tetapi yang mati adalah nafsu lahirnya.

Prosesi ruwatan masal di antaranya adalah memotong rambut, yang memiliki arti filosofis yaitu bahwa segala yang kotor harus dipotong dan dibuang yang berarti hawa nafsu pada diri manusia. Acara ruwatan ini berlangsung sampai pukul 13.00 WIB yang dimulai dari sekitar pukul 12.00 WIB.

Selesai acara, Ki Bambang Suwarno yang diwawancarai berpesan bahwa kebudayaan wayang kulit dan tradisi ruwatan ini harus tetap dilestarikan oleh masyarakar milenial sebagai identitas bangsa Indonesia. “Anak milenial harus belajar yang teratur untuk melestarikan budaya ini, karena semua tradisi mempunyai keberagaman” akhir beliau.

Penulis:
1. Muhammad Labib Pratama
2. Galih Pramudya Sulistyo
ISI Surakarta / Film dan Televisi

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *