Transformasi Black Friday: dari Kekacauan Jalan Menjadi Fenomena Belanja

Ilustrasi Black Friday. Sumber: https://www.pexels.com/photo/black-gift-boxes-with-discount-signs-5872348/

oleh Roma Kyo Kae Saniro
Dosen Universitas Andas

JurnalPost.com – Pada hari Jumat minggu akhir bulan November 2023, dunia memperingati Black Friday, sebuah peristiwa besar yang telah menjadi sorotan utama dalam kalender belanja. Nama “Black Friday” tidak mengacu pada pewarnaan hitam pada seseorang atau tema warna dalam perayaan tertentu. Sebaliknya, istilah ini merujuk pada peristiwa bersejarah yang terjadi setelah perayaan Thanksgiving.

Black Friday, yang pertama kali diperkenalkan pada era 1960-an di Philadelphia oleh polisi dan pekerja ritel untuk merujuk pada kekacauan lalu lintas dan keramaian pasca-Thanksgiving, awalnya diwarnai oleh konotasi negatif karena mencerminkan kerumunan dan kekacauan di pusat kota. Namun, seiring berjalannya waktu, Black Friday mengalami transformasi menjadi fenomena belanja nasional di Amerika Serikat dan menyebar ke negara-negara di seluruh dunia. Peringatan Black Friday kini telah menjadi momen resmi dimulainya musim belanja Natal, di mana pengecer menawarkan diskon besar dan penawaran spesial untuk menarik perhatian konsumen.

Black Friday menjadi fenomena belanja yang luar biasa, di mana pengecer dan toko-toko menawarkan diskon besar-besaran, penawaran khusus, dan promosi untuk menarik perhatian konsumen. Seiring berjalannya waktu, peringatan ini telah menjadi momen resmi yang menandai awal musim belanja Natal, dan masyarakat di seluruh dunia menanti-nanti penawaran istimewa yang dapat ditemukan pada hari ini. Pada Black Friday, toko-toko di berbagai kota membuka pintu mereka dengan jam operasional yang lebih lama, dan konsumen berbondong-bondong untuk memanfaatkan diskon besar dan promosi eksklusif. Meskipun awalnya berkembang di Amerika Serikat, Black Friday telah merambah ke seluruh dunia, menjadi peristiwa global yang menciptakan kegembiraan dan antusiasme dalam budaya belanja.

Sebagai bagian dari tradisi, banyak konsumen yang berencana untuk berbelanja secara besar-besaran, mencari barang-barang dengan harga diskon dan mengejar penawaran terbaik. Namun, meskipun Black Friday menawarkan peluang belanja yang menggiurkan, peristiwa ini juga mendapat sorotan kritik terkait dengan konsumtifitas berlebihan, kerumunan di toko-toko fisik, dan dampak lingkungan dari produksi dan pengiriman barang. Selain itu, kerumunan dan sampah yang ditimbulkan akibat penumpukan massa yang banyak pada waktu yang sama dan di tempat yang sama. Beberapa orang juga menggagas alternatif seperti Buy Nothing Day untuk mengekspresikan penolakan terhadap budaya konsumtif yang berkembang pada Black Friday.

Asosiasi negatif dengan istilah “Black Friday,” terutama terkait dengan kerumunan dan kekacauan, mungkin telah memengaruhi persepsi sejumlah konsumen. Studi menunjukkan bahwa sebagian konsumen menganggap Black Friday kurang berdampak dan upaya dilakukan untuk mengubah pandangan tersebut dengan menciptakan narasi yang lebih positif terkait perayaan ini. Meskipun mendapatkan kritik, Black Friday tetap menjadi salah satu hari belanja terbesar, di mana konsumen menantikan penawaran dan diskon yang signifikan. Peristiwa ini terus menarik perhatian masyarakat dan membentuk budaya belanja yang kuat, walaupun beberapa perubahan dalam perilaku konsumen telah terjadi seiring berjalannya waktu.

Penting untuk mengakui bahwa seiring dengan perayaan Black Friday yang berkembang, muncul berbagai argumen dan kritik terhadap dampak konsumtifitas berlebihan dan kerumunan. Namun, argumen tersebut dapat dihadapi dengan mempertimbangkan solusi budaya belanja secara daring melalui berbagai platform e-commerce dan market place. Dalam era digital ini, teknologi telah memainkan peran kunci dalam memudahkan konsumen untuk mendapatkan barang dan keperluan yang diinginkan tanpa harus terlibat dalam kerumunan yang terkait dengan belanja fisik. Market place online menawarkan alternatif yang menarik bagi konsumen yang ingin menikmati penawaran Black Friday tanpa meninggalkan kenyamanan tempat tinggal mereka.

Belanja online pada Black Friday memberikan beberapa keuntungan yang signifikan. Pertama-tama, konsumen dapat dengan mudah membandingkan harga dan menelusuri penawaran dari berbagai toko tanpa harus mengunjungi fisik setiap toko tersebut. Selain itu, transaksi online sering kali memberikan kenyamanan tambahan, seperti pengiriman langsung ke pintu rumah dan opsi pembayaran yang fleksibel. Perkembangan teknologi juga menciptakan pengalaman belanja online yang semakin personal dan disesuaikan dengan preferensi konsumen. Algoritma rekomendasi, ulasan pelanggan, dan fitur-fitur lainnya membuat konsumen dapat membuat keputusan belanja yang lebih informasional.

Namun demikian, meskipun belanja online menawarkan berbagai keuntungan, juga penting untuk menyadari tantangan dan risiko yang terkait, seperti keamanan data dan potensi penipuan online. Selalu penting untuk memilih platform belanja yang terpercaya dan mengamankan informasi pribadi. Dengan demikian, melalui solusi budaya belanja secara daring, konsumen dapat tetap menikmati manfaat Black Friday tanpa harus terlibat dalam kerumunan atau menghadapi kerumitan belanja fisik, sambil tetap mengikuti perkembangan teknologi yang terus berkembang.

Dengan demikian, Black Friday dapat menjadi sebuah perayaan yang dapat memberikan potensi berbelanja yang meningkat karena banyaknya toko-toko yang memberikan penawaran dan diskon khusus yang nantinya akan mendorong peningkatan ekonomi melalui volume penjualan ritel sehingga toko dan ritel mampu mengakhiri tahun fiskal dengan baik. Selain itu, perayaan ini pun berdekatan dengan hari Natal yang memberikan kesempatan kepada para konsumen yang merayakan Natal untuk membeli perlengkapan tersebut dengan harga yang terjangkau. Namun, perlu digarisbawahi bahwa Black Friday harus menjadi sebuah momen perayaan bukan sebagai sebuah kegaduhan dan merusak lingkungan.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *