Utilitarianisme Menurut Jeremy Bentham | Jurnalpost

Muhammad Thaufan Arifuddin (Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas)

JurnalPost.com – Jeremy Bentham menerbitkan bukunya “Pengantar kepada Prinsip-prinsip Moral dan Legislasi” pada tahun 1789 di Inggris. Buku ini menjadi fondasi filsafat utilitarianisme yang memiliki efek revolusioner pada pemikiran moral dan politik.

Bentham yang lahir pada tahun 1748 adalah anak seorang pengacara kaya di London. Ia gemar membaca, bersekolah di Westminster pada usia 7 tahun dan lulus dari The Queen’s College, Oxford, pada usia 15 tahun. Ia belajar Ilmu Hukum dan diangkat menjadi pengacara pada usia 21 tahun, Namun, Bentham tidak suka dengan praktik hukum kontemporer (Kenny, 2007).

Bentham adalah sosok yang cerdas, tidak emosional, dan konsisten dalam pemikiran. Tetapi, ia kurang simpati terhadap perasaan yang paling alami dan kuat dari manusia. Pengetahuan Bentham tentang sifat manusia sangat terbatas dan sepenuhnya bersifat empiris berdasarkan pengalaman yang berguna.

Bentham berpikir bahwa sistem hukum Inggris harus direkonstruksi dari awal berdasarkan prinsip-prinsip hukum yang kokoh. Bagi Bentham, prinsip hukum yang kokoh dan menjadi sumber keadilan dan kebajikan adalah prinsip kemanfaatn (utilitas).  Prinsip kemanfaatan berarti kebahagiaan publik dan mayoritas warga negara adalah kriteria dan prioritas dalam suatu negara. Standar utama moralitas dan tujuan perundangan adalah kebahagiaan untuk publik. Bentham mengatakan bahwa kebahagiaan terbesar bagi jumlah terbesar adalah ukuran benar dan salah.

Bentham melakukan perjalanan ke seluruh Eropa pada tahun 1785-1787. Ia kembali dari Rusia dengan semangat untuk mereformasi penjara di Inggris dan Prancis. Pemerintahan William Pitt mengeluarkan Undang-Undang Parlemen yang memberikan izin atas rencana ini, tetapi rencana tersebut digagalkan oleh bangsawan pemilik tanah yang tidak ingin ada penjara di dekat properti mereka. Majelis Nasional Prancis juga tidak setuju dengan rencana Bentham (Kenny, 2007).

Bentham menyukai teori hukum dan praktik hukum yang lebih luas dan melebihi hukum pidana. Pada tahun 1808, Bentham berteman dengan seorang filsuf Skotlandia, James Mill, yang baru saja mulai menulis tentang Sejarah India yang monumental. Mill yang mempengaruhi Bentham untuk mulai fokus pada reformasi politik dan konstitusi daripada kritik terhadap prosedur dan praktik hukum.

Bentham menulis sebuah buku panduan untuk reformasi parlementer yang selesai pada tahun 1809 dan terbit tahun 1817. Satu atau dua tahun kemudian, ia menulis rancangan undang-undang reformasi radikal. Ia menghabiskan beberapa tahun dalam penyusunan sebuah kode konstitusi, yang tidak selesai ketika ia meninggal.

Pada akhir hidupnya, Bentham yakin bahwa konstitusi Britania menyembunyikan konspirasi orang kaya terhadap orang miskin. Oleh karena itu, Bentham menganjurkan penghapusan monarki dan Dewan Bangsawan, pengenalan parlemen tahunan yang dipilih melalui hak pilih universal, dan pemisahan Gereja Inggris dari negara.

Proposal konstitusional dan liberal Bentham meluas jauh melampaui urusan Britania. Pada tahun 1811, ia mengusulkan kepada James Madison untuk menyusun kode konstitusi untuk Amerika Serikat. Ia aktif dalam Komite Yunani London yang mensponsori ekspedisi di mana Lord Byron meninggal di Missolonghi pada tahun 1823. Untuk sementara waktu, ia berharap bahwa kode konstitusionalnya akan diimplementasikan di Amerika Latin oleh Simón Bolívar, Presiden Kolombia.

Kelompok radikal filosofis setuju Bentham mendirikan Westminster Review pada tahun 1823 untuk mempromosikan utilitarianisme. Mereka adalah para pendukung reformasi pendidikan. Bentham merancang sebuah kurikulum untuk pendidikan menengah yang menekankan ilmu pengetahuan dan teknologi daripada bahasa Yunani dan Latin.

Bentham dan rekan-rekannya aktif dalam pendirian University College London yang dibuka pada tahun 1828. Ini adalah lembaga tingkat universitas pertama di Britania yang menerima mahasiswa tanpa ujian agama. Bentham juga berusaha mendorong lahirnya Undang-undang Reformasi yang secara luas memperluas hak pilih parlemen (Kenny, 2007).

Alhasil, Bentham melihat utilitas adalah sumber kebajikan dan keadilan dalam hukum dan politik. Ia juga lebih tertarik kepada reformasi politik dan konstitusi daripada terjebak kepada prosedur hukum. Bentham datang membawa nalar hukum yang kuat di zamannya.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *